Pembangunan SMPN Satu Atap di Kecamatan Pelangiran Jadi Sorotan, Ditemukan Sejumlah Kejanggalan

Ahad, 28 Desember 2025 - 13:08:31 WIB

pembangunan kantor Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri Satu Atap yang terletak di Desa Simpang Kateman, Kecamatan Pelangiran menjadi sorotan publik

INHIL--(KIBLATRIAU.COM)--Kondisi terkini pembangunan kantor Sekolah Menegah Pertama (SMP) Negeri Satu Atap yang terletak di Desa Simpang Kateman,  Kecamatan Pelangiran menjadi sorotan publik. Pasalnya, setelah ditemukannya sejumlah kejanggalan di lapangan, baik dari sisi konstruksi bangunan maupun kejelasan sumber pendanaan.


Kepala SMPN Satu Atap Simpang Kateman saat dikonfirmasi Kiblatriau.com Bu Ipa, menjelaskan bahwa bangunan tersebut difungsikan sebagai kantor sekolah sekaligus tempat penyimpanan peralatan sekolah. Ipa menegaskan bahwa pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh para guru, tanpa melibatkan murid sama sekali.


“Gotong royong guru, pak. Tidak ada melibatkan murid sama sekali. Pembangunan itu dilaksanakan pada tahun 2024,” ujar Bu Ipa kepada Kiblatriau.com Sabtu (27/12/2025).


Bu Ipa juga memaparkan kondisi sekolah saat ini, termasuk jumlah siswa dan tenaga pendidik. Menurutnya, total siswa-siswi SMPN Satu Atap Simpang Kateman berjumlah 137 orang, dengan rincian kelas tujuh 45 siswa, kelas delapan 49 siswa, dan kelas sembilan 46 siswa.


Sementara untuk tenaga pengajar, sekolah tersebut memiliki 2 orang guru PNS, 3 orang guru PPPK, serta 3 orang guru honorer.


Namun, di sisi lain, awak media menemukan kejanggalan pada bangunan kantor tersebut, khususnya pada bagian tiang atau tongkat bangunan yang terlihat menggunakan kayu penyirih, material yang dinilai tidak lazim digunakan untuk konstruksi bangunan fasilitas pendidikan.
Ketika awak media mempertanyakan lebih lanjut terkait penggunaan material kayu penyirih serta sumber dana pembangunan, Bu Ipa enggan memberikan penjelasan lebih lanjut dan memilih tidak menanggapi pertanyaan lanjutan.


Untuk memperdalam informasi, awak media juga menjumpai Kepala Sekolah lama SMPN Satu Atap Simpang Kateman pak Muhtar. Dalam keterangannya, ia mengaku tidak mengetahui adanya pembangunan kantor/gudang sekolah tersebut.


“Saya tidak tahu, pak, terkait bangunan kantor SMPN itu. Memang dulu saya juga kepala sekolahnya, namun karena kondisi kesehatan saya sudah tidak memungkinkan, saya mengajukan permohonan kepada Kadis untuk digantikan. Terlebih saat ini saya memang kurang sehat,” ujar  Muhtar.


Muhtar juga menyampaikan bahwa pada masa kepemimpinannya, jumlah murid di sekolah tersebut mencapai lebih kurang 277 siswa. Ia menambahkan bahwa untuk urusan administrasi dan keuangan sekolah, dirinya telah menyerahkan sepenuhnya kepada operator dan bendahara sekolah.

Untuk mencari pendalaman terkait itu,  awak media juga mewawancarai salah seorang warga Desa Simpang Kateman yang tidak ingin disebutkan namanya.

Warga tersebut mengaku bingung dan heran melihat kondisi bangunan kantor sekolah tersebut.
“Kami sebagai warga sangat bingung melihat bangunan itu pak. Kami tidak tahu sumber dananya dari mana, lalu tongkat bangunannya memakai kayu penyirih,” ujarnya.


Warga berharap agar pihak terkait, khususnya Dinas Pendidikan, dapat turun langsung melakukan pengecekan dan memberikan penjelasan terbuka terkait sumber pendanaan, standar konstruksi, serta kelayakan bangunan yang digunakan sebagai fasilitas pendidikan.


Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun instansi terkait mengenai kejelasan anggaran pembangunan serta alasan penggunaan material bangunan yang dinilai tidak sesuai standar.
Desa Simpang Kateman, Kecamatan Pelangiran tersebut.(Anton).