Kenali Sejarah Keilmuan, STAI Ar Ridho Kunjungi Candi Muara Takus

Selasa, 13 Januari 2026 - 16:43:53 WIB

Ketua STAI Ar Ridho Bagansiapiapi, Dr. Budi Setiawan, M.Pd dan Juru Pelihara Kompleks Candi Muara Takus

BANGKINANG--(KIBLATRIAU.COM)--Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ar Ridho Bagansiapiapi kunjungi Kompleks Candi Muara Takus di Kampar. Kunjungan ini untuk mengenali sejarah keilmuan, di mana candi ini diyakini sebagai kampus Buddha ke-2 di dunia setelah kampus Nalanda India (sekarang berada di Sri Langka).

Kunjungan dilakukan pada Ahad (11/1/2026), melibatkan generasi kampus dan civitas akademika, dipimpin Ketua STAI Ar Rihdo Dr. Budi Setiawan, M.Pd dan pihak yayasan, Yusnimar, SH.

Budi Setiawan menjelaskan, kunjungan ini terutama untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anak generasi kampus, serta civitas akademika dan mengorelasikan keilmuan yang ada, terutama yang berhubungan dengan sejarah Budha hingga bertransisi menjadi kawasan Islam.

Sebagai kampus hijau berkemajuan, STAI Ar Ridho Bagansiapiapi memandang perlu mengingat sejarah kelimuan yang ditorehkan Candi Muara Takus karena diyakini memiliki sejarah keilmuan yang tinggi sesuai sejarah yang ada, menjadi kampus Buddha ke-2 di dunia.

Meski dahulunya kawasan itu menjadi pusat berkembagan keilmuan agama Buddha, transisinya sampai saat ini menjadi kawasan Islam yang kental menjadi atensi sendiri bagi STAI Ar Ridho.

Sementara itu, Juru Pelihara Kompleks Candi Muara Takus, Zulkifli menjelaskan kalau I-Tsing, biksu Buddha Tiongkok (abad ke-7), penulis perjalanan penting yang memperkuat peran Sriwijaya sebagai pusat studi Buddha internasional, diyakini menimba ilmu di Kompleks Candi Muara Takus dan merupakan sebuah kampus saat itu. Kampus ini merupakan kampus ke-2 setelah kampus Nalanda di India (sekarang berada di Sri Langka).

Secara otomatis, pengaruh Buddha saat itu sangat kuat di kawasan itu. Namun, saat ini, seiring masuknya Islam, warga di kawasan itu sudah memeluk Islam. Tradisi yang Buddha yang masih melekat sampai sekarang, Balimau Kasai, yang berarti menyucikan diri, dan dilakukan menjelang masuk Ramadan oleh umat Islam.

Ditambahkan Zulkifli, berdasarkan catatan penulis Belanda, Cornelis de Groot, Kompleks Candi Muara Takus ini ada tujuah candi. Saat ini sudah dibuka untuk umum empat candi, terdiri dari Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai dan Candi Palangka.

Sedangkan tiga candi lagi belum dieksvakasi dan belum dibuka untuk umum, melainkan sedang dalam pemanfaatan penelitian, di mana dari salah satu candi ditemukan arca Ganesha sebagai simbol keilmuan abad ke-7 dan dibawa ke Yogyakarta.

Di tempat itu, sejumlah generasi kampus, Fatih dan kawan-kawan measa senang bisa berkunjung ke kawasan tersebut dan dapat menimba ilmu.***