Lima Hal yang Jadi Penghalang Kesolehan kepada Allah SWT, Inilah Penjelasan Ustadz Fajriansyah
Ustadz Fajriansyah Lc MA Sampaikan Ceramah Agama di Masjid Nurul Muhsinin, Rabu (22/1/2026).
PEKANBARU ---(KIBLATRIAU.COM)--Pada setiap Rabu malam Kamis, pengurus Masjid Nurul Muhsinin yang terletak di Jalan Ikan Mas, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai rutin menggelar wirid pengajian. Untuk kali ini, Rabu (21/1/2026) ustadz yang menyampaikan ceramah agama yakni ustadz Fajriansyah Lc, MA. Sebelum menyampaikan tausiahnya, ustadz Fajriansyah mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Selain itu, tak lupa pula ustadz Fajriansyah bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan banyak berkirim salawat , maka kita akan mendapat safaat di yaumil aknir kelak. Amin ya rabbal alamin.
Dalam ceramah yang disampaikan oleh ustadz Fajriansyah membahas lima hal yang membuat manusia (hamba red) penghalang kesolehan kepada Allah SWT. Dimana ,kata ustadz Fajriansyah perkara tersebut yang sering menjadi problem, sehingga manusia lupa dan tidak taat melakukan semua perintah dan larangan dari Allah SWT. Adapun lima hal atau perkara yang membuat manusia terhalang kesolehannya kepada Allah SWT antara lain , merasa senang dengan kebodohan. tamak dengan dunia, bakhil atau kikir dengan kelebihan harta.. Kemudian beramal disertai riya’ dan selalu merasa bangga diri di atas yang lainnya.
Dipaparkan ustadz Fajriansyah, bahwa hal pertama, merasa senang dengan kebodohan, artinya adalah membiarkan diri bahkan merasa nyaman dengan ketidaktahuan dalam masalah agama. Sebagaimana banyak terjadi pada muslim masa kini di perkotaan yang tiap harinya disibukkan dengan urusan bisnis dan bermacam pekerjaan demi mencapai cita-citanya. Sedangkan masalah ke-islaman cukup dipasrahkan saja kepada para ustadz yang dipanggil ketika dibutuhkan. Entah untuk berdoa, untuk ditanya ataupun sekedar dijadikan teman curhatnya.

Tidak ada dalam dirinya keinginan untuk belajar dengan sungguh-sungguh apa itu Islam dan bagaimana seharusnya menjadi muslim yang baik. Tidak pernah ingin tahu cara shalat dan wudhu yang benar. Mereka sudah puas dengan pengetahuan yang didapatnya dari teman atupun dari tetangga.
"Memang itu tidak salah, tapi semua itu menunjukkan ketidak seriusan keislaman mereka dibandingkan dengan keseriusannya belajar ilmu dunia. Dia tak mau belajar, sehingga ilmunya tentang agama masih kurang," ujar ustadz Fajriansyah.
Dijelaskan ustadz Fajriansyah, kedua, tamak dengan dunia dan ketiga bakhil dengan kelebihan harta. Keduanya merupakan pasangan yang selalu terkait bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Karena siapapun yang tamak dan merasa kurang dengan berbagai kepemilikan hartanya pastilah dia akan berlaku bakhil dan sangat sayang dengan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya.
Dalam kesempaatan lain Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang ketamakan. Beliau berkata yang artinya bahwa mencintai harta adalah sumber segala kecelakaan dan keburukan. Baik keburukan fisik maupun mental. Mari kita bersama-sama berintropeksi diri mengapa diri ini seringkali masuk angin gara-gara terlalu sering di jalan demi mengejar satu pekerjaan. Betapa para pebisnis itu sering kali keluar masuk rumah sakit berganti-ganti penyakit karena komplikasi yang disebabkan kurangnya perhatian dalam mengurus diri dan lebih suka mengejar materi. Meskipun ini bukanlah hukum universal yang dapat diterapkan pada semua orang, tetapi minimal menjadi pelajaan bagi kita yang mengerti. Betapa kecintaan dan ketamakan dunia selalu membawa petaka. Belum lagi petaka mental yang merusak. Kebakhilan ataupun kepelitan merupakan dampak sistemik yang tidak terhindarkan dari ketamakan dunia.

Dan kebakhilan pasti akan menjauhkan seseorang dari Allah SWT, surga dan sesama manusia. Itu artinya kesalehan bagi orang yang bakhil adalah angan-angan belaka. Dan jikalau ada kesolahan di sana pastilah itu hanya kesalehan yang semu. Karena hadits Rasulullah tentang kebakhilan yang menjauhkan seseorang dari Allah SWT dan surga serta manusia sesama adalah hadits Shahih, " ujar ustadz Fajriansyah.
Sambung ustadz Fajriansyah hal yang ke empat riya dalam beramal. Riya’ adalah pamer yaitu melakukan satu amal ibadah (agama) dengan maksud mendapatkan pujian dari manusia. Atau dengan bahasa yang agak kasar riya dapat juga dikatakan dengan mengharapkan nilai dunia dengan pekerjaan akhirat. Rasulullah SAW menegaskan bahwa riya termasuk dalam kategori syirik kecil (as-syirikul asyghar) dalam salah satu sabdanya “sesungguhnya sesuatu yang sangat saya khawatirkan atas dirimu adalah syirik kecil, yaitu riya” (HR.Ahmad).
Disebut demikian karena perwujudan riya yang sangat halus dan tidak kentara. Adanya hanya dalam hati. Tidak ketahuan di dalam tindakan diri. Para sufi mengibaratkan halusnya riya seperti semut hitam yang merayap di atas batu keras warna hitam di tengah pekat malam. Begitu halusnya riya hingga seringkali mereka yang terjangkit penyakit ini seringkali tidak sadar.
" Dan yang kelima adalah ujub atau membanggakan diri. Yaitu merasa diri paling sempurna dibandingkan dengan yang lain. Ketidakbolehan perasaan ujub ini dikhawatirkan pada lahirnya kesombongan, dan kesombongan itu sendiri merupakan sifat Allah SWT yang tidak boleh ada dalam diri manusia.
Oleh sebab itu, untuk menghindari lima perkara itu, maka kita harus sadar dan taat dalam melakukan semua kebaikan yang diperintah Allah SWT Dengan begitu, kita insyaallah akan terhindar dari lima hal yang membuat kesolehan kita terhalang," papar ustadz Fajriansyah.
Pada kesempatan ini, ustadz Fajriansyah menambahkan jika ingin dicintai oleh Allah SWT, maka harus mengikuti dan menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW. "Taat dan ikutilah apa yang dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu, Allah SWT akan mencintai kita,," jelas ustadz Fajriansyah.
Terakhir ustadz Fahriansyah menerangkan. bagaimana Allah SWT mencintai manusia (kita red). Salah satunya dengan menghapus dosa yang telah dilakukan."Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada kita untuk melakukan kebaikan. Oleh sebab itu, marilah kita takut dan sadar, sehingga semua amal kebaikan yang kita lakukan dibalas oleh Allah SWT dan dimasukkan ke dalam surganya nanti, " tutur ustadz Fajriansyah.**