Google Soroti Tantangan dan Peluang Media di Indonesia, Perkuat Ekosistem Jurnalisme
Forum GNI Update, yang digelar pada 8 Februari 2026 di Aston Serang, Banten.
BANTEN---(KIBLATRIAU.COM)-- Google News Initiative (GNI) kembali menegaskan komitmennya dalam
memperkuat ekosistem jurnalisme berkualitas di Indonesia, melalui forum GNI Update, yang digelar pada 8 Februari 2026 di Aston Serang, Banten. Kegiatan ini menjadi ajang pemaparan perkembangan terbaru sekaligus investasi strategis Google bagi media di Tanah Air.
Forum dengan tajuk GNI Update: Untuk Ekosistem Berita Berdaya di Indonesia itu dihadiri oleh
pemangku kepentingan utama dalam ekosistem pers, termasuk pemerintah, Dewan Pers, serta mitra media.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, melontarkan sebuah
pertanyaan untuk memantik diskusi, saat membuka GNI Update. “Apakah jurnalisme masih
relevan di tengah gempuran media sosial dan Kecerdasan Buatan (AI)?”
Menurut dia, jurnalisme itu penting dan memang harus ada manusia yang melakukannya.
“Kenapa?” pertanyaan Nezar selanjutnya. Keberadaan mesin pencari, media sosial dan AI membuat informasi mudah didapat. Alhasil,
banyak konten sintetis yang membanjiri banyak platform media sosial, juga lanskap industri
komunikasi. Lalu, bagaimana kita bisa membuktikan informasi itu otentik atau sekadar rekayasa
atau hoaks.
“Karena konten yang sintetis itu sekarang sudah hampir mirip. Bukan sudah hampir ya, sangat
mirip dengan aslinya. Kita sulit membedakan,” kata Nezar.
“Di tengah hal yang demikian, yang maju itu, kita merindukan jurnalisme. Kenapa? Karena
jurnalisme punya satu disiplin yang kita sebut dengan disiplin verifikasi. Saya kira ini yang apa ya,
ketaatan, disiplin dengan verifikasi. Ini yang mungkin pada satu saat ChatGPT bisa melakukannya
atau mesin-mesin kecerdasan buatan, generatif AI bisa melakukannya. Namun demikian, saya
yakin verifikasi yang mendalam dan otentik itu tetap membutuhkan yang namanya manusia,” dia
menjelaskan.
Oleh karena itu, pers pun harus kreatif dan inovatif. Salah satunya, tidak boleh menurunkan
kualitas konten/produk jurnalisme. Pers tidak boleh ikut-ikutan latah membuat judul clickbait
misalnya.
“Tetap dijaga kualitas kontennya. Karena itu adalah core dari jurnalisme,” kata Nezar.
Ketua Dewan Pers Republik Indonesia, Prof Komaruddin Hidayat, mengungkit soal penyebaran
informasi sangat cepat pada zaman ini. Walaupun, kata dia, terkadang “terasa” sama, lantaran
sumbernya sama. Layanan informasi dari mesin pencari seperti
Sehingga, lanjut dia, ada berapa wartawan yang bekerja keras melakukan investigative report,
eksklusif, tapi kemudian begitu masuk ke Google, orang lain dengan mudahnya meng-copy-paste.
Oleh karena itu, lanjut dia, publisher right menjadi penting. Jika tidak, akan menurunkan semangat
jurnalis untuk melakukan investigative report.
“Karena dia capek-capek kerja, tidak ada insentifnya, dan tidak ada royaltinya, dan ini negatif.
Positifnya jangan tanya lah, saya hanya memberi catatan hal-hal yang ke depan perlu kerja sama
yang baik, perlu dibicarakan bersama antara Pers dan Google, di samping UKW saya senang
sekali, tapi juga ada beberapa agenda kerjasama yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Salah
satunya, kemungkinan bagaimana publisher right itu bisa dibicarakan, sehingga ada win-win
solution bersama-sama, dan kemudian juga beberapa kerja sama yang lain,” ujar Komarudin
dalam pidato utama di Forum GNI Update, Ahad (8/2/2026).
“Sehingga Google tetap berkembang, tapi dunia pers juga berkembang, riset keiluman juga
berkembang, kerja sama ini perlu kita cepatkan bersama,” sambung dia.
Sementara, Head of News Partnerships Southeast Asia, Adeel Farhan, memaparkan visi regional
GNI di Asia Tenggara. Ia menyoroti komitmen jangka panjang Google dalam mendukung inovasi
media melalui program-program yang disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk Indonesia. Sesi
dilanjutkan dengan paparan News Partner Manager Southeast Asia, Yos Kusuma, yang mengulas
berbagai kemitraan strategis GNI di Indonesia.
Acara juga diisi dengan dua sesi diskusi panel yang menghadirkan alumni Project Sigma Indonesia
dan Revenue Growth Lab Indonesia. Dua program GNI terbaru di Indonesia. Para panelis berbagi
pengalaman transformasi digital, khususnya dalam menjangkau audiens Generasi Z serta
mengembangkan strategi monetisasi berbasis data dan eksperimen nyata.
Ada enam panelis dalam dua sesi diskusi tersebut, yakni Kepala Pemasaran Pertumbuhan dan
CRM di TEMPO, Erwin Daniel; Manajer Digital di Kompas TV, Haris Mahardiansyah; Managing
Editor di GoodStats, Iip Muhammad Aditiya; Kepala Pengembangan Produk di Indozone, Chrisna
Samuel; Produser & Host di Liputan6, Ratu Annisaa Suryasumirat (Tentatif); Priskila Ifke Goni dan
Arif Ahmadsyah dari Anymind, Mitra Pelaksana untuk Proyek Sigma Indonesia dan Revenue
Growth Lab Indonesia.
Project Sigma Indonesia merupakan program intensif 10 minggu yang berfokus pada inovasi
format dan pemanfaatan data untuk meningkatkan keterlibatan audiens muda. Sementara itu,
Revenue Growth Lab Indonesia dirancang selama delapan minggu untuk membantu penerbit
memperkuat keberlanjutan digital melalui optimalisasi periklanan dan pengelolaan pendapatan
pembaca.
Melalui GNI Update, Google berharap dapat memperkuat hubungan antara perusahaan teknologi,
regulator, dan industri media, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru demi terciptanya
ekosistem informasi digital yang sehat dan berdaya di Indonesia.***