Google Soroti Tantangan dan Peluang Media di Indonesia, Perkuat Ekosistem Jurnalisme

Senin, 09 Februari 2026 - 19:55:05 WIB

Forum GNI Update, yang digelar pada 8 Februari 2026 di Aston Serang, Banten.

BANTEN---(KIBLATRIAU.COM)-- Google News Initiative (GNI) kembali menegaskan komitmennya dalam 
memperkuat ekosistem jurnalisme berkualitas di Indonesia, melalui forum GNI Update, yang  digelar pada 8 Februari 2026 di Aston Serang, Banten. Kegiatan ini menjadi ajang pemaparan  perkembangan terbaru sekaligus investasi strategis Google bagi media di Tanah Air.


Forum dengan tajuk GNI Update: Untuk Ekosistem Berita Berdaya di Indonesia itu dihadiri oleh 
pemangku kepentingan utama dalam ekosistem pers, termasuk pemerintah, Dewan Pers, serta  mitra media.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Nezar Patria, melontarkan sebuah 
pertanyaan untuk memantik diskusi, saat membuka GNI Update. “Apakah jurnalisme masih 
relevan di tengah gempuran media sosial dan Kecerdasan Buatan (AI)?” 
Menurut dia, jurnalisme itu penting dan memang harus ada manusia yang melakukannya. 
“Kenapa?” pertanyaan Nezar selanjutnya.  Keberadaan mesin pencari, media sosial dan AI membuat informasi mudah didapat. Alhasil, 
banyak konten sintetis yang membanjiri banyak platform media sosial, juga lanskap industri 
komunikasi. Lalu, bagaimana kita bisa membuktikan informasi itu otentik atau sekadar rekayasa 
atau hoaks.


“Karena konten yang sintetis itu sekarang sudah hampir mirip. Bukan sudah hampir ya, sangat 
mirip dengan aslinya. Kita sulit membedakan,” kata Nezar. 
“Di tengah hal yang demikian, yang maju itu, kita merindukan jurnalisme. Kenapa? Karena 
jurnalisme punya satu disiplin yang kita sebut dengan disiplin verifikasi. Saya kira ini yang apa ya, 
ketaatan, disiplin dengan verifikasi. Ini yang mungkin pada satu saat ChatGPT bisa melakukannya 
atau mesin-mesin kecerdasan buatan, generatif AI bisa melakukannya. Namun demikian, saya 
yakin verifikasi yang mendalam dan otentik itu tetap membutuhkan yang namanya manusia,” dia 
menjelaskan.

Oleh karena itu, pers pun harus kreatif dan inovatif. Salah satunya, tidak boleh menurunkan 
kualitas konten/produk jurnalisme. Pers tidak boleh ikut-ikutan latah membuat judul clickbait 
misalnya.


“Tetap dijaga kualitas kontennya. Karena itu adalah core dari jurnalisme,” kata Nezar. 
Ketua Dewan Pers Republik Indonesia, Prof Komaruddin Hidayat, mengungkit soal penyebaran 
informasi sangat cepat pada zaman ini. Walaupun, kata dia, terkadang “terasa” sama, lantaran 
sumbernya sama. Layanan informasi dari mesin pencari seperti


Sehingga, lanjut dia, ada berapa wartawan yang bekerja keras melakukan investigative report, 
eksklusif, tapi kemudian begitu masuk ke Google, orang lain dengan mudahnya meng-copy-paste.


Oleh karena itu, lanjut dia, publisher right menjadi penting. Jika tidak, akan menurunkan semangat 
jurnalis untuk melakukan investigative report.


“Karena dia capek-capek kerja, tidak ada insentifnya, dan tidak ada royaltinya, dan ini negatif. 
Positifnya jangan tanya lah, saya hanya memberi catatan hal-hal yang ke depan perlu kerja sama 
yang baik, perlu dibicarakan bersama antara Pers dan Google, di samping UKW saya senang 
sekali, tapi juga ada beberapa agenda kerjasama yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Salah 
satunya, kemungkinan bagaimana publisher right itu bisa dibicarakan, sehingga ada win-win 
solution bersama-sama, dan kemudian juga beberapa kerja sama yang lain,” ujar Komarudin 
dalam pidato utama di Forum GNI Update, Ahad (8/2/2026). 
“Sehingga Google tetap berkembang, tapi dunia pers juga berkembang, riset keiluman juga 
berkembang, kerja sama ini perlu kita cepatkan bersama,” sambung dia.


Sementara, Head of News Partnerships Southeast Asia, Adeel Farhan, memaparkan visi regional 
GNI di Asia Tenggara. Ia menyoroti komitmen jangka panjang Google dalam mendukung inovasi 
media melalui program-program yang disesuaikan dengan konteks lokal, termasuk Indonesia. Sesi 
dilanjutkan dengan paparan News Partner Manager Southeast Asia, Yos Kusuma, yang mengulas 
berbagai kemitraan strategis GNI di Indonesia.


Acara juga diisi dengan dua sesi diskusi panel yang menghadirkan alumni Project Sigma Indonesia 
dan Revenue Growth Lab Indonesia. Dua program GNI terbaru di Indonesia. Para panelis berbagi 
pengalaman transformasi digital, khususnya dalam menjangkau audiens Generasi Z serta 
mengembangkan strategi monetisasi berbasis data dan eksperimen nyata. 
Ada enam panelis dalam dua sesi diskusi tersebut, yakni Kepala Pemasaran Pertumbuhan dan 
CRM di TEMPO, Erwin Daniel; Manajer Digital di Kompas TV, Haris Mahardiansyah; Managing 
Editor di GoodStats, Iip Muhammad Aditiya; Kepala Pengembangan Produk di Indozone, Chrisna 
Samuel; Produser & Host di Liputan6, Ratu Annisaa Suryasumirat (Tentatif); Priskila Ifke Goni dan 
Arif Ahmadsyah dari Anymind, Mitra Pelaksana untuk Proyek Sigma Indonesia dan Revenue 
Growth Lab Indonesia. 
Project Sigma Indonesia merupakan program intensif 10 minggu yang berfokus pada inovasi 
format dan pemanfaatan data untuk meningkatkan keterlibatan audiens muda. Sementara itu, 
Revenue Growth Lab Indonesia dirancang selama delapan minggu untuk membantu penerbit 
memperkuat keberlanjutan digital melalui optimalisasi periklanan dan pengelolaan pendapatan 
pembaca.


Melalui GNI Update, Google berharap dapat memperkuat hubungan antara perusahaan teknologi, 
regulator, dan industri media, sekaligus membuka peluang kolaborasi baru demi terciptanya 
ekosistem informasi digital yang sehat dan berdaya di Indonesia.***