Nasehat Umar Bin Khattab dalam Kitab Nashaa-ihul Ibad, Apa Bunyinya? Simak Penjelasan Ustadz Dr H Maghfiroh MA
Ustadz Dr H Maghfiroh MA sampaikan ceramah agama usai sholat subuh di Masjid Nurul Ahad (22/2/2026)
PEKANBARU--(KIBLATRIAU,COM)-- Tampak jamaah masih ramai yang hadir untuk melaksanakan sholat subuh berjamah di Masjid Nurul Muhsinin yang berada di Jalan Ikan Mas, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai . Memasuki hari ke empat bulan puasa ramadhan ini, ustadz yang menyampaikan kajian usai sholat subuh yakni ustadz Dr H Maghfiroh MA, Ahad (22/2/2026). Sebelum menyampaikan kajian, ustadz Dr H Maghfiroh MA pertama-tama mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan, kesempatan serta keberkahan, sehingga bersama-sama untuk datang ke masjid untuk mengikuti majelis ilmu pada subuh ini. Terlebih saat ini merupakan bulan ramadhan yang memiliki keberkahan
dan bulan ampunan.Selain itu, tidak lupa ustadz Dr H Maghfiroh MA, berkirim salawat kepada Nabi Muhammad SAW, karena dengan banyak bersalawat nantinya akan diberikan safaat dan diakui sebagai umatnya di yaumil akhir kelak. Amin ya rabbal alamin.

Ustadz Dr H Maghfiroh MA menerangkan tentang kitab Nashaa-ihul Ibad. Dimana kata ustadz Dr H Maghfiroh MA bahwa Kitab Nashaa-ihul Ibad secara bahasa bermakna "Nasehat-nasehat bagi para Hamba". Kitab karya Syekh Nawawi al-Bantani ini berfokus pada bidang tasawuf, akhlak dan penyucian jiwa bagi manusia.''Sebagai manusia kita harus bisa saling menasehati untuk hal kebaikan. Karena agama kita islam selalu mengajarkan bahwa menasehati dilakukan bagi setiap manusia. Intinya, menasehati orang dengan kesabaran dan kebaikan. Jangan kita menasehati orang dengan cara yang kasar, sehingga orang yang kita nasehati menjadi marah. Bahkan, dalam alquran juga menjelaskan bahwa marilah kita saling menasehati antara satu dengan yang lainnya untuk kebaikan,'' ujar ustadz Dr H Maghfiroh MA di hadapan jamaah yang hadir.

Pada kesempatan ini, ustadz Dr H Maghfiroh MA menjelaskan ada pesan atau nasehat yang disampaikan oleh Umar Bin Khattab yang ditulis oleh Syekh Nawawi al-Bantani .Dalam nasehat yang disampaikan itu berbunyi bersimpati dan berempati kepada manusia maupun para sahabat waktu itu, Ada dua maknanya bersimpati dan berempati adalah dua sikap kepedulian sosial yang berbeda tingkatannya, namun keduanya penting dalam hubungan antar manusia. ''Secara umum, simpati adalah rasa iba atau peduli. Sedangkan empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain. Simpati adalah sikap peduli dan rasa iba atas kondisi atau nasib buruk yang menimpa orang lain. Maknanya seseorang ikut sedih atau prihatin, namun tetap menempatkan jarak emosional. Kita tahu mereka menderita, tapi tidak ikut merasakan kesedihan tersebut secara mendalam. Karena jika kita peduli dan empati kepada orang lain, maka kita akan layak menjadi manusia sesunguhnya,'' terang ustadz Dr H Maghfiroh MA.

Ditambahkan ustadz Dr H Maghfiroh MA bahwa empati adalah kemampuan untuk mengenali, memahami dan berbagi emosi atau perasaan orang lain seolah-olah kita berada di posisi mereka. ''Empati membuat seseorang mampu membayangkan diri dalam situasi orang lain. Dan selalu memahami "mengapa" mereka merasa demikian, dan sering kali mendorong tindakan nyata untuk membantu. Contohnya mendengarkan teman yang sedang bercerita dengan tulus tanpa menghakimi, serta ikut merasakan kesedihan atau beban mereka. Oleh sebab itu, sifat dari simpati dan empati kepada orang lain perlu ditingkatkan dalam diri kita.
Terlebih lagi, di momen bulan ramadhan ini, kita selalu melakukan hal-hal kebaikan dan peduli terhadap sesama kita. Dimana, kita tahu, pada bulan ramadhan ini, bulan yang sangat istimewa, kemuliaan , keberkahan dan penuh ampunan, Oleh sebab itu, jangan sia-siakan kesempatan ini untuk melakukan amal ibadah dan meminta ampun kepada Allah SWT, sehingga kita mendapatkan keberkahan dan keridoaan dari Allah SWT,'' tutur ustadz Dr H Maghfiroh MA. ***