Kakan Kemenag Riau: Ekoteologi Ramadan, Wujud Nyata Keimanan dalam Kepedulian Sosial
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr Muliardi saat menyampaikan tausiah di Masjid Raya An Nur kemarin
PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)-- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr Muliardi menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, namun melainkan sarana pembinaan diri untuk menumbuhkan kesadaran sebagai khalifah fil ardhi, yakni pemimpin di muka bumi yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk menjaga dan melestarikan alam semesta. Hal tersebut disampaikan saat tausiyah ramadan di Masjid Raya An Nur, Pekanbaru dengan tema “Ekoteologi Ramadan: Iman yang Menjaga Lingkungan dan Sosial”
“Di bulan Ramadan, kita bukan hanya dilatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih diri menjadi pribadi yang memiliki kesadaran sebagai khalifah di bumi, yang diberi amanah untuk menjaga dan melestarikan alam,” ungkap Muliardi, Ahad (22/2/2026). Muliardi menambahkan, nilai ibadah puasa harus tercermin dalam sikap dan perilaku yang membawa kemaslahatan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.'Kita harus mampu menghadirkan kemaslahatan bagi diri dan lingkungan. Jangan sampai merusak bumi yang telah Allah SWT ciptakan dengan begitu sempurna,'' sebutnya.
Menurutnya, pesan tersebut selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah SWT memperbaikinya. Lebih lanjut, Muliardi menjelaskan bahwa puasa mengajarkan pola hidup sederhana, pengendalian hawa nafsu, serta menjauhi sikap boros dan mubazir.''Ketika kita mengurangi konsumsi yang tidak perlu, menghindari pemborosan makanan saat sahur dan berbuka, serta menggunakan air dan energi secara bijak, sejatinya kita sedang mengamalkan nilai puasa dalam bentuk kepedulian ekologis,'' paparnya.
Ia juga menyinggung berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini sebagai pengingat bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah dan amanah bersama. Penebangan liar, pembuangan sampah sembarangan, serta pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem, menurutnya, menjadi faktor penyebab banjir dan longsor. ''Momentum Ramadan mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Puasa mengajarkan kita menahan diri dari segala tindakan yang merugikan, termasuk merusak alam. Mari mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan menanam pohon demi menjaga keseimbangan alam,'' tuturnya. Melalui tausiyah tersebut, diharapkan nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi juga terimplementasi dalam kepedulian sosial dan ekologis sebagai wujud nyata keimanan.***