Keimanan, Puasa dan Taqwa Jadi Pesan Utama Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid As Salam
Ustadz Masyhuri, Lc., MA.saat menyampaikan ceramah agama, Sabtu (22/3/2026)
Laporan: Rizki Kurniawan
Pekanbaru
SUASANA khidmat menyelimuti pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang bertepatan pada Sabtu, 21 Maret 2026 di Masjid As Salam, Jalan Tripang, Kelurahan Tangkerang Barat, Kota Pekanbaru. Ratusan jamaah memadati area masjid sejak pagi hari untuk menunaikan ibadah sekaligus mendengarkan khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Masyhuri, Lc., MA.
Dalam khutbahnya, Ustadz Masyhuri menekankan tiga kata kunci utama yang menjadi esensi Ramadhan dan Idul Fitri, yakni keimanan, puasa, dan taqwa. Ia menyampaikan bahwa keimanan merupakan pondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Keimanan, menurutnya, bukan hanya sekadar keyakinan, tetapi menjadi bekal hidup yang menghadirkan ketenangan hati serta petunjuk dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Orang yang beriman akan merasakan ketenangan dalam hatinya, karena ia memiliki pegangan yang jelas dalam hidup,” ujarnya di hadapan jamaah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ibadah puasa selama bulan Ramadhan merupakan bentuk pembuktian dari keimanan tersebut. Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih konsistensi (istiqomah) dalam ketaatan kepada Allah SWT. Meskipun terasa berat, setiap ibadah yang dijalankan diyakini memiliki dampak baik, baik bagi diri sendiri maupun keluarga.
“Puasa adalah bukti nyata keimanan kita. Tidak ada satu pun ibadah yang tidak membawa kebaikan,” tambahnya.
Dari keimanan dan puasa tersebut, lanjutnya, akan melahirkan pribadi yang bertaqwa. Taqwa menjadi tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah yang dijalankan selama Ramadhan. Ia menegaskan bahwa sebaik-baik bekal kehidupan, terutama untuk akhirat, adalah keimanan dan taqwa.
Selain itu, Ustadz Masyhuri juga mengingatkan bahwa ganjaran dari keimanan dan ketaqwaan tidak hanya dirasakan di akhirat, tetapi juga di dunia. Allah SWT, katanya, menjanjikan kemudahan dalam berbagai urusan kehidupan, terlebih di tengah kondisi zaman yang penuh tantangan dan ketidakpastian.
“Allah SWT akan memberikan jalan keluar dan kemudahan dalam setiap persoalan, serta rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa rezeki tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga bisa berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, anak-anak yang berbakti, serta kehidupan yang penuh keberkahan.
Mengakhiri khutbahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan ibadah selama Ramadhan sebagai titik awal untuk terus meningkatkan kualitas ibadah di luar bulan suci. Semangat beribadah diharapkan tidak berhenti, melainkan terus berlanjut sebagai cerminan pribadi yang bertaqwa.
Momentum Idul Fitri, bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang menjaga nilai-nilai yang telah dibangun selama ramadhan agar tetap hidup dalam keseharian, sehingga lebih dekat dengan Allah SWT.***