Rasa Syukur sebagai Rahasia Kebahagiaan Sejati
Ustadz Wandi Bustami Lc MA
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MA
SECARA bahasa bahagia dikenal dengan istilah sa’adah (السَّعَادَةُ).Namun, dalam artian yang lebih luas kata ini tidak sekedar bermakna bahagia, tapi keberuntungan, ketenangan, kedamaian, ketentraman, kegembiraan, dan kepuasan lahir batin. Lawan kata sa’adah ialah syaqawah (الشَّقَاوَةُ) yang dipahami sebagai kesengsaraan, kecelakaan dan kehancuran. Secara terminologi bahagia diartikan dengan suasana batin yang dihiasi ketentraman, ketenangan dan kegembiraan jiwa raga. Dalam pengertian ini orang yang bahagia ialah orang yang lapang jiwa raganya tanpa tersentuh rasa sedih, gelisah dan galau.
Untuk mewujudkan sebuah kebahagiaan ragam cara yang ditempuh manusia. Sebagian memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi seperti mengoleksi barang-barang mewah, wisata kuliner, traveling (jalan-jalan) keliling dunia, atau sesuatu yang dapat memuaskan hawa nafsu. Bagi kelompok ini, bahagia sekedar memenuhi hasrat lahiriah, selain itu tidak termasuk kebahagiaan. Bila demikian, maka pemahaman seperti ini sangat sempit. Sebab manusia bukan hanya seonggok daging yang terlihat secara kasat mata, tetapi ada sisi-sisi lain yang bersifat metafisik. Betapa orang yang sehat badan dan aman jiwa raganya sudah masuk kategori orang bahagia.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Barang siapa di pagi hari merasa aman, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia dikumpulkan untuknya. (HR. Tirmizi)
Sejatinya kebahagiaan itu bersumber dari iman. Ada orang yang bahagia kala mengeluarkan uang ratusan demi menolong orang lain. Hari ini berbagai media sosial memberitakan bahwa sebagian besar kaum muslimin berduyun-duyun mengulurkan bantuan kepada rakyat Aceh Tamiang, Sumatera Utara dan Sumatera Barat terselip rasa bahagia saat terpancar senyum dari anak-anak yang tertimpa bencana. Bahkan orang-orang seperti ini hidup dalam kemewahan, wisata kuliner ke mancanegara, dan menjelajahi situs-situs bersejarah justru tidak membuatnya sebahagia. Sebab bagi mereka kepuasan batin adalah yang utama.
Ali bin Abi Thalib rahimahullah berkata:
الْغِنَى فِي الْقَلْبِ، لَا فِي الْمَالِ
kekayaan itu di hati, bukan pada harta.
Ya, sungguh benar apa yang dikatakan Ali bin Thalib di atas, bahwa sejatinya kaya itu bukan pada harta namun hati. Kekayaan hati ini tidak didapat kecuali dengan saling berbagi.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati. (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, ada orang-orang yang mencapai puncak kebahagiaan kala merendahkan diri di hadapan Tuhannya. Di sepertiga malam ketika manusia terlelap dalam tidur, justru ia memaksa untuk bangun lalu beribadah hingga matahari menyingsing. Rasa lelah, penat dan capek yang dilalui ternyata menghantarkan pada tingkat kebahagiaan yang tak dapat diukur dengan materi. Kenikmatan itu tidak akan pernah dicicipi oleh orang-orang yang orientasinya duniawi. Menciptakan keadaan batin penuh ketenangan tidak luput dari peran iman. Dengan iman yang kuat rasa letih bertransformasi menjadi sebuah kebahagiaan.
Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik. (QS. An-Nahl: 97).
Makna ayat bahwa yang dimaksud hayatan thayyibatan ialah kehidupan yang penuh ketenangan, rasa cukup, dan kebahagiaan hati, meskipun materi tidak berlebihan. Di sini kita melihat bahwa merasa selalu cukup merupakan di antara bentuk wujud syukur dalam kehidupan. Para salafussaleh pasrah dan rida dengan apa mereka peroleh. Karena bagi mereka bahagia itu sangat sederhana, menerima sesuatu yang ditetapkan Allah SWT
Imam Al-Qurthubi memahami makna hayatan thayyibatan bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan hidup yang diiringi ketentraman jiwa, kesabaran saat susah, dan syukur kala lapang. Ini menunjukkan di mana sekalipun seseorang ditimpa musibah tetap merasakan bahagia, sebab hatinya hanya bergantung pada Allah SWT
Rasulullah saw bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, semua urusannya baik baginya, jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan bila ditimpa musibah bersabar, maka itu pun baik untuknya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, mensyukuri apa yang diberi merupakan bentuk sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apapun. Belum tentu orang yang hidup bergelimang harta hidup dalam kebahagiaan bila tidak pandai bersyukur. Oleh sebab itu, semakin besar rasa syukur yang terpancar dari diri maka semakin besar pula rasa bahagia yang didapat. Dengan demikian, Allah SWT pasti akan menambah rasa bahagia di atas kebahagiaan yang sudah ada.
Allah SWT berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. (QS. Ibrahim: 7)
Salah satu tafsiran para ulama tentang tambahan nikmat ialah kebahagian. Oleh karena syukur kunci meraih kebahagiaan hakiki. Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa syukur ialah merespon atas nikmat-nikmat yang Allah SWT turunkan dengan cara mengaplikasikan dalam kehidupan. Karena dengannya akan ditambah kenikmatan yang lebih besar lagi. Begitu juga dengan sebaliknya, bila tidak pandai menyikapi apa diberikan maka itu bentuk sikap orang yang yang tidak pandai mengekspresikan sebuah kebahagiaan.
Ibnu Atha’illah As-Sakandari rahimahullah berkata:
مَتَى أَطْلَقَ لِسَانَكَ بِالشُّكْرِ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ أَرَادَ أَنْ يُعْطِيَكَ
Ketika Allah SWT menggerakkan lisanmu untuk bersyukur, ketahuilah bahwa Dia hendak memberimu nikmat.
Ungkapan ini sungguh memiliki makna yang dalam, di mana orang-orang yang bersyukur atas nikmat yang telah diberi asbab terbukanya pintu kebahagiaan. Maka oleh karenanya, rahasia sebuah sa’adah tak dapat dilepaskan dari rasa syukur yang mendalam. Dengan demikian, tidak ada jalan tepat untuk meraih kebahagiaan yang sejati kecuali tepat dalam mengekspresikan rasa syukur.***