Sabar adalah Tangga Menuju Kemuliaan
Ustadz Wandi Bustami Lc MA
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MA
DALAM bahasa sabar terambil dari kata as-shabru yang bermakna habasa nafsahu ‘anhu (menahan diri). Menurut Raghib al-Ashfahani sabar ialah al-imsak fi ad-dhoiq (menahan diri dalam keadaan sempit). Menahan yang dimaksud ialah mengendalikan diri dari perbuatan-perbuatan haram dan istikamah di atas ketaatan.
Sabar termasuk salah satu maqām (kedudukan spiritual) tertinggi dalam Islam. Ia tidak sekadar kemampuan menahan emosi, akan tetapi mengendalikan kekuatan jiwa untuk tetap berada di jalur yang Allah SWT ridhai. Para nabi dan rasul telah mencontohkan sifat mulia ini, dengannya mereka berhasil menjadi manusia-manusia unggul dan istimewa.
Sabar merupakan fondasi iman. Semakin besar kesabaran seseorang bermakna semakin kuat imannya. Ibarat sebuah bangunan, iman bagai sebuah tiang, lantai dan dinding di mana elemen-elemen ini tidak akan mampu tegak dengan baik bila tidak ditopang fondasi yang kokoh. Dalam menjalani kehidupan tentu banyak hal-hal yang dapat mengguncang iman, seperti diuji dengan sakit, kekurangan makanan dan minuman, rasa takut yang berlebihan dan hal-hal yang dapat mengguncang jiwa. Maka oleh karena itu, sabar dan iman saling menguatkan satu sama lain.
Sabar umpama tameng yang dapat melindungi dari ancaman. Dengan demikian Allah SWT perintahkan hamba-Nya untuk menjadikan sabar sebagai tameng kesabaran.
Allah SWT berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ}
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 153)
Pengertian kalimat “sabar dan shalat sebagai penolong” ialah suatu kewajiban bagi seorang muslim minta kepada Allah SWT agar urusan akhiratnya dimudahkan dan istikamah dalam ketaatan saat menghadapi berbagai macam musibah. Sabar itu sendiri memiliki tiga tingkatan yaitu: Sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam ketaatan dan sabar dalam kemaksiatan.
Adapun maksud sabar yang pertama ialah memunculkan sikap sabar dan ridha sembari terus berdoa agar setiap musibah yang dihadapi menjadi penggugur dosa, dan menjauhkan buruk sangka serta ucapan-ucapan yang dapat menggiring kepada perbuatan yang dapat mengundang murka Allah SWT
Adapun sabar yang kedua lebih kepada usaha untuk tetap istiqomah, karena terkadang dalam menjalani ibadah acapkali muncul bisikan-bisikan halus yang dapat melemahkan semangat. Sementara sabar yang terakhir bukan bermakna konsisten dalam kubangan dosa, tapi justeru sabar saat mencegah pelaku maksiat sembari menyadarkan mereka agar kembali ke jalan yang benar.
Ibnu Katsir menegaskan bahwa Allah SWT memerintahkan kaum mukminin menghadapi ujian hidup dengan dua kekuatan besar yaitu sabar: kekuatan batin dan shalat: kekuatan spiritual. Ia menyebutkan bahwa Nabi SAW apabila menghadapi kesulitan, beliau segera menunaikan shalat dan bersikap sabar. Hal ini menunjukkan bahwa shalat dan sabar adalah sarana nyata untuk memperoleh pertolongan Allah SWT.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa sabar adalah kekuatan batin yang menundukkan hawa nafsu dan menjaga iman dari kerusakan. Dengan sabar, seorang mukmin mampu mengalahkan dorongan duniawi dan meneguhkan orientasi akhirat.
Kebersamaan Allah (ma‘iyyah) dengan orang-orang yang sabar merupakan bentuk kemuliaan tertinggi, karena siapa yang bersama Allah SWT tidak akan hina meskipun diuji. Ali bin Abi Thalib berkata:
الصَّبْرُ مِنَ الإِيْمَانِ بِمَنْزِلَةٍ الرَّأْسٍ مِنَ الجَسَدِ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ بَادَ الجَسَدُ
Sabar terhadap iman seperti kepala terhadap tubuh. Jika kepala terputus, maka binasalah tubuh.
Ungkapan di atas menunjukkan bahwa sifat sabar sangat penting seperti kedudukan kepala pada badan. Tiada bermakna seluruh anggota tubuh tanpa kepala. Ini juga mengajarkan bahwa sabar memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Di samping itu Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa sabar adalah kunci kebaikan yang luas.
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ
Tidaklah seseorang diberi anugerah yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR. Bukhari dan Muslim)
Keluasan sifat sabar tidak bertepi, ia mesti hadir di setiap sendi-sendi kehidupan yang paling dalam. Kala ditimpa musibah seperti sakit, kematian dan perkara-perkara lain yang tidak disukai harus disikapi dengan sabar, atau saat diberi rezeki yang melimpah, badan yang selalu sehat wal afiat serta kebutuhan senantiasa terpenuhi juga dihadapi dengan sabar. Maka dengan demikian, kesabaran semacam ini menjadi tangga untuk menaikkan derajat.
Umar bin Khattab berkata:
وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ
“Kami mendapati kehidupan terbaik kami dengan kesabaran.”
Sabar menjadi asbab diangkatnya derajat seorang hamba di sisi Allah. Darinya banyak pelajaran-pelajaran mulia yang lahir dari sifat mulia ini. Kesabaran seseorang akan tampak dari sikap saat menerima ketetapan Allah swt. Biasanya orang-orang yang sabar lebih tulus dan pandai.
Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. az-Zumar (39): 10)
Menurut Imam ath-Thabari rahimahullah ayat ini menunjukkan kemuliaan khusus bagi orang-orang yang sabar, karena pahala mereka tidak ditakar sebagaimana amal lainnya, tetapi dilimpahkan tanpa batasan.
Dengan demikian, sabar bukanlah sikap pasrah yang melemahkan, melainkan kekuatan batin yang mengantarkan seorang hamba menuju kemuliaan iman, keluhuran akhlak, dan derajat tinggi di sisi Allah SWT. Setiap ujian yang dihadapi dengan sabar sejatinya adalah anak tangga yang mendekatkan seorang mukmin kepada keridaan dan kemuliaan-Nya.***