Orang Pertama Naik Haji di Indonesia, Ternyata Bukan Ulama

Ahad, 05 April 2026 - 08:46:47 WIB

Ilustrasi Haji

JAKARTA--(KIBLATRIAU.COM)-- Sejarah haji di Indonesia mencatat orang pertama yang menunaikan ibadah haji. Menariknya, orang itu ternyata bukan seorang ulama.Meski bukan ulama, perjalanan haji pertamanya membuka jalan bagi masyarakat  Indonesia untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci. Simak sosok dan kisahnya berikut ini.Mengutip buku Prinsip Tradisionalistik dan Konsep Masa Depan Masyarakat Sunda karya Adeng Lukmantara, proses masuknya Islam di wilayah Sunda diperkirakan  terjadi pada akhir abad ke-14 M. Lalu, pada awal abad ke-15 M, penyebaran Islam semakin luas, termasuk di lingkungan kerajaan.


Tokoh bangsawan yang pertama kali masuk Islam dikenal dengan nama Haji Purwa. Ia disebut sebagai orang pertama Indonesia dari suku Sunda yang menunaikan ibadah haji ke Makkah.Haji Purwa adalah sebutan untuk Bratalegawa, putra raja bernama  Prabu Bunisora. Ia lahir pada 1272 Saka (1350 M) dan masih memiliki hubungan keluarga dengan Prabu Niskala Wastu Kancana, yang merupakan kakek dari Prabu Siliwangi.Bratalegawa berasal dari Kerajaan Galuh yang berada di wilayah Ciamis, Jawa  Barat. Dalam buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia karya Adi Sudirman, dijelaskan bahwa Kerajaan Galuh didirikan pada tahun 612 M.Merangkum arsip detikHikmah, meski lahir sebagai anak raja, Bratalegawa lebih tertarik pada dunia  
perdagangan. Saat dewasa, ia dikenal sebagai saudagar yang sangat kaya.

Ia memanfaatkan posisinya sebagai bangsawan untuk memperluas usaha. Bratalegawa memiliki banyak kapal dagang, perhiasan, hingga berbagai aset.Dalam perjalanannya sebagai pedagang, ia sering berlayar ke berbagai wilayah, seperti Sumatera, Malaka,  China, India, Persia, hingga Semenanjung Arab. Dari perjalanan ini, ia memiliki banyak relasi dari berbagai daerah dan kalangan.Bratalegawa yang sering berlayar akhirnya bertemu dan jatuh hati pada perempuan asal India bernama Farhana. Farhana  merupakan putri saudagar kaya dari Gujarat yang beragama Islam.

Usai menikah, Bratalegawa bersama istrinya berlayar ke wilayah Arab dan sempat singgah di Arab Saudi. Dalam beberapa catatan, ia disebut pernah menunaikan ibadah haji di Makkah.Selama berada di Makkah, ia juga mempelajari berbagai ilmu. Sejumlah  sumber menyebutkan bahwa Bratalegawa kemudian memakai nama Haji Baharuddin al-Jawi.Setelah itu, ia kembali ke Ciamis. Sepulang dari Makkah, masyarakat mengenalnya dengan sebutan Haji Purwa Galuh.Kisah Bratalegawa tercatat dalam berbagai  sumber, seperti naskah kuno dari tanah Sunda, yaitu Carita Parahiyangan dan Naskah Pangeran Wangsakerta.

Selain Bratalegawa, ada beberapa tokoh lain yang juga disebut sebagai orang Indonesia pertama yang berhaji. Dalam buku Naik Haji di Masa Silam Jilid II karya Henri Chambert-Loir, disebutkan bahwa Laksamana Malaka diduga sudah berhaji sekitar tahun  1482.Ada juga pendapat yang menyebut Pangeran Abdul Dohhar, putra Sultan Tirtayasa, sebagai orang Indonesia pertama yang berhaji. Ia berangkat sekitar tahun 1630 M bersama pedagang dan ulama dari Nusantara menggunakan kapal layar.Perjalanan  haji saat itu bisa memakan waktu hingga dua tahun.

Ketiga tokoh tersebut hidup pada masa Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan yang dikenal sebagai wilayah Nusantara.Mengutip buku Islam & Transformasi Masyarakat Nusantara karya Moeflich Hasbullah, kemungkinan orang Nusantara sudah  lebih dulu menunaikan haji sebelum kisah Bratalegawa. Salah satunya diduga berasal dari Kerajaan Sriwijaya.Hal ini terkait adanya hubungan antara Raja Sriwijaya, Sri Indravarman, dengan Khalifah Umar bin Abdul Aziz sekitar tahun 726 M. Sri  Indravarman juga disebut telah masuk Islam pada tahun 718 M, sehingga besar kemungkinan ia memiliki kemampuan untuk pergi haji ke Makkah.(Net/Hen)