Sabar dengan Takdir dan Selalu Optimis

Senin, 06 April 2026 - 08:07:00 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


     SEORANG mukmin wajib menerima setiap ketetapan-ketetapan yang telah digariskan Allah SWT. Saat menjalani kehidupan dunia, banyak hal-hal yang terkadang tidak disukai seperti sakit, ditimpa musibah dan kematian. Namun itu semua tidak bisa dielakkan, karena jalan hidup sudah ditentukan jauh sebelum manusia itu ada.  Sabar dengan segala yang tidak disukai tentu bukan perkara mudah untuk dijalani.

Seseorang yang hidup dengan serba kekurangan, keinginan yang acapkali tidak tercapai dan keluarga yang kurang harmonis akan jauh lebih sulit diterima daripada hidup dalam penuh kenikmatan. Namun begitulah lika-liku hidup yang harus selalu disyukuri. Bagaimana pun manusia berada dalam “radar” Allah SWT Bila manusia menolaknya, maka Allah SWT persilahkan mencari tuhan selain-Nya.

Dalam hadis qudsi Allah SWT berfirman: Aku Allah, tiada Tuhan melainkan Aku; siapa tidak bersyukur atas nikmat-nikmat pemberianku, tidak bersabar atas ujianku dan ridha terhadap kepastian qadhaku, maka carilah Tuhan selain aku. (Menurut Imam al-Iraqi, riwarat di atas dapat dijumpai dalam kitab al-Mu’jam al-kabir dan Ibnu Hibban di kitab Dhua’afa-nya. (Murtadho az-Zabidi, Ithāfussādah al-muttaqin syarhu Ihya ulumiddin, 12/519)

Hidup akan selalu manis dan indah bila ditatap dengan nilai keimanan yang sempurna. Semua persoalan terasa ringan dan enteng jika segala sesuatu dikembalikan kepada Allah SWT. Sikap pesimis, frustrasi dan bahkan sampai ingin mengakhiri hidup akibat gagal memahami takdir.  Sehingga hari ini nyaris setiap waktu kita disuguhkan berita orang bunuh diri atau melakukan perbuatan tercela karena beratnya tekanan hidup.

Jika boleh kita bertanya pada diri sendiri. Mungkinkah Allah SWT membebani seseorang melebihi kemampuannya?. Jawabannya, “Tidak mungkin!”. Allah SWT telah mengatur seluruh ciptaan yang ada di alam semesta dengan rapi dan terukur. Segala sesuatu telah ditetapkan sesuai kadarnya, bahkan peredaran bulan dan angkasa bergerak dalam kendali Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

(Begitu juga) bulan, Kami tetapkan bagi(-nya) tempat-tempat peredaran sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir,) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin [36]: 39-40)

Makna kata manāzil (tempat-tempat perederan) ialah untuk mengetahui hitungan bilangan tahun dan waktu.  Allah SWT berfirman: Dialah pula yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (QS. Yunus [10]: 5). Ini artinya Allah swt telah mengatur perjalanan dengan teliti agar manusia bisa menentukan hitungan tahun.


Jika bulan, matahari dan makhluk angkasa lainnya berjalan di atas takdir Allah SWT, maka bagaimana dengan manusia?. Bukankah bergerak atas ketetapanNya juga?. Jawabannya, “Benar!”.Kehidupan manusia tidak lepas dari apa yang sudah ditakdirkan. Setiap problematika yang dihadapi sesuai kadarnya. Mustahil Dzat yang Maha Teliti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Seberat apapun yang dilalui seseorang pasti di atas kesanggupannya.

Allah SWT berfirman:

Allah SWT tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya. (QS. AlBaqarah [2]: 286)

Menurut Ibnu Katsir, “Allah SWT tidak membebani sesuatu kepada hamba-Nya kecuali di atas kesanggupan hamba tersebut”. (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 1/737).

Kunci selalu optimis dalam hidup ialah menatap sesuatu dengan ridho (kerelaan). Ridho dengan nikmat yang diberikan, dan musibah yang sedang menimpa. Ketika seseorang diberi nikmat, maka kalimat yang keluar dari mulutnya ialah alhamdulillah (segala puji bagi Allah), dan apabila diuji dengan musibah sejatinya lafal yang terlontar juga kalimat yang sama.  

Rasulullah SAW bersabda:

Dari 'Aisyah dia berkata; "Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat sesuatu yang ia senangi, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya semua kebaikan menjadi sempurna." dan apabila melihat sesuatu yang dibenci, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan." HR. Ibnu Majah)

Pesan yang bisa dipetik dari riwayat di atas ialah seorang muslim harus selalu memuji Allah SWT dalam keadaan sempit maupun lapang. Menghadapi sulitnya hidup dengan kesabaran mendapat pahala, dan bersyukur atas apa yang dikaruniakan juga berpahala. Dua keadaan tersebut mendatangkan pahala sekaligus sebagai ujian keimanan.

Allah SWT berfirman:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?. (QS. Al-ankabut [29]: 2).

Berpikir positif adalah jalan untuk menggapai sikap optimis. Yakinlah bahwa apa yang sekarang diperoleh merupakan pemberian Allah SWT yang terbaik. Syukuri dan selalu memuji-Nya hidup akan penuh cinta damai. Bila sebaliknya, banyak berburuk sangka dan mungkin sampai mengatakan Allah swt tidak adil, dan berpihak kepada kelompok tertentu justeru melahirkan sikap pesimis yang kemudian berefek pada penolakan terhadap takdir.

Untuk sampai pada tingkat sabar dengan takdir dan selalu optimis dalam hidup butuh ilmu. Seseorang tidak mungkin mampu sabar dan optimis tanpa membaca hikmah di balik semua yang dituliskan. Unsur pengatahuan sangat berperan dalam hal ini, seseorang yang alim dengan agama akan mudah menyelesaikan suatu masalah. Oleh sebab itu, orang yang berilmu (ilmu agama) dalam menghadapi permasalahan hidup dengan tidak berilmu akan jauh berbeda.

Seorang pakar psikologi barat, Sigmud Frued bunuh diri karena tekanan hidup. Ilmu yang dimiliki ternyata tidak mampu menyelamatkannya dari problem hidup yang sedang dilalui.

Sementara orang beriman yang memiliki agama akan mampu keluar dari beratnya cobaan hidup.  Ilmu yang mampu menghadirkan kesabaran dan optimis adalah ilmu tentang ketuhanan (tauhid).

Ilmu tauhid mampu menjadi solusi di tengah kehidupan yang kompleks. Ia menunjuki seseorang ke jalan yang benar. Sepanjang sejarah, orang-orang yang memiliki akidah yang kuat tidak pernah mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Seberat apapun cobaan yang dijalani tetap berkeyakinan bahwa itu adalah pilihan Allah swt yang terbaik.

Bukankah Nabi Ayub AS pernah diuji dengan ujian yang berat?. Bukankah Nabi Nabi Ibrahim as, Yahya dan Zakariyah mendapati sulitnya hidup, dan nabi-nabi yang lainnya?. Apakah mereka mengeluh dan sampai mengakhiri hidupnya?, Jawabannya, “Tidak!”. Demikianlah hasil didikan iman.  


Dari Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai sebuah kaum niscaya Allah SWT akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridha, maka Allah SWT akan ridha kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak ridha, maka Allah SWT pun tidak akan ridha kepadanya.” HR. Turmudzi dan Ibnu Majah.***