Tiga Keistimewaan Ibadah Haji

Senin, 06 April 2026 - 08:30:15 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

      SETIAP ibadah yang disyariatkan Allah SWT memiliki keistimewaan. Ibadah puasa misalnya, orang yang rajin melakukannya akan diberi kesehatan fisik. Alasannya kerja lambung sedikit berkurang, sehingga dapat beristirahat setelah sekian lama berkerja keras mengolah makanan. Di akhirat kelak akan dibalas surga ar-Rayyan dimana tidak dimasuki kecuali oleh orang yang berpuasa. Ibadah shalat pun demikian, orang yang rajin mengerjakannya dibalas dengan balasan yang besar.  

Tak terkecuali ibadah haji. Orang yang menunaikan ibadah ini akan mendapat keistimewaan dari dua sisi, yaitu keistimewaan duniawi dan ukhrawi. Adapun keistimewaan-keistimewaan tersebut ialah:
1.    Doa  yang Maqbul
Orang yang memperoleh predikat haji mabrur doanya mustajab. Rasulullah saw bersabda:
عَن أَبِي هُرَيْرَةَ عَن رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَّهُ قَالَ الْحُجَّاجُ وَالْعُمَّارُ وَفْدُ اللّٰهِ إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنْ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ

Dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhammad saw bersabda, “Jamaah haji dan umrah adalah tamu Allah SWT. Jika mereka berdoa, Allah memenuhi permintaan mereka dan jika mereka meminta ampun kepada-Nya, niscaya Allah mengampuni mereka.” (HR Ibnu Majah).
Imam al-Qalyubi dan Umairah menuturkan, meminta doa dari jamaah haji hukumnya sunah. Dan disunahkan bagi orang yang berhaji untuk mendoakan orang yang tidak berhaji dengan ampunan meskipun orang tersebut tidak memintanya. Dan bagi orang yang tidak berhaji hendaknya minta didoakan olehnya. Para ulama menyebutkan bahwa doa tersebut berlaku hingga 40 hari sejak kedatangannya. (Qalyubi dan Umairah, Hāsyiata Qalyūbi wa Umairah, 2/190).

Mengapa meminta doa dari jamaah haji dianjurkan?. Karena doa-doa orang yang haji mustajab.
Rasulullah saw bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللّٰهِ، وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللّٰهِ، دَعَاهُمْ، فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ، فَأَعْطَاهُمْ»
Dari Ibnu Umar dari Nabi saw bersabda: Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah SWT pasti akan Allah SWT beri. (HR. Ibnu Majah).
Maksud doa para jamaah haji yang tidak tertolak adalah mereka yang mendapat predikat haji mabrur. (Sayyid Huseina al-Affani, ar-Riyādhu an-Nadhratu fi Fadhāili al-Hajji wal Umrati, 1/45).
2.    Penghapus Dosa.

Dihapusnya dosa adalah keinginan setiap muslim dan nikmat Allah yang besar. Karena dosa dapat mengahalangi masuk surga. Maka oleh karena itu, banyak cara yang ditempuh seseorang agar dosanya diampuni, terkadang dengan banyak beristighfar, meminta maaf, puasa, shalat taubat, bersedekah, umrah dan berhaji. 
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ مِنْ ذُنُوْبِهِ كَيَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad SAW ia bersabda: Siapa saja yang berhaji, lalu tidak berkata keji dan tidak berbuat dosa, niscaya ia pulang (suci) seperti hari dilahirkan oleh ibunya.’(HR. Bukhari dan Muslim).
Syekh Musa Syahin berkata, ibadah haji dapat menghapus dosa dan kesalahan.( Musa Syahin, Fathul Mun’im Syarhu Shahih Muslim, 5/95).

Dosa yang dihapus adalah dosa yang berkaitan dengan Allah swt seperti dosa syirik, meninggalkan shalat dan puasa serta tidak membayar zakat. Cara taubatnya dengan minta ampun, mengakui kesalahan atau menyesali lalu berazam tidak mengulangi di masa mendatang.

Adapun dosa yang berkaitan dengan manusia tidak cukup minta ampun kepada Allah SWT. Ia harus diselesaikan secara manusiawi. Jika pernah mengambil harta orang maka harus dikembalikan; jika pernah menzhalimi orang, maka harus meminta maaf. 
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ، مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ»
Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezhaliman terhadap saudaranya maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan sebab dinar dan dirham tidak lagi bermanfaat kala itu. Setiap kezhaliman akan dibalas dengan kebaikan yang diberikan kepada saudaranya, jika ia tidak mempunyai kebaikan maka keburukan diberikan kepada orang yang menzhalimi. (HR. Bukhari).

3.    Dibalas Surga

Setiap amal ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan dibalas dengan kebaikan yang serupa. Allah swt berfirman: Adakah balasan kebaikan selain kebaikan (pula)?(QS. Ar-Rahman: 60). Allah berfirman: Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. (QS. Al-Isrā’: 7).
Lalu seperti apa balasan bagi orang yang berhaji?. Rasulullah SAW sebutkan secara gamblang bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga. 
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُمَا، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ
Dari Abu Hurairah ra, dari Nabi Muhammad saw ia bersabda: Umrah ke umrah berikutnya merupakan menghapus dosa di antara keduanya. Sedangkan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mabrur bermakna tidak ada dosa, atau bisa juga bermakna maqbul (diterima). Adapun tanda-tanda sebuah amal diterima sepulang dari tanah suci mesti dihiasi kebaikan dan menjauhi maksiat. (An-Nawawi, al-Minhāj, 9/118). ***