Jangan Biarkan Hati Menjauh dari Allah SWT
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
HATI (qalb) merupakan komponen terpenting dalam diri manusia. Peranan hati dalam menjaga hubungan seorang hamba dengan Allah SWT sangat krusial. Orang yang hatinya bersih, tenang dan bahagia akan selalu bersama-Nya, sedangkan hati yang kotor, gelisah dan penuh kebencian asbab jauh dari Allah SWT. Oleh sebab itu, mengapa orang yang hati bersih akan selalu terkoneksi dengan-Nya.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah SWT hati menjadi tenang. (QS. ar-Ra‘d (13): 28)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ketenangan hati akibat dzikir secara terus-menerus sehingga hubungan dengan Allah swt selalu terjaga. (Al-Qurthubu, Al-Jãmi’ Li Ahkãmil Qur’ãn, (Darul Kutub Al-Mishriyah, Kairo: 1384 H), 9/315). Ketika seseorang menyadari seluruh urusan berada dalam kekuasaan Allah SWT, maka rasa takut dan gelisah terhadap masa depan akan sirna. Dzikir juga membersihkan hati dari rasa was-was dan keraguan.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ وَاضِعٌ خَطْمَهُ عَلَى قَلْبِ ابْنِ آدَمَ، فَإِذَا ذَكَرَ اللَّهَ خَنَسَ، وَإِذَا نَسِيَ اللَّهَ الْتَقَمَ قَلْبَهُ
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya setan meletakkan belalainya di hati anak Adam. Jika ia berdzikir kepada Allah, setan akan mundur (khanasa), dan jika ia lalai dari mengingat Allah, setan akan menguasai hatinya. (HR. Muslim)
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra di atas menjelaskan mekanisme terjadinya was-was dalam hati manusia serta cara paling efektif untuk menolaknya, yaitu dzikir kepada Allah SWT, namun apabila manusia itu lupa maka setan akan membuatnya jauh dari Allah SWT.( Muhammad bin Ismail Al-Amir, At-Tanwîr Syarhu Al-Jãmi’ As-Shaghîr, (Darus Salam, Riyadh: 1432 H), 3/491). Adapun maksud ungkapan “setan meletakkan belalainya di hati anak Adam” ialah sebuah ungkapan metaforis yang menggambarkan kedekatan dan intensitas godaan setan terhadap hati manusia.
Ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah SWT, setan disebut خَنَسَ (khanasa), yaitu mundur, melemah, dan menjauh. Ini menunjukkan bahwa dzikir bukan sekadar bacaan lisan, tetapi kehadiran kesadaran ilahiah dalam hati yang membuat bisikan setan kehilangan daya. Makna ini sejalan dengan firman Allah SWT tentang al-waswās al-khannās (QS. an-Nās: 4), yakni setan yang berbisik lalu bersembunyi ketika Allah SWT diingat.
Sebaliknya, ketika manusia lalai dari dzikir, setan menguasai hati, yakni memperkuat bisikan, menanamkan keraguan, syahwat, dan prasangka buruk. Kelalaian membuka ruang kosong dalam hati, dan ruang kosong itulah yang diisi oleh was-was. Dalam kondisi ini, hati menjadi gelisah, ragu terhadap kebenaran, dan mudah terdorong kepada maksiat.
Maka oleh karena itu, agar hati tidak semakin jauh dari Allah SWT hendaklah mendawamkan dzikir setiap saat. Karena dalam hitungan detik setan berusaha keras untuk melalaikan hati manusia. Di samping itu, menjaga lisan tetap basah dengan lafal-lafal dzikir membuat hati menjadi lembut.
Rasulullah SAW bersabda:
وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menggunakan perumpamaan yang sangat luar biasa di mana terlihat jelas dampak dzikir terhadap kehidupan batin manusia. Rasulullah SAW menyamakan orang yang berdzikir dengan orang yang hidup, sedangkan orang yang lalai dari dzikir seperti orang yang sudah mati. Memang jasadnya masih beraktivitas seperti manusia pada umumnya, namun di hadapan Allah SWT mereka dianggap telah mati. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa dzikir bukan sekadar aktivitas lisan, tetapi sumber kehidupan spiritual hati.
Dzikir mencakup seluruh bentuk ketaatan: Membaca Al-Qur’an, shalat, doa, dan kesadaran terus-menerus akan Allah. Selama dzikir hidup dalam diri seorang hamba, maka hatinya berada dalam cahaya hidayah. Namun ketika dzikir ditinggalkan, hati perlahan kehilangan cahaya itu.
Allah SWT berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ
Dan apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya agar manusia dapat berjalan dengannya. (QS. al-An‘ām: 122)
At-Thabari berkata: Iman instrumen yang paling penting dalam menghidupkan hati yang mati. Darinya akan terpancar cahaya yang menerangi jalan hidup dan menjauhkan dari kegelapan. Untuk mendapatkan iman yang kuat mesti diawali dengan hidayah yang menempel dalam hati. (An-Nasafi, Madãriku at-Tanzîl wa haqãiqu at-takwîl, (Darul Kutub At-Thayyib, Beirtu: 1419), 1/543).
Pernyataan Imam ath-Thabari di atas menegaskan bahwa hati yang mati bukan berarti hilangnya kehidupan fisik, melainkan terputusnya kesadaran spiritual dan orientasi ilahiah dalam diri manusia. Ketika iman hadir, hati memperoleh kehidupan baru yang memancarkan cahaya petunjuk, sehingga manusia mampu membedakan antara kebenaran dan kesesatan dalam perjalanan hidupnya. Iman yang hidup tidak hanya berfungsi sebagai keyakinan teoretis, tetapi juga sebagai sumber cahaya eksistensial yang menerangi arah hidup dan melindungi manusia dari kegelapan keraguan, kebingungan serta penyimpangan moral.
Dalam konteks hari ini, kinerja hati yang diperhatikan dengan baik. Pastikan ia selalu terkoneksi dengan sang pencipta. Hal perlu ditekankan bahwa dzikir bukan hanya bacaan berupa lafal-lafal tertentuk, tetapi dzikir ialah mengerahkan semua kemampuan diri untuk mengingat-Nya. Dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring sekali pun tidak menghalangi seseorang untuk mengingat Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah SWT dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci engkau, maka peliharalah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali ‘Imran (3): 191).
Ayat ini menjelaskan ciri utama ulul albab (orang-orang berakal jernih), yaitu mereka yang menggabungkan dzikir dan tafakkur secara utuh. Allah SWT menyebutkan bahwa mereka mengingat Allah SWT dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring, yang menunjukkan bahwa dzikir tidak terikat oleh kondisi fisik, waktu atau tempat.
Menurut ath-Ṭhabari, makna ayat ini adalah bahwa seorang mukmin tidak pernah memutus hubungan batinnya dengan Allah SWT, baik dalam keadaan aktif maupun istirahat.( At-Thabari, Jãmi’ul bayãn fi ta’wîlil Qur’ãn, (Muassasah ar-Risalah: 1420), 7/475).***