Makna Ibadurrahman Menurut Al-Quran
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa ibadurrahman (عِبَادُ الرَّحْمٰنِ) bermakna hamba-hamba yang penyayang. Kata Ar-rahman itu sendiri merujuk pada salah satu nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala yang baik (al-asmâ’ al-husnâ) yaitu Dzat yang Maha Pengasih. Karakter Ar-rahman yang melekat pada seorang hamba bukan sekedar identitas spritual, tetapi sebuah sikap yang bijak dan arif dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Al-Qur’an yang mulia membicarakan karakter ini dengan baik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا ٦٣ وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا ٦٤
Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.” Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. (QS. Al-Furqon: 63-64)
Menelusuri makna ayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya dalam diri seorang hamba yang penyanyang itu ada dua karakter utama yaitu: Akhlak mulia dan konsistensi dalam ibadah.
1. Berakhlak Mulia
Akhlak merupakan salah satu sifat yang harus dimiliki seorang mukmin. Ia seumpama sebuah fondasi yang menopang bangunan besar dan berat. Apabila fondasi tidak kokoh maka dapat dipastikan bangunan tidak akan mampu bertahan lama. Seseorang yang memiliki ilmu yang luas dan ibadah yang bagus tiada berarti tanpa berbekal akhlak mulia. Kehadiran baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memperbaiki akhlak penduduk Makkah dan Jazirah arab yang sudah jauh menyimpang dari ajaran para nabi dan rasul.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Bukhari dalam Adabul mufrad)
Imam Al-Haroli berkata: Maksud kalimat shâlihul akhlâq (penyempurna akhlak) ialah mengakomodir urusan dunia, agama dan kehidupan akhirat, seperti dalam sabda Rasulullah saw: Ya Allah perbaikilah agamaku karena ia menjadi pelindungku; perbaiki duniaku karena ia tempat hidupku; dan perbaiki akhiratku karena ia tempat kembaliku. (Al-Munawi, Faidhul Qadîr Syarhu Jâmi’ as-Shaghîr, Darul Ma’arif, Beirut: 2/572).
Kedudukan akhlak mulia bukan sebatas identitas yang mengkristal kehidupan sehari-hari, namun di balik itu juga sebagai penyempuna iman. Di mana akhlak dan iman bagai dua mata uang tidak dapat dipisah, tidak sempurna iman seseorang bila tidak memiliki budi pekerti yang luhur.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya. (HR. Tirmizi)
Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kesempurnaan iman seorang mukmin tidak hanya dinilai dari banyaknya ibadah, tetapi pada kemuliaan akhlak. Selain itu, tolok ukur kebaikan seseorang juga terlihat bagaimana ia memperlakukan keluarga dan khususnya istri. Orang yang paling baik bukan yang hanya tampak baik di hadapan orang lain, tetapi yang paling lembut, adil, dan penuh kasih dalam lingkungan keluarganya.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ، وَيُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ، وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Maha Mulia, mencintai kedermawanan, mencintai akhlak yang tinggi, dan membenci akhlak yang rendah.(HR. Hakim)
Seorang Muslim dituntut untuk menghias diri dengan akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari, karena hal itu tidak hanya membawa kebaikan dalam hubungan sesama manusia, tetapi juga menjadi sebab mendapatkan cinta dan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala .
2. Konsistensi dalam Ibadah
Karakter kedua seorang hamba penyayang (عِبَادُ الرَّحْمٰنِ) ialah senang melakukan ibadah mahdah seperti shalat, puasa, zakat dan naik haji serta ibadah ghairul mahdah seperti sedekah, membaca al-Qur’an, qimullail dan ibadah sunnah lainnya. Ibadah-ibadah itu sebagai penguat jiwa raga dan benteng kehidupan. Seorang mukmin yang gemar beribadah dalam waktu sempit dan lapang akan diakurianai kehidupan yang tentram. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’du: 28).
Ibadah wajib dan sunnah sebagai wasilah yang mendekatkan seorang hamba dengan Allah
Subhanahu wa Ta'ala.
Hal ini sebuah isyarat bahwa ibadah yang dilakukan seorang mukmin bukan musiman seperti yang dilakukan umat hari ini. Pada bulan Ramadhan masjid dan mushallah melimpah ruah, kontak infak terisi penuh, ucapan maaf berseliweran di media sosial. Namun kala momentum Ramadhan berakhir maka semua lenyap seakan tak pernah ada. Maka oleh karena itu ibadah mesti dilakukan istikamah walau sedikit.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Dari Aisyah rah berkata, Rasulullah
Shalallahu 'Alaihi wa Sallam
bersabda: Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang terus-menerus meskipun sedikit. (HR. Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa ibadah yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus (istikamah), meskipun sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dan konsistensi lebih utama daripada kuantitas yang besar tetapi tidak berkelanjutan.
Suatu amalan yang dilakukan secara konsisten akan membentuk pribadi yang baik, karena secara tidak langsung seseorang yang melakukannya terus-menerus akan selalu terkoneksi dengan Allah swt. Oleh sebab itu, ahli tasawuf enggan meninggalkan warid sebagaimana enggan meninggalkan amalan wajib.(Abdullathîf bin Abdul Azîz, Kitabul Mabâriqul Al-Azhâri fi syarhi Masyâriqul Anwâri, 76)
Jadi, dari penjelasan di atas dapat disimpulan karakter seorang hamba penyanyang (عِبَادُ الرَّحْمٰنِ) harus memiliki dua sifat hal yaitu akhlak mulia yang terpancar dari ucapan dan perbuatan dalam menjalani kehidupan, baik dengan orang yang dikenal atau tidak. Sedangkan sifat lainnya konsistensi ibadah di kala susah maupun senang, dipuji maupun dicaci, ibadah yang dilakukan bersifat permanen dan hanya berharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. ***