Potret Umat Islam di Akhir Zaman, Cinta Dunia dan Takut Mati

Ahad, 19 April 2026 - 08:40:03 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg saat menyampaikan ceramah agama belum lama ini

Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

     SEIRING  berjalan waktu, jumlah umat Islam mengalami eskalasi yang tajam. Pada tahun 2026 jumlah tersebut nyaris tembus 50% populasi dunia. Namun, bertambahnya kuantitas tidak memberi peran signifikan dalam kancah nasional maupul global. Umat Islam bagaikan buih di lautan yang dihempas gelombang kian kemari sehingga tidak memiliki wibawa di mata bangsa lain, termarjinalkan, menjadi bulan-bulanan dan wayang yang hanya mengikut kehendak tuannya. Pada saat itu kaum muslimin berada pada puncak ketidakberdayaan.

Fenomena tersebut mengingatkan kita kepada sebuah teks hadis yang mengisyaratkan datangnya akhir zaman.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ: قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟. قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللّٰهِ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللّٰهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ: قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللّٰهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟. قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

Dari Tsaubān ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di atas meja hidangan.

Seorang laki-laki berkata, Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit? beliau menjawab: Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian al-wahn. Seseorang lalu berkata, Wahai Rasulullah, apa itu al-wahn? beliau menjawab: Cinta dunia dan takut mati. (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Syekh al-‘Abād al-Badr berkata: “Riwayat ini sebagai isyarat bahwa kaum Yahudi dan Nasrani memiliki kuasa penuh atas kaum muslimin sehingga keadaan ketika itu bagai makanan yang diperebutkan di atas meja hidangan”. (Syekh al-‘Abād al-Badr, Syarah Sunan Abi Dāud, 843/19, Dirasah Shautiah).

Sejatinya dua bangsa tersebut tidak akan pernah ikut dan rela dengan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka akan senantiasa membuat narasi-narasi negatif agar umat Islam meninggalkan agamanya dan orang-orang yang non-muslim membenci Islam. Angin islamofobia yang dihembuskan tidak akan mencapai batas akhir, selama ekspektasi tersebut belum terealisasi dengan sempurna. 
Segala daya dan upaya dikerahkan secara maksimum untuk mengimplementasikan niat jahat tersebut. Melalui pemikiran dan kebudayaan ala barat dijadikan sebagai stimulus agar tercipta pendangkalan pemahaman keagamaan pada generasi muda Islam.

Untuk suksesi cakrawala ala barat itu bisa berhasil, mereka bergerak pelan, rapi dan bersih namun pasti. Semua terukur dan terstruktur. Rasulullah saw telah gariskan dalam sabdanya bahwa umat Islam lambat laun akan mengikuti jejak dua bangsa tersebut, bahkan andai mereka masuk ke sebuah lobang yang kecil sekalipun umat islam akan tetap ikut.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللّٰهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟. قَالَ: "فَمَنْ".

Dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam besabda: Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka manempuh (masuk) ke dalam lobang biawak kalian pasti akan mengikutinya. Kami bertanya; Wahai Rasulullah, apakah yang baginda maksud Yahudi dan Nashrani?. Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)”. (HR. Bukhari)

Apa yang melatari ketidakberdayaan kaum muslimin di depan bangsa-bangsa lain? Faktor yang mendasari kelemahan kaum muslimin di hadapan bangsa lain ialah umat Islam telah kelihangan role model (contoh).

Generasi muda Islam abai dengan kejayaan yang pernah ditorehkan pendahulunya. Presitise yang dicatat sejarah sudah mulai pudar di benak kaum muslimin. Mereka lebih mengagungkan cendikiawan barat daripada ulama. Bahkan generasi islam lebih harmonis dengan orang-orang non-muslim daripada orang muslim itu sendiri.

Allah Subhanallah Waatala berfirman:

"(Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah." (QS. An-Nisa' [4]: 139).

Imam an-Nasafī berkata: “Ayat ini menjelaskan dimana orang-orang munafik mengangkat orang-orang kafir menjadi pemimpin, lalu mereka meminta bantuan agar dakwah Muhammad tidak tersebar”. (an-Nasafī, Madāriku at-Tanzīl wa Haqāiqu at-Ta’wīl, 1/405).

Semua itu terjadi karena dua faktor yaitu cinta dunia dan takut mati. Secara terminologi, yang dimaksud cinta dunia ialah ketertarikan terhadap gemerlap kehidupan nyata dan meninggalkan kehidupan yang abadi. Sesuatu yang dianggap berharga apabila memberi dampak secara lahiriyah, selain itu dianggap sesuatu yang tiada berarti.

Berangkat dari sudut padang ini umat islam akan mengalami degerasi moral sekaligus spiritual yang berakibat pada kemunduran prabadan secara permanen. Oleh sebab itu, cinta dunia bukan sekedar minat akan pernak-pernik kehidupan namun ia sebagai sebuah pandangan hidup yang mengubah cara bersikap dan berbuat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya…” (HR. Tirmidzi)

Berdasarkan hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa Islam tidak melarang manusia mencintai dunia, namun melarang kecintaan yang berlebihan hingga menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Cinta dunia yang melampaui batas akan melalaikan manusia dari akhirat, merusak orientasi hidup, serta melemahkan kualitas iman. Adapun konsep takut mati hasil dari cinta dunia, karena menganggap dunia segalanya.

Potret umat Islam di akhir zaman sebagaimana paparan di atas menunjukkan adanya ketimpangan antara jumlah dan kualitas. Meskipun secara kuantitas umat Islam sangat besar, namun secara kekuatan, pengaruh, dan wibawa mengalami kemunduran, hingga diibaratkan seperti buih yang tidak memiliki daya. Hal ini selaras dengan peringatan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tentang kondisi umat yang diliputi al-wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.***