Relevansi Kuda dan Panah di Era Akhir Zaman

Selasa, 21 April 2026 - 08:40:29 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

    BANYAK yang mengatakan  abad 20 merupakan abad yang modren. Pasalnya,  sejumlah penemuan-penemuan sains mutakhir telah wujud sedemikian rupa. Dahulu orang belum mengenal komputer, namun sekarang alat canggih tersebut sudah bukan barang asing lagi. Dahulu orang hanya bisa melihat bulan dari bumi tapi sekarang orang bisa menginjakkan kakinya di sana.

Kemajuan sains dan teknologi memang tidak dapat dibendung. Karena Allah SWT sendiri memberi keleluasaan kepada manusia untuk terus bereksplorasi dan berkreasi dalam segala hal.

Akan tetapi perlu diketahui, bahwasanya bila dunia ini mendekati akhir zaman keadaan kembali seperti sedia kala. Segala jenis alat komunikasi, senjata dan kemajuan sains lainnya akan lumpuh.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنَعَتِ الْعِرَاقُ دِرْهَمَهَا وَقَفِيزَهَا وَمَنَعَتِ الشَّأْمُ مُدْيَهَا وَدِينَارَهَا وَمَنَعَتْ مِصْرُ إِرْدَبَّهَا وَدِينَارَهَا وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ وَعُدْتُمْ مِنْ حَيْثُ بَدَأْتُمْ.

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Irak menahan dirham dan takarannya, Syam menahan mud dan dinarnya, Mesir menahan timbangan dan dinarnya, kalian kembali seperti sedia kala, kalian kembali seperti sedia kala, kalian kembali seperti sedia kala. (HR. Muslim)

Nah, apa yang dimaksud dengan “kalian kembali seperti sedia kala”? Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Abul Abbās al-Qurthubī (w 656 H) dalam al-Mufhim berkata: “Kembali seperti sedia kala” yang dimaksud ialah orang-orang akan melakukan kerusakan, terjadinya perpecahan dan agama ditinggalkan. (Al-Qurthubī, al-Mufhim lima Asykala min Talkhishi Kitābi Muslim, 7/229).

Ibnu Hajar al-Asqalānī (852 H) dalam al-Fath berkata: “Kembali seperti sedia kala” yang dimaksud ialah kembali ke zaman jahiliyah yaitu manusia mengabaikan hak-hak kalian. (Ibnu Hajar al-Asqalānī, Fathu al-Bārī, 1/85).

Imam as-Sayuthi (911 H) dalam Syarah Muslim menukil pendapat imam an-Nawawi berkata: Islam datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan terasing pula. (Sayuthi, Syarhu as-Sayūhi ala Muslim, 6/223).

Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing. (HR. Muslim)

Namun bila hadits di atas ditinjau dari sudut pandang lain, misalnya tentang perang akhir zaman, maka ada yang mengatakan: Kala itu segala jenis senjata canggih tidak dipakai lagi, orang-orang akan menggunakan alat-alat tradisional seperti pedang, panah dan tombak.

Asumsi itu berlandaskan pada beberapa ayat dan hadits Nabi. Dimana Allah swt memerintahkan berjihad dengan menggunakan kuda dan Rasulullah SAW menitahkan umatnya untuk belajar berenang dan memanah.

Allah SWT berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ اَللّٰهُ يَعْلَمُهُمْۗ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. (QS al-Anfāl [8]: 60).

Fakhruddīn ar-Rāzī (606 H) dalam Mafātīh berkata: al-Quwwah (kekuatan) yang dimaksud ialah segala jenis senjata, lembing dan benteng. (Fakhruddīn ar-Rāzī, al-Mafātīh,15/499). Al-Khāzin (725 H) dalam Lubāb berkata: al-Quwwah (kekuatan) yang dimaksud dalam ayat ini ialah memanah. (Al-Khāzin, Lubāb, 2/322).

As-Syaukānī (1250 H) dalam Fathu al-Qodīr berkata: al-Quwwah yang dimaksud ialah kemampuan dalam memainkan panah. Lalu beliau mengutip hadits Rasulullah saw. (Syaukānī, Fathu al-Qodīr, 2/364).

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي عَلِيٍّ ثُمَامَةَ بْنِ شُفَيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُا سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ يَقُولُ: {وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ} أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ

Dari Abu Ali Tsumamah bin Syufayi bahwa dia mendengar 'Uqbah bin 'Amir berkata, "Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan ketika beliau di atas mimbar: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah melempar”. (HR. Muslim).

An-Nawawi (676 H) dalam al-Minhaj berkata: Dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya dengan makna yang serupa menunjukkan keutamaan memanah dan berjihad serta penggunaan senjata lainnya.( An-Nawawi, al-Minhaj,13/64).

Badruddīn al-‘Aini (855 H) dalam ‘Umdah berkata: al-Quwwah ialah sesuatu yang memberi kekuatan dalam perang seperti menggunakan pedang, panah dan busur. (Badruddīn al-‘Aini, al-Umdah,14/145-146).

Sejarah melukiskan bahwa generasi umatnya ini memperoleh kemerdekaan dari musuh menggunakan tombak, panah dan kuda.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَتُفْتَحُ عَلَيْكُمْ أَرَضُونَ وَيَكْفِيكُمُ اللّٰهُ فَلَا يَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَلْهُوَ بِأَسْهُمِهِ

Dari 'Uqbah bin 'Amir dia berkata, Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kalian akan menaklukkan banyak negeri dan Allah akan menyempurnakan (janji-Nya) kepada kalian, karena itu janganlah kalian bosan berlatih memanah. (HR. Muslim)

Dalam hadits lain Rasulullah menerangkan pentingnya belajar memanah hingga beliau mengatakan orang yang enggan belajar memanah bukan dari umatnya.

Sahabat Umar bin Khattab pernah menulis surat kepada penduduk Syam untuk mengajarkan generasi mereka berenang, memanah dan berkuda.
Umar bin Khattab berkata:

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَتَبَ إِلَى أَهْلِ الشَّامِ أَنْ عَلِّمُوا أَوْلادَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ وَالْفُرُوسِيَّةَ

Umar bin Khattab telah mewajibkan penduduk Syam supaya mengajar anak-anak mereka berenang, dan memanah, dan menunggang kuda.”

Dalam atsar ini selain disebutkan berkuda, memanah dan berenang ia merupakan perintah Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:

‎عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلِّمُوا أَبْنَاءَكُمُ السِّبَاحَةَ وَالرَّمْيَ، وَالْمَرْأَةَ الْمِغْزَلَ

Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Ajarkanlah anak-anak kalian berenang, memanah dan pemintal bulu atau katun. (HR. Baihaqi)

Dalam hadits ini, dua hal yang harus dipersiapkan untuk berperang yaitu berenang dan memanah. Dalam hadist lain, Rasulullah saw mengulang tiga kali tentang pentingnya belajar memanah. (HR. Baihaqi)

Al-Munawi (1031 H) dalam Faidhul Qadīr berkata: Mencoba mendudukkan aktivitas berlatih berkuda sebagai usaha untuk memenangkan sebuah peperangan.

Yang dimaksud dengan ‘melatih dalam berkuda’ adalah menaikinya, memacunya, dengan melakukan perjalanan dengannya serta mengajari kuda tersebut beberapa hal yang diperlukan. Adapun makna kuda adalah setiap kendaraan yang digunakan untuk berperang. (Al-Munawi, Faidhul Qadīr, 1/478).

Seorang laksamana Britania Raya Louis Lord Mountbatten pernah berkata: Jika perang dunia ketiga adalah berjuang dengan senjata nuklir, yang ke empat akan diperjuangkan dengan busur dan anak panah. Dan Albert Einstein  pernah berkata: Saya tidak tahu dengan apa senjata perang dunia ketiga akan diperjuangkan, tetapi perang dunia ke empat akan diperjuangkan dengan kayu dan batu.***