Ayat Kauniyah Sarana Ma‘rifatullah
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa ayat dimaknai dengan tanda. Dimana, tanda yang dimaksud bukan sekedar simbol dalam mengenal sesuatu, tapi untuk mengenal Allah SWT . Ayat terbagi kepada dua yaitu: Ayat-ayat qouliyah (القولية) dan kauniyah (الكونية). Ayat qouliyah berupa teks suci Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, sementara kauniyah menjelaskan tentang seluk-beluk penciptaan alam semesta berserta isinya.
Untuk menelaah kemahakuasaan Allah SWT bisa melalui dua cara tersebut, semakin dalam seseorang menyelami sebuah teks maka akan memperoleh pemahaman yang dalam dan benar.
Ayat-ayat kauniyah sangat unik, betapa banyak para pemikir Barat memperoleh hidayah darinya. Pada tahun 1970 an, seorang Professor kedokteran Maurice Bucaille memilih Islam sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya setelah menemukan kebenaran tentang jasad Fir’aun.
Pemikir Prancis ini berhasil memadukan mengungkap kebenaran teks Al-Qur’an melalui sains. Dari fakta ini kita sedang diajarkan untuk tidak membatasi hidayah dari teks-teks tertulis. Karena betapa banyak teks-teks yang tidak terlulis mampu mengubah jalan hidup dan keyakinan.
Misalnya Allah SWT mengajak manusia berpikir untuk memperhatikan makanan yang setiap hari dikonsumi.
Allah SWT berfirman:
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”(QS. ‘Abasa: 24)
Muhammad Al-Amin Al-Harari memaknai ayat di atas dengan pemahaman yang baik. Menurutnya seseorang hendaknya memperhatikan bagaimana Allah swt menciptakan makanan sebagai sumber kehidupan manusia dan menata kehidupan untuk mencari kebagiaan dunia dan akhirat. (Tafsîr Hadâiqurouhi war Roihâni fî riwâbi ulûmil Qur’ân, 31/133)
Pesan yang ingin yang disampaikan ulama asal Etiopia di atas yaitu makanan merupakan sumber kehidupan manusia dalam mencari kebahagian dunia dan akhirat. Sebagian besar cara pandang manusia terhadap makanan hanya sebatas mengenyang perut, padahal jika direnung secara mendalam sesungguhnya makanan maupun meniman sebagai wasilah menuju surga. Karena tiada apapun yang diciptakan Allah SWT kecuali terselip pelajaran dan hikmah yang berharga.
Selain memperhatikan makanan, Allah SWT juga mengajak manusia mengamati bagaimana unta dicipta.
Allah SWT berfirman:
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?” Al-(QS. Ghashiyah 17)
Ayat ini menunjukkan dorongan epistemologis agar manusia mengkaji ciptaan Allah secara mendalam. Unta dipilih sebagai objek refleksi karena memiliki kompleksitas biologis yang luar biasa, khususnya dalam konteks adaptasi terhadap lingkungan ekstrem. Dalam Ma’mûj at-Tafâsîr dituturkan ayat di atas sebagai sebuah isyarat kemahakuasaan Allah swt dan keindahan dalam mengatur ciptaan-Nya. (Ma’mûj at-Tafâsîr, 30/500).
Kemahakuasaan Allah swt terlihat dengan baik pada penciptaan unta yang hebat. Unta satu-satu makhluk hidup yang memapu bertahan tanpa air dalam waktu yang lama, bertahan pada suhu ekstrim, struktur kaki yang unik, kelopak mata dan hidup yang adaptif serta memiliki nutrisi susu yang berkualitas tinggi.
Keistimewaan-keistimewaan ini menunjukkan adanya desain biologis yang terintegrasi dan presisi, yang dalam perspektif teologis mencerminkan kebijaksanaan Sang Pencipta. Oleh karena itu, ayat tersebut tidak sekadar mengajak untuk melihat, tetapi juga untuk berpikir kritis dan mengambil pelajaran (‘ibrah) dari ciptaan Allah SWT.
Seorang ulama kenamaan asal Suria dalam karyanya Al-Kubrô al-Yaqîniyât al-Kauniyah: Wujûdul Khâliq wa wazhîfatul makhlûq menegaskan integarasi antara ayat-ayat qouliyah dan Kauniyah sebagai sarana menengal Allah swt sangat ideal. Perpaduan antara wahyu, rasio dan eksperimen tiga berpilin yang saling menguatkan satu dengan lain. Membaca Al-Qur’an dan sabda Rasulullah saw sangat penting, namun mengabaikan alam sekitar serta rasio yang benar tidak bisa dipandang sebelah mata. Data dan fakta di atas sebagai instrumen penting yang tak terbantah dalam mencari kebenaran akan wujud Allah swt di muka bumi ini. Oleh karenanya, mengamati alam semesta beserta isinya jalan terbaik mengenal Allah SWT.
Sebagai kesimpulan kajian tentang ayat-ayat kauniyah menunjukkan pengenalan terhadap Allah Swt tidak hanya dapat diperoleh melalui teks wahyu (ayat qauliyah), tetapi juga melalui pengamatan mendalam terhadap alam semesta sebagai manifestasi tanda-tanda kebesarannya.
Ayat kauniyah berfungsi sebagai media refleksi empiris yang mengarahkan manusia kepada kesadaran teologis, bahwa setiap fenomena alam mengandung hikmah dan keteraturan yang tidak mungkin terjadi tanpa adanya kehendak dan kekuasaan sang pencipta.***