Fungsi Al-Qur’an dalam Kehidupan Seorang Muslim

Senin, 27 April 2026 - 12:07:35 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


      SAAT ini, animo masyarakat terhadap Al-Qur’an sangat tinggi. Hal itu terlihat menjamurnya sekolah-sekolah tahfiz dan program-program berbasis Al-Qur’an. Mulai dari tingkat paling bawah TK (Taman Kanak-kanak) hingga perguruan tinggi, bahkan jika seorang berhasil menghafal 30 juz dengan baik akan diberi beasiswa penuh. Keseriusan itu semakin mengkristal seiring maraknya perlombaan-perlombaan membaca dan menghafal Al-Qur’an dari tingkat regional hingga internasional. Apresiasi (reward red) yang diberikan beragama tergantung jenis lomba yang diikuti.

Jujur sebenarnya kesadaran kembali kepada sumber utama ajaran Islam membuat bahagia dan gembira. Ternyata umat Islam masih memiliki kepedulian yang besar dengan kitab sucinya. Melalui tangan dingin para hafiz dan hafizah, lantunan tersebut menggema hingga ke pelosok-pelosok negeri. Era 90-an penghafal Al-Qur’an sesuatu yang sangat jarang didengar, namun hari ini rumah-rumah nyaris dipenuhi para muhafiz. Jadi, dapat disimpulkan anak-anak Gen-Z lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Namun perlu digarisbawahi,  Al-Qur’an bukan sedekar bacaan yang diulang-ulang dan diperlombakan. Di balik turunnya kitab suci yang mulia ini memiliki fungsi vital dalam kehidupan seorang muslim. Adapun fungsi-fungsi Al-Qur’an dalam kehidupan manusia ialah:

1.    Al-Qur’an Sebagai Penasihat

Kehadiran Al-Qur’an di tengah-tengah umat Islam sebagai pemberi nasihat (mau’izah). Pada dasarnya manusia memiliki sifat lupa dan lalai terhadap perintah-perintah Allah SWT. Maka agar tidak terjebak di jalan kesesatan seseorang butuh penasihat.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ

Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu penasihat (mau‘izhah) dari Tuhanmu. (QS. Yunus: 57)

Muhammad Al-Amin Al-Harari mengilustrasikan Al-Qur’an layaknya seorang dokter yang berprofesi mengobati orang-orang sakit. Namun sakit yang disembuhkan Al-Qur’an bukan bersifat lahiriah yang bisa dilihat dengan kacamata sains, tetapi rusaknya akhlak dan buruk perilaku juga disebut penyakit yang bisa diobati dengan nilai-nilai Al-Qur’an. (Tafsîr Hadâiqurauhi war raihâni, 12/280). Dalam pandangan Prof. Hikmat Basyir Yasin -ulama kelahiran Mosul Irak - menerangkan bahwa Al-Qur’an dapat mencegah seseorang dari perbuatan keji dan tercela. (At-Tafsîr As-Shahîh, 3/24).

Ilustrasi yang dikemukakan oleh dua ulama kondang di atas menegaskan bahwa Al-Qur’an berperan sebagai “dokter ruhani” yang menyembuhkan penyakit batin manusia. Kerusakan akhlak, penyimpangan perilaku, serta kegersangan spiritual tidak dapat diatasi hanya dengan pendekatan lahiriah, melainkan memerlukan bimbingan nilai-nilai ilahiah yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tetapi juga sumber terapi moral dan spiritual yang mampu mengembalikan manusia kepada fitrah kebaikan dan kehidupan yang beradab.

1. Al-Qur’an Sebagai Rahmat

Secara bahasa rahmat bermakna kelembutan atau juga bisa dipahami sebagai kasih sayang. Konsep rahmat dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna kelembutan atau belas kasih, tetapi mencakup segala bentuk kebaikan yang kemudian mampu mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji secara ilmiah bagaimana Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat serta implikasinya dalam kehidupan umat manusia.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan dengan ilmu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A‘raf: 52)

Rahmat pada ayat di atas bukan sebatas bermakna kasih sayang, tapi juga dipahami sebagai ketenangan jiwa dan kejernihan pikiran. Setiap ayat-ayat yang dibaca dan direnungkan dengan penuh hikmat akan melahirkan kekokohan iman. Selain itu, rahmat juga dapat dipahami sebagai kemudahan menjalani kehidupan.

3. Al-Qur’an Sebagai Nur

    Kata nur dalam Al-Qur’an terkadang bermakna cahaya, terkadang isyarat Malaikat Jibril dan juga dipahami sebagai kitab suci Al-Qur’an. Maka tatkala membaca ayat-ayat yang berbicara tentang nur seseorang harus jeli membedakan ketiga makna tersebut. Setiap kata memiliki pengertian yang tidak sama.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. QS. (An-Nisa’ : 174)

Menurut Ibnu Abi Hatim, cahaya yang dimaksud ialah kitab suci Al-Qur’an. (Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azhîm, 1125). Perumpamaan Al-Qur’an sebagai nur menunjukkan bahwa orang yang berpegang dengannya akan selamat, sebab ‘cahaya’ Al-Qur’an akan menerangi jalan hidup serta pikiran. Hari ini kita dikejutkan dengan berita-berita yang di luar nalar. Seorang anak tega menghabisi nyawa ibu kandungnya akibat kecanduan judol (judi online), seorang suami menghilangkan nyawa pasangannya karena kecanduan narkoba, maraknya praktek LGBT yang menimpa notabene orang orang dan bahkan mirisnya seorang guru Al-Qur’an melecehkan santrinya.

Mengapa semua ini bisa terjadi, apakah secara kebetulan, bukankah mereka orang-orang yang membaca kitab sucinya? Benar!. Mereka bahkan dengan mudah melantunkan ayat-ayat dengan suara yang indah. Namun setiap huruf yang keluar dari kerongkongan tidak mampu menerangi akal pikiran serta qalbunya. Oleh sebab itu, Al-Qur’an bukan sebatas bacaan tetapi hendaknya dijadikan penerang kehidupan.  Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan Kitab yang jelas. (QS. Al-Ma’idah :15)

Kesimpulannya, Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca atau dihafal, tetapi memiliki fungsi yang sangat fundamental dalam kehidupan seorang muslim. Ia berperan sebagai nasihat (mau‘izhah) yang membimbing manusia agar tidak terjerumus dalam kesesatan, sebagai rahmat yang menghadirkan ketenangan jiwa, kejernihan pikiran, serta kebahagiaan dunia dan akhirat, dan sebagai cahaya (nur) yang menerangi jalan hidup manusia. Oleh karena itu, interaksi dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada aspek tilawah semata, melainkan harus diiringi dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan, agar nilai-nilainya benar-benar mampu membentuk akhlak, memperkuat iman dan menuntun manusia menuju kehidupan yang lebih baik. (Bersambung)--***