Tiga Kewajiban Orang Tua Terhadap Anak

Selasa, 28 April 2026 - 08:21:23 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

  ORANG TUA asbab hadirnya seorang anak di dunia. Setelah anak lahir otomatis tanggung jawab yang besar berada di atas di pundak mereka. Bukan hanya sandang, pangan dan papan yang harus dipikirkan tetapi terdapat tiga tanggung jawab yang tidak boleh dipandang remeh.

Allah SWT berfirman:

﴿ وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩﴾

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah SWT dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya). (QS. An Nisa’ [4]: 9).

Menurut Ibnu Abbas: Makna keturunan yang lemah ialah agar tidak meninggalkan anak keturunan dalam keadaan meminta-minta (miskin). (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 2/222). Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik dibandingkan kamu meninggalkan mereka menjadi beban, meminta-minta kepada orang lain. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menegaskan bahwa meninggalkan ahli waris dalam kondisi berkecukupan merupakan bagian terpenting. Sebab hal itu dapat menjaga martabat dan kemandirian. Seorang anak yang hidup terlunta-lunta akan menjadi hina di mata manusia dan agama.

Sebaliknya, meninggalkan keturunan dalam keadaan kekurangan hingga bergantung kepada orang lain berpotensi menimbulkan kerentanan sosial dan degradasi kualitas hidup serta menipisnya nilai-nilai keimanan. 
Dari Anas bin Malik berkata:

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

" كَادَ الْفَقْرُ أَنْ يَكُونَ كُفْرًا"

Hampri saja kefakiran itu menjadikan kekafiran. (HR. Baihaqi).

Jadi, kewajiban pertama yang menjadi titik tekan orang tua ialah ekonomi.

Makna keturunan yang lemah pada ayat di atas tidak terbatas pada ekonomi saja, akan tetapi juga termasuk keimanan. Di sini orang tua harus lebih peka terhadap anak. Jangan biarkan mereka hidup berkecukupan, namun jauh dari Allah SWT dan bodoh ilmu agama (jahil). Hari ini kehidupan keluarga muslim tampak timpang, orang tua bersusah payah mencukupkan kebutuhan jasmani anaknya, tetapi lupa dengan kebutuhan rohaninya. Anaknya tumbuh sehat dan kuat secara jasmani, tatapi lemah secara ruhani. Ingatkah kita betapa pedulinya Nabi Ya’qub as terhadap keimanan anak-anaknya. Detik-detik ajalnya datang, beliau as berwasiat untuk tetap berada di jalan nenek moyang mereka.

Allah SWT berfirman:

﴿ اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٣ ﴾

Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 133).

Pesan yang terkandung dari wasiat Nabi Ya’qub AS di atas ialah wasiat keimanan. Selaku kepala keluarga tentu tidak ingin kelak anaknya memilih jalan yang salah. Jauh sebelum itu, seorang ahli hikmah yang bernama Lukmanul Hakim berpesan kepada anaknya Tsaran agar senantiasa menyembah Allah SWT dan menjauhi perbautan syirik, karena syirik merupakan dosa yang paling besar. Pesan laki-laki berkulit hitam itu diabadikan di dalam al-Qur’an al-Karim.

Allah SWT berfriman:

﴿ وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ ١٣ ﴾
(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Lukman [31]: 13).

Jadi, kewajiban kedua yang harus diperhatikan ialah aspek keimanan. Pastikan mereka tetap di jalan benar dan lurus sebelum para orang tua meninggalkan kehidupan dunia ini.

Adapun kewajiban lainnya yang harus ditunaikan orang tua ialah pendidikan. Jangan biarkan anak cucu kita hidup dalam kebodohan. Tertinggalnya umat ini karena abai dengan pendidikan. Dewasa ini dapat disaksikan betapa umat Islam di berbagai tempat hidup di atas kebodohan yang parah.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Repubulika bahwa tingkat kemampun baca Al-Qur’an umat Islam Indonesia 0.5 persen. (Sumber Republika).  Data ini menunjukkan betapa rendahnya pendidikan masyarakat Indonesia. UNESCO sebut daya minat baca masyarat Indonesia 000,1% dari 1000 orang. (Sumber Republika). Ketika suatu bangsa lemah di bidang pendidikan maka dengan mudah dijajah. Hari ini tanpa disadari masyarat muslim terbesar di dunia dikendalikan oleh segelintir orang. Tentu hal ini bertolak belakang dengan pesan-pesan yang disampaikan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.

Secara tidak langsung baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam memaksa umatnya untuk belajar. Dalam sebuah ungkapan disebutkan: “Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina”. (Ibnu Abdil Bar, Jami’u Bayanil ilmi wa fadhlihi, hlm 18). Nabi Muhammad saw meminta salah seorang sahabat untuk mempelajari bahasa Suryani.

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

Dari Tsabit bin Ubaid Al Anshari dari Zaid bin Tsabit ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani." (HR. Tirmizi).

Selain itu, baginda Rasulullah saw juga meminta Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi agar selamat dari ancaman mereka.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruhku untuk mempelajari -untuk nya- kalimat-kalimat [bahasa) dari buku [suratnya) orang Yahudi, nya berkata: 

“Demi Allah, aku tidak merasa aman dari [pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika nya menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk nya. Dan ketika mereka menulis surat untuk nya maka aku yang membacakannya kepada nya.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. (HR. Tirmidzi). Jadi, kewajiban ketiga yang harus diperhartikan orang tua ialah pendidikan. Jangan biarkan anak generasi yang ditinggalkan tanpa bekal ilmu pengetahuan.***