Dua Pelajaran Sangat Berharga di Balik Ziarah Kubur
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
ZIARAH kubur merupakan salah satu amalan yang tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga mencakup aspek edukasi dan refleski bagi kehidupan. Ketika melihat pusara akan terlintas dalam pikiran bahwa dunia bersifat sementara, apa yang dimiliki pasti akan ditinggal dan akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Kesadaran ini membawa dampak negatif yang besar, sebab secara tidak langsung ia dapat menumbuhkan sikap rendah hati dan mengikis sifat sombong.
Dalam konteks ini, ziarah kubur sebagai sarana untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik dengan meningkatkan amal ibadah. Di samping itu, terdapat pelajaran-pelajaran yang sangat berharga di balik tradisi ziarah kubur yaitu:
1. Pengingat Kematian
Setiap manusia mesti menyadari dunia bukan tempat tinggal, akan tetapi tempat meninggal. Ada yang datang dan ada yang pergi. Setiap orang hanya menunggu waktu yang telah ditentukan. Apabila waktu itu telah tiba maka tidak satupun yang dapat menghalangi.
Orang yang cerdas adalah yang ingat akan kehidupan akhirat, ingat akan perjalanan yang panjang dan abadi. Salah melangkah akan berakibat fatal. Agar tidak tergelincir dalam kubang kemaksiatan dan kesesatan, maka ziarah kubur salah satu jalan terbaik yang bisa ditempuh. Sebab dengan melazimkan amalan sunah ini, seseorang akan selalu ingat dengan kematian.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ، فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ، فَقَالَ: «اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي، وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي، فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ»
Dari Abu Hurairah berkata, Nabi saw menziarahi kubur ibunya lalu beliau menangis, dan orang-orang sekelilingnya ikut menangis. Kemudian bersabda: “Saya memohon izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankan oleh-Nya. Dan saya meminta izin untuk menziarahi kuburnya, lalu diperkenankan oleh-Nya. Karena itu, berziarah kubur lah karena ia akan mengingatkan kalian akan kematian.” (HR. Muslim).
Tidaklah seseorang memiliki hati yang keras yang lebih bermanfaat untuk dilakukan daripada ziarah kubur, karena hal itu mengingatkan pada kematian, mencegah kemaksiatan, melembutkan hati dan menghilangkan suka cita terhadap dunia. Ziarah kubur membuka hati yang tertutup, menjauhkan dari peruatan dosa. (Munawi, Faidhul Qadîr, 4/67).
Ziarah kubur seumpama alarm yang mengingatkan akan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Dimana penentu kebahagiaan kelak berbanding lurus dengan perjalanan hidup di dunia. Ketika alarm itu berbunyi maka setidaknya ia telah memberi isyarat dunia ini bersifat sementara.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الآخِرَةَ
Aku pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi makam ibunya. Maka berziarahlah karena berziarah kubur itu dapat mengingatkan dengan akhirat. (HR. Tirmidzi).
Melalui ziarah kubur, seseorang diarahkan untuk menyadari kefanaan dunia, memperkuat iman, serta mendorong diri untuk memperbanyak amal saleh. Ibnu Utsaimin berkata: sesuatu yang dapat mengingatkan seseorang dengan akhirat wajib beramal dengannya, karena hati yang lupa akhirat akan sibuk dengan urusan dunia. Lenyaplah kedua-duanya, dunia dan akhirat, karena orang yang lupa akhirat pasti lupa dunia. (Ibnu Ustaimin, Riyâdhushâlihîn, 3/472).
2. Menumbuhkan Hidup Zuhud
Secara bahasa zuhud bermakna tidak berharga. Menurut istilah zuhud adalah memandang segala sesuatu di dunia ini tidak bernilai. Biasanya orang-orang yang zuhud tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, akan tetapi sebagai sarana untuk mendapatkan kebahagian yang abadi. Banyak cara untuk menumbuhkan sikap zuhud dalam kehidupan. Terkadang ada yang menyendiri (uzlah) di tempat-tempat sunyi dan ada juga fokus ibadah tanpa bersusah payah mengejar dunia.
Namun di balik itu semua, ternyata menumbuhkan hidup zuhud bisa dicari dengan ziarah kubur.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِي الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ»
Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Dahulu aku larang kalian ziarah kubur, maka sekarang ziarahlah karena ia dapat menjadikan zuhud di dunia dan ingat dengan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)
Ziarah kubur mampu menumbuhkan sikap zuhud, yaitu tidak berlebihan dalam mencintai dunia dan tidak terikat pada kenikmatan sementara. Dengan mengingat kematian, seseorang akan lebih bijak dalam menjalani kehidupan, mengutamakan nilai akhirat, serta menjadikan dunia hanya sebagai sarana menuju kebahagiaan yang hakiki. Imam Al-Qurthubi berkata: Tidak ada yang lebih hebat dalam melembutkan hati yang keras selain ziarah kubur. (Muhammad bin Ahmad Al-Hanbali, Al-Bukhûru az-Zakhirah fi Uluûmil Akhirah, 1/35).
Ziarah kubur bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan sarana refleksi spiritual yang memiliki dampak mendalam bagi kehidupan seorang muslim. Melalui ziarah kubur, seseorang diingatkan akan kepastian kematian, sehingga terdorong untuk mempersiapkan bekal akhirat dengan memperbanyak amal saleh dan menjauhi kemaksiatan.
Di sisi lain, ziarah kubur juga menumbuhkan sikap zuhud, yaitu tidak berlebihan dalam mencintai dunia serta menjadikannya hanya sebagai sarana menuju kebahagiaan yang abadi. Dengan demikian, ziarah kubur berperan penting dalam melembutkan hati, memperkuat iman dan membentuk pribadi yang lebih bijak dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat. ***