Empat Tipikal Anak Menurut Al-Qur’an
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
TUJUAN sebuah pernikahan adalah untuk mencari ketenangan, kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan. Elemen-elemen ini menjadi tolak ukur dalam menentukan keberhasilan perjalanan sebuah rumah tangga. Allah Subhanahu Waatala berfirman: Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah bahwa dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari (jenis) dirimu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. (QS. Ar-Rūm: 21).
Berdasarkan ayat di atas ketenangan atau ketentraman hanya bisa dicapai dengan menikah sesama manusia dari jenis kelamin yang berbeda. Jika seseorang menikah dengan jin, hewan atau sesama jenis (laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan) maka semua itu tidak akan pernah diperoleh.
Al-Qur’an yang mulia menuturkan keberadaan seorang anak bagi orang tua tergolong kepada empat jenis,l. 1 Sebagai penyejuk mata, 2.Menjadi musuh, 3 perhiasan dan, 4) Ujian. Empat tipologi ini dijelaskan oleh al-Qur’an secara gamblang.
1.Penyejuk Mata
Kehadiran seorang anak dalam kehidupan rumah tangga menjadi penyemangat di kala lelah, penghibur di kala sedih, pelipur di kala lara, dan penyejuk mata di kala sepi. Al-Qur’an yang mulia mengistilahkan dengan qurratu a’yuni (penyejuk mata).
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا ٧٤
Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqān: 74)
Penyejuk mata yang dimaksud bukan bentuk fisik bagus dan rupa yang menawan. Menurut Ibnu Abbas, seorang anak dikatakan penyejuk mata orang tua apabila menjadi anak yang shaleh atau shalehah. (Ibnu Abbas, Tanwîrul Miqbâs, 1/306). Imam at-Thabari menegaskan, penyejuk mata adalah orang tua melihat anak-anaknya taat dengan perintah Allah swt. (At-Thabari, Jâmi’ul Bayân fi takwîlil Qur’ân, 19/318).
Penyejuk mata juga bermakna anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Selalu menjalin silaturahmi baik di kala sibuk tak terkecuali waktu luang, tidak menyakiti hatinya dan selalu berkata lemah lembut. Anak yang pandai membahagikan hati orang tua baik dengan sikap, kata-kata dan perbuatan adalah anak penyejuk mata. Setelah orang tua tiada anak tidak henti mendoakannya.
2.Ujian Hidup
Jenis kedua kehadiran seorang anak dalam rumah tangga ialah sebagai ujian bagi orang tua. Mengapa? Karena anak menguji kesabaran dan keikhlasan dalam mendidik dan membesarkan.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ࣖ ٢٨
Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar. (QS. al-Anfāl: 28)
Ujian yang dimaksud pada ayat di atas ialah anak yang menyelisihi perintah orang tuanya. Nabi Adam as diuji dengan salah seorang anaknya Qabil yang mengabaikan perintah Allah swt untuk nikah silang. Peristiwa yang serupa juga menimpa Nabi Nuh as, dimana Nuh as memanggil-manggil anaknya Kan’an untuk ikut naik ke perahu penyelamat, namun sang anak lebih memilih jalan sendiri sehingga menyebabkan tenggelam dalam lamunan ombak.
Ujian yang dimaksud ayat di atas juga bisa dipahami bahwasanya seorang anak tidak mendengarkan nasihat orang tuanya, bahkan anak cenderung membantah dan melawan. Di sini dibutuhkan kesabaran dan ketugahan hati yang kuat dalam mengahadapi tipe anak seperti ini.
Orang tua tidak boleh berlepas tangan mendidik dan membimbingnya meski anak itu menyusahkan. Sebab batas tanggungjawab orang tua setelah ajal menjemput.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
Apakah kamu (hadir) menjadi saksi menjelang kematian Ya‘qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.” (QS. Al-Baqarah: 133)
Jadi meskipun keberadaan anak terkadang perbuatannya menjengkelkan dan membuat marah, maka orang tua harus tetap mendidiknya dengan baik dan penuh kasih sayang.
3.Perhiasan Dunia
Allah Subhanahu Waatala mensejajarkan kedudukan cinta terhadap anak dengan kecintaan kepada harta benda. Hal itu karena kehadiran seorang anak dapat melalaikan layaknya mengurus harta.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤
Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik. (QS. Ali Imran: 14)
Berdasarkan ayat di atas, Allah Subhanahu Waatala informasikan kecenderungan manusia terhadap harta benda dan anak tidak dapat dibendung. Karena hal itu adalah bagian dari fitrah manusia. Selama hayat di kandung badan kecintaan terhadap kehidupan dunia pasti ada, hanya saja orang beriman tidak memasukkannya ke dalam hati. Ibnu Abbas berkata, perhiasan dunia dimaknai dengan bunga kehidupan yang tidak akan kekal sebagaimana rumput akan kering. (Ibnu Abbas, Tanwîr al-Miqbâs, 1/248).
4.Sebagai Musuh
Bagian ke empat ini sangat berat. Kehadiran anak yang mulanya untuk pelipur lara, mengisi kekosongan jiwa, penyejuk hati dan penyemangat kehidupan, lantas menjadi musuh nyata. Anak tidak mendatangkan kebahagian dan kegembiraan, akan tetapi menghadirkan mimpi suram bagi orang tuanya. Anak menjadi musuh dalam kehidupan orang tua.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taghabun: 14)
Kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Dewasa ini santer terdengar kabar orang tua yang dipejarakan anaknya sendiri. Dimana anak seharusnya menjadi penyejuk mata, berubah menjadi musuh nyata.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Al-Qur’an membicarakan tipologi anak, dari empat model yang digambarkan hanya satu yang benar-benar menjadi harapan orang tua, anak sebagai penyejuk mata. Sementara tiga tipe lainnya menjadi sesuatu yang tidak diinginkan orang tua. Agar tidak dikarunia tiga jenasi terakhir hendaklah orang tua memberi pendidikan agama yang baik dan mengajarkan nilai-nilai islam yang luhur.***