Embrio yang Terdapat dalam Al Qur’an

Kamis, 07 Mei 2026 - 07:44:03 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


    AL-QUR'AN merupakan kitab suci umat Islam tidak hanya berbicara tentang ilmu, iman dan amal. Dalam sejumlah ayat terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang menjadi tantangan tersendiri bagi umat manusia untuk mengkaji dan meneliti lebih jauh tentang fenomena alam semesta yang menakjubkan. Para ilmuan barat dan timur tidak pernah berhenti berpikir untuk mengungkap rahasia di balik itu semua. Salah satu yang menarik perhatian mereka adalah ilmu embriologi.

Secara sederhana embriologi merupakan sebuah cabang ilmu biologi yang berbicara tentang asal-usul kejadian manusia. Kemajuan ilmu sains modern mengakui bahwa proses penciptaan manusia sangat unik, bahkan secanggih apapun teknologi di masa mendatang tidak akan mampu menyamainya. Namun meski demikian, apa yang diungkap oleh para saintis tersebut bukan sesuatu yang mencengangkan, sebab empat belas abad silam Al-Qur’an telah mengungkap dengan baik.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar, seorang ahli astronom dan embriologi Keith L. Moore mengungkap bahwa kitab suci umat Islam ini sangat presesi menjelaskannya. (Jurnal Budi Pekerti Agama Islam, Volume 3, Nomor 3, Juni 2025, hlm 368).

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا

“Wahai manusia! Jika kamu ragu tentang kebangkitan, maka (ketahuilah) Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah (‘alaqah), kemudian dari segumpal daging (mudghah) yang sempurna dan tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu… kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi…” (QS. Al-Hajj: 5)

Perumpamaan asal kejadian manusia dari tanah yang kemudian menjadi manusia sempurna adalah cara Allah swt mengajak manusia berpikir akan kepastian hari berbangkit, dari benda mati menjadi makhluk yang istimewa. Zamakhsyari berkata, ayat di atas menantang manusia untuk menciptakan proses kejadian yang sempurna, dari tanah berubah menjadi air lalu darah dan berakhir dengan manusia sempurna yang disimpang di dalam rahim yang gelap gulita. (Muhammad Ali As-Shobûni, Shofatuttafâshîr, 2/281).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa proses penciptaan manusia bukan sesuatu yang sederhana. Sehebat apapun ilmu kedokteran di masa akan datang tidak akan pernah mampu menandingi kreasi Allah swt yang rumit ini. Maka oleh karena itu, sebagai manusia sudah sepatutnya mengakui kekuasaan Allah dan kepastian hari berbangkit.

Lebih jauh, Al-Qur’an membicarakan proses kejadian manusia dalam tiga fase kegelapan.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ

Dia menurunkan untukmu delapan pasang hewan ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. (QS. Az-Zumar: 6).

Menurut tafsir ilmi, tiga kegelapan ialah dinding perut, rahim dan selaput (plasenta). Pernyataan ini sejalan dengan firman Allah swt yang lain, Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tahapan (fase). (QS. Nûh: 14). Dengan demikian, Al-Qur’an telah mengungkap kebenaran ilmiah yang telah ditemukan oleh para ilmuan modern. Selain itu, kadar waktu setiap fase-fase di atas hingga ditiup ruh dijelaskan secara presisi.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

‎إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ

Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama empat puluh hari sebagai nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah selama itu pula, kemudian menjadi mudghah selama itu pula. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis tersebut adalah bahwa penciptaan manusia berlangsung melalui tahapan yang bertahap, teratur, dan penuh hikmah dalam rahim ibu. Empat puluh hari pertama berupa air yang berangsur menjadi darah, empat puluh hari kedua darah yang pekat dan empat puluh hari ketiga potongan-potongan daging yang akan menjadi cikal bakal cabang bayi. (Badruddin Al-Aini, Umdatul Qârî, 15/179).

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab petunjuk spiritual, tetapi juga memuat isyarat-isyarat ilmiah yang mendorong manusia untuk berpikir dan meneliti. Penjelasan Al-Qur’an mengenai proses penciptaan manusia. Mulai dari nutfah, ‘alaqah, hingga mudghah menunjukkan adanya tahapan perkembangan embrio yang sistematis dan teratur, yang dalam banyak hal sejalan dengan temuan ilmu embriologi modern.***