Berdialog dengan Allah Subhanahu Waatala Sangat Penting
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
DIALOG (muhâdatsah) merupakan sebuah sarana yang paling efektif dalam meluapkan isi hati. Seseorang yang sedang dirundung musibah berusaha mencari jalan keluar agar persoalan yang dihadapi segera berakhir.
Namun terkadang hasil jauh dari harapan, masalah yang dihadapi justru semakin runyam dan berat sebab tempat menggantungkan harapan tidak mampu memberi solusi. Kebuntuan akal dan lemahnya daya naluri menjadi titik di mana manusia semakin sadar akan keterbatasannya. Oleh sebab itu, bila seseorang sampai pada fase ini sering kali kehilangan arah hidup dan merasa dunia akan tidak lagi bersahabat dengannya.
Sebenarnya bukan dunia yang kejam, tetapi manusia itu yang zalim. Mereka terlalu yakin dengan kemampuan dirinya, sehingga tidak butuh kepada selainnya. Ciri masyarakat modern kala dihadapkan dengan ragam problematika hidup enggan kembali ke penciptanya, ia lebih percaya dengan arahan dan bimbingan manusia yang lemah. Seandainya segala keluh kesah dan beratnya hidup diadukan kepada pemberi masalah itu sendiri maka tiada apapun kecuali akan memperoleh jalan keluar.
Allah Subhanahu Waatala selalu ada di setiap saat bagi hamba-hamba-nya yang butuh. Dia tidak pernah lari dari ruang kehidupan manusia, Dia senantiasa menunggu siapa yang datang kepada-nya. Dia sangat dekat, sedekat urat nadi. Para nabi dan Rasul selalu mencurahkan keluh kesah dan beratnya ujian hidup ketika menyampaikan pesan-pesan dakwah, namun semua itu terasa ringan dan selalu berakhir indah.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh petunjuk.(QS. Al-Baqarah: 186)
Pengertian qarîb (dekat) pada ayat di atas sebagai isyarat bahwa Allah swt Allah ada setiap saat dan setiap tempat. (Ad-Dûr al-Mantsûr fi tafsîr al-Ma’tsûr, 2/261). Maknanya ialah pengawasan, pengetahuan dan pertolongannya selalu menghampiri hamba-Nya yang beriman. Kapan dan di mana pun seseorang ‘menemui-Nya’ pastikan akan ia dapati. Suatu hari baginda Rasulullah saw memberi nasihat berharga kepada seorang anak muda, lantas berkata:
Wahai anak muda, sungguh aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. (HR. Tirmizi)
Selain melalui doa, ibadah shalat menjadi media utama yang memfasilitasi dialog antara manusia dan Allah swt. Karena shalat juga dipahami sebagai shilah (penghubung) antara hamba dan Allah Subhanahu Waatala
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي صَلَاتِهِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ
Sesungguhnya salah seorang di antara kalian apabila berdiri dalam salat, maka ia sedang bermunajat dengan Tuhannya. (HR. al-Bukhari).
An-Nawawi berkata: Munajat yang dipahami pada teks hadis di atas ialah sebuah isyarat hati yang ikhlas dan merasakan hadirnya Allah swt saat mengingat-Nya. (Badruddîn Al-Ainî, Umdatulqârî syarhu Shahih Al-Bukhârî, 4/221).
Pemahaman ini juga menegaskan bahwa shalat merupakan sarana paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah, mencurahkan isi hati, serta memperoleh ketenangan dan kekuatan jiwa. Secara spesifik Surat Al-Fatihah memfasilitasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad bersabda:
Allah Ta‘ala berfirman:
Jika hamba berkata: ‘Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’
Jika ia berkata: ‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’
Jika ia berkata: ‘Pemilik hari pembalasan,’ Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’
Jika ia berkata: ‘Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,’ Allah berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’
Jika ia berkata: ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat,’ Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’”(HR. Muslim)
Riwayat di atas menunjukkan bahwa membaca Surah Al-Fatihah ketika shalat bukan sekadar rangkaian bacaan, tetapi merupakan dialog spiritual yang penuh makna.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa berdialog dengan Allah Subhanahu Waatala melalui doa dan shalat merupakan kebutuhan spiritual yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena akal dan kemampuan manusia ada batasnya, maka jalan terbaik adalah kembali kepada Allah Subhanahu Waatala sebagai tempat bergantung dan mengadukan segala persoalan. Bacaan Surah Al-Fatihah menjadi bukti nyata adanya dialog spiritual antara hamba dan Allah Subhanahu Waatala, di mana setiap ayat mendapat jawaban dari-nya sebagaimana dijelaskan dalam hadis qudsi di atas.***