Fungsi Al-Qur’an Dalam Kehidupan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
BEBERAPA waktu yang lalu, telah diuraikan tentang fungsi-fungsi Al-Qur’an dalam kehidupan seorang mukmin. Di antaranya berfungsi menghidupkan roh di dalam tubuh, menyembuhkan penyakit hati, memberi petunjuk dalam mencari kebenaran, menasihat bagi yang lalai, berkasih sayang dalam bermua’alah dan menjadi cahaya dalam kehidupan (lihat pembahasan sebelum ini). Maka selain itu, terdapat fungsi-fungsi lain seperti:
1. Sebagai Furqôn (Pembeda)
Secara bahasa al-furqôn (الفُرْقَانُ) bermakna pembeda, yaitu pembeda antara hak dan batil, halal dan haram, benar dan salah. Al-Qur’an menjadi acuan utama dalam menilai segala sesuatu, jika benar menurut Al-Qur’an maka benarlah suatu perkara, namun bila salah menurutnya maka harus dinilai salah. Cara pandang seperti ini tidak boleh digeser sedikitpun, sebab apapun yang tertuang di dalamnya mutlak benar.
Orang yang berpegang teguh dengan nilai-nilai Al-Qur’an akan terpelihara dari kesesatan pemikiran, dekadensi moral dan selamat dari tipu daya setan. Sebab membaca dan memahami serta mentadabburi setiap makna ayat akan memberi peringatan dini sebelum seseorang melangkah lebih jauh.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا﴾
Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al-Furqan: 1).
Menurut Al-Marâghi, kata al-furqôn pada ayat di atas bermakna Al-Qur’an. (Ahmad Mushtafâ Al-Marâghi, Tafsîr Al-Marâghi, 18/146). Al-Qur’an disebut pembeda karena ia menjelaskan dengan tegas antara perbuatan yang diridhai Allah dan yang dilarang-Nya. Dalam konteks akidah, Al-Qur’an membedakan antara iman dan kufur, tauhid dan syirik. Dalam aspek hukum, Al-Qur’an menerangkan perkara halal dan haram. Dalam bidang akhlak, Al-Qur’an mengajarkan sifat-sifat mulia seperti jujur, amanah, sabar, dan kasih sayang, serta melarang sifat tercela seperti dusta, sombong, dan zalim.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا ﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqon. (QS. Al-Anfal: 29).
Di sini dapat dipahami bahwa sifat yang orang mampu menjadikan (Al-Qur’an) sebagai pembeda ialah ketakwaan. Menurut Qatadah furqon bermakna jalan keluar, Mujahid menambahkan dengan (jalan keluar urusan) dunia dan akhirat. Sementara dalam pandangan Ibnu Abbas furqon dipahami sebagai pertolongan. (Ibnu Katsîr, Tafsîr Al-Qur’ân Al-Azhîm, 4/42-43). Dengan demikian, kehadiran Al-Qur’an tidak hanya sebagai kitab bacaan dalam mencari pahala, tetapi sebagai jalan keluar persoalan hidup dan turunnya ma’ûnah (pertolongan) Allah swt, memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
2.Sebagai Dzikir (Pengingat)
Secara bahasa adz-Dzikr (الذكر) bermakna peringatan atau pengingat. Yang dimaksud sebagai peringatan ialah Al-Qur’an senantiasa mengingatkan manusia agar tidak lalai dari tujuan hidup, sadar akan banyaknya dosa dan akhirat kehidupan yang kekal abadi. Tidak syak dalam mengarungi kehidupan manusia sering lupa untuk mereka diciptakan. Gemerlap dunia yang begitu indah telah membutakan mata hati sehingga hilangnya nilai-nilai keimanan. Maka dalam keadaan seperti itu, seseorang butuh pengingat agar kembali ke jalan yang benar.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya. (QS. Al-Hijr: 9)
Al-Qur’an mengingatkan manusia tentang pentingnya beriman dan beramal shaleh. Di dalamnya terdapat kisah umat terdahulu yang dihancurkan akibat kesombongan dan kedurhakaan mereka kepada Allah. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita sejarah, tetapi pelajaran agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Allah Swt berfirman: Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada orang yang takut kepada ancaman-Ku. (QS. Qaf: 45).
Jadi, dengan demikian Al-Qur’an diturunkan tidak sekedar menjadi bacaan, tetapi untuk mengingatkan manusia tentang hakikat kehidupan dunia yang bersifat sementara dan akhirat yang kekal abadi.
3. Sebagai (Al-Bayân) Penjelas
Secara sederhana, al-bayân dipahami dengan penjelas, yaitu menjelaskan antara hak dan batil, benar dan salah. Selain itu, sesungguhnya Al-Qur’an tidak hanya menjelaskan sesuatu yang bisa dilihat dan diraba, tetapi juga menjelasna hal-hal yang bersifat ghaibiyat (gaib) seperti wujud malaikat, keberadaan Allah swt, takdir baik dan buruk serta surga dan neraka. Tanpa Al-Qur’an manusia tidak akan mampu memahaminya dengan baik, sebab akal bersifat terbatas. Orang-orang yang mengingkari kehidupan sesuatu yang gaib diawali menolak keberadaan Al-Qur’an sebagai penjelasa yang turun dari Allah swt.
Allah Subhanahu berfirman:
هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
Ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 138)
Bayan (penjelas) yang dimaksud bukan hanya untuk orang-orang beriman, tetapi seluruh umat manusia. Betapa banyak orang-orang yang tidak beriman mendapat hidayah setelah menggali makna yang terkandung di setiap ayat. Di samping itu, Al-Qur’an juga memberikan penjelasan melalui kisah-kisah umat terdahulu agar manusia mengambil hikmah dari perjalanan sejarah tersebut. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai bacaan ibadah, tetapi juga sebagai sumber pendidikan moral dan spiritual.
Sebagai kesimpulan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup yang memiliki fungsi sangat agung bagi kehidupan manusia seperti furqôn, pembeda antara hak dan batil, benar dan salah, adz-dzikr, mengingatkan manusia agar tidak lalai dari tujuan penciptaannya dan al-bayân, penjelas bagi seluruh manusia.
Oleh sebab itu, seorang mukmin hendaknya tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami, mentadabburi, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kemuliaan dan kebahagiaan hidup akan diraih ketika manusia menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam seluruh aspek kehidupan.***