Jangan Tergesa-Gesa Memuji Seseorang

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:55:41 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

   

    PERANG Uhud merupakan salah satu perang bersejarah yang dipimpin langsung baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam.Pada perang ini kaum muslimin mengalami kekalahan besar, sejumlah sahabat mendapatkan syahid di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib melalui tangan Wahsyi budak belian milik Hindun istri Abu Sufyan. Selain itu, satu nama yang jarang diulas dalam perang ini ialah Quzman seorang penduduk Madinah dari bani Zhafar. Saat panggilan jihad tiba, ia segera menyiapkan peralatan perang dan menyatakan diri bergabung dengan pasukan kaum muslimin.

Selama bertempur di medan perang musuh kewalahan menghadapinya, sebab ia mampu mengalahkan lawan tujuh atau delapan orang sekaligus, sebuah prestasi yang jarang ditorehkan pasukan manapun. Dengan keberanian, kegigihan dan ketangguhan serta kekuatannya, para sahabat melayangkan pujian setinggi langit bahwa tiada balasan yang pantas diterima kecuali surga. Penilain itu sangat wajar, secara zahir apa yang dilakukan Quzman sesuatu yang menakjubkan. Kala itu tak banyak yang bisa menaklukkan sepertinya.

Namun pandangan manusia biasa dengan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam jauh berbeda, di mana beliau mengakatan Quzman di antara orang yang masuk neraka. Sontak ucapakan tersebut membuat para sahabat kaget, sebab apa yang dipersembahkannya untuk Islam sungguh sesuatu yang sulit dicapai. Tentu apa yang diucapkan Rasulullah saw bukan atas dasar hawa nafsu, setiap kata yang keluar dari mulutnya dibimbing langsung oleh Allah Subhanahu Waatala.

Tak lama berselang, Quzman terkena sabetan pedang dan tusukan anak panah di sekujur tubuhnya. Luka yang semakin parah membuat menderita bertambah hebat sehingga mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Namun sebelum peristiwa itu terjadi, seorang sahabat sempat menyampaikan kabar gembari sembari berucap, “Bergembiralah wahai Quzman, engkau mendapat ujian yang besar hari ini!”, lantas Quzman menjawab, “Bergembira untuk apa?”. Sahabat itu menjawab, “Engkau mendapat surga karena telah membela islam dan kaum muslimin!”. Quzman menimpali dan berkata,”Saya berperang bukan karena iman, islam dan kaum muslimin, tetapi untuk membela kaumku agar aku disebut pahlawan!”.

Lalu kemudian ia pun mengambil sebilah pisau memotong urat nadinya dan meninggal.  Setelah kejadian tersebut, para sahabat menceritakan kepada Rasulullah saw, lantas beliau bersaba: Sungguh saya adalah utusan Allah swt, sesungguhnya Allah Subhanahu Waatala menguatkan agama ini dengan orang fajir. (HR. Bukhari).

Dari kisah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jangan terlalu cepat menilai seseorang sebelum melihat fakta lebih jauh. Bisa jadi sesuatu itu baik dalam pandangan manusia, namun buruk dalam pandangan Allah Subhanahu Waatala, dan sebaliknya sesuatu yang buruk dalam penilaian manusia belum tentu buruk dalam pandangan Allah Subhanahu Waatala. Selama ia manusia dan belum terbukti benar yang apa dilakukan maka hendaklah menahan diri untuk memberi pujian yang berlebihan. Benar dan salah bukan dalam pandangan manusia, tetapi sesuai dengan penilaian islam. Maka oleh karenanya, berhati-hatilah memberi pujian sebelum tahu kebenarannya.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra’: 36)

Ayat di atas merupakan larangan untuk tidak berkata dan bertindak terhadapa sesuatu yang belum dikentahui kebenarannya, karena kelak di akhirat setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan. (Mushtafa Al-Hason Al-Mansûri, Al-Muqtathof min ‘Uyûnit tafsîr, 3/196)  

Hari ini seseorang betapa gegabah melabelkan sesuatu baik, benar, hebat dan menakjubkan kepada orang lain padahal kebenarannya masih diperdebatkan, atau sesuatu yang belum final. Sikap tergesa-gesa seperti itu termasuk perbuatan yang dilarang, karena dapat menimbulkan dampak buruk baik untuk diri sendiri maupun khalayak ramai. Prinsip al-Qur’an sangat jelas, tabayun sebelum memberi keterangan.

Selain itu, hikmah kisah singkat di atas memberi pelajaran bahwasanya apa yang diucapkan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam pasti selalu benar, sebab perkataan, perbuatan, gerak dan diamnya adalah wahyu yang tidak mungkin salah. Sementara manusia biasa belum tentu benar, maka oleh karenanya sebelum berkomentar harus ekstra hati-hati. Pelajaran berharga lainnya ialah sangat mungkin ada orang-orang yang secara zahir menunjukkan pembelaan terhadap agama ini dengan tujuan mencari nama, agar disebut orang hebat dan sebagai pahlawan. Bila hal itu terjadi maka ia termasuk orang rugi di akhirat.

Kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seorang muslim hendaknya selalu memperbaiki niat dalam setiap amal, menjauhi riya dan mencari popularitas, serta lebih sibuk mengoreksi diri daripada menilai orang lain. Amal yang diterima di sisi Allah Subhanahu Waatala bukan sekadar terlihat hebat di mata manusia, tetapi yang dilakukan dengan iman, ikhlas, dan mengharap ridha-Nya semata.***