Hidup Ini Persinggahan Sementara, Persiapkan Bekal menuju Akhirat
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
HIDUP di dunia ini sangat singkat, orang-orang sufi mengibaratkan tak ubahnya seperti orang yang sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat lalu beristirahat sejenak kemudian pergi melanjutkan safarnya. Rasulullah Subhanallah Waatala mengabarkan rata-rata umur umatnya antara 60-70 tahun dan hanya sedikit yang lebih dari itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ»
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda: Umur umatku antara 60-70 tahun. Sedikit yang melampaui usia itu. (HR. Tirmizi)
Allah Subhanahu Waatala juga mengabarkan kepada hamba-Nya bahwa kehidupan dunia ini seperti sebuah kegembiraan yang mana rasa gembira datang dan pergi. Tidak satu pun rasa gembira yang pernah menyelimuti seseorang bersifat kekal abadi. Hari ini bahagia dan gembira, esok sedih dan terluka; hari ini mendapatkan kenikmatan yang banyak, esok ditimpa musibah. Dua sifat itu datang silih berganti.
Allah Subhānahu wa tā’ala berfirman:
يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ ٣٩
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS: Mukmin: 39).
Menurut al-Wāhidī, kata matā’un (kesenangan) dalam ayat ini bermakna muddah wala tabqā (beberapa saat dan tidak kekal/sementara). (Al-Wāhidi, al-Wajīz fi Tafsīr al-Kitāb al-‘Azīz, hlm 1/946).
Selain kehidupan dunia diumpamakan dengan suatu kesenangan (matā’un), Allah Subhanahu Waatala juga menyebutnya dengan sebuah permainan yang sifatnya tidak permanen. Apapun jenis permainan di dunia ini pasti akan berakhir. Berakhir dengan kemenangan atau kekalahan, yang jelas ia pasti akan berakhir. Dan permainan bersifat melalaikan. Orang-orang yang sibuk dengan permainan banyak lalai dengan perintah Allah Subhanahu Waatala.
Allah Subhānahu wa tā’ala berfirman:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ ٢٠
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS: al-Hadīd: 20).
Dalam ayat lain Allah Subhānahu wa tā’ala berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ١٣١
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS: Thāha: 131).
Imam Ibnu Katsir menyebutkan, kehidupan dunia bagaikan sebuah bunga yang akan layu dan mati (berkahir). (bnu Katsīr, Tafsīr Ibni al-Katsīr, (Dār al-Thayyibah, 1999), hlm 8/23-24).
Dalam sebuah riwayat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam sebutkan, hendaklah seorang muslim menganggap dirinya asing atau seorang musafir yang singgah di sebuah tempat yang suatu saat pasti akan meninggalkan tempat tersebut.
Rasulullah Shalallahu hallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ الله بْنِ عُمَرَ قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ».وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ.
Dari Abdullah bin Umar, berkata, Rasulullah memegang pundakku lalu bersabda: Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau musafir. Lalu Ibnu Umar berkata: Apabila waktu sore tiba janganlah menunggu pagi, dan apabila waktu pagi tiba janganlah menunggu sore, manfaatkanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu. (HR. Bukhari).
Di samping dunia bersifat sementara, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam mengisyaratkan kehidupan dunia tidak sebanding dengan kehidupan akhirat. Ia ibarat sehelai sayap nyamuk tak bernilai sama sekali.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ»
Dari Sahab bin Sa’id berkata, Rasulullah bersabda: Seandainya harga dunia di sisi Allah sebanding dengan sehelai sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang-orang kafir walaupun hanya seteguk air.(HR. Tirmizi)
Selain itu, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam juga mengibaratkan kehidupan dunia ini seperti telunjuk yang dimasukkan ke lautan lalu kemudian diangkat. Sebanyak apa air yang menempel di telunjuk tersebut, maka sebanyak itu pula kesenangan dunia bila dibandingkan dengan kesenangan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَاللهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ - وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ - فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ؟»
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi bersabda: Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalaian yang dicelup di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa. (HR. Muslim).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan yang sangat singkat, sementara akhirat adalah negeri yang kekal abadi. Dunia penuh dengan kesenangan, permainan, dan perhiasan yang sifatnya sementara serta dapat melalaikan manusia dari Allah Subhanahu Waatala.
Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya hidup seperti musafir, tidak terlalu terpaut pada dunia, memanfaatkan waktu dengan baik, kesehatan dan usia untuk beramal saleh sebelum datang sakit, tua, dan kematian. Seluruh kenikmatan dunia dibanding kenikmatan akhirat tidak lebih dari setetes air di lautan atau bahkan sehelai sayap nyamuk di sisi Allah Subhanahu Waatala Maka kebahagiaan sejati adalah mempersiapkan bekal menuju akhirat dan mencari ridha Allah Subhanahu Waatala. ***