Nilai-nilai Pendidikan dalam Ibadah Qurban
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ.
اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ.
اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ.
اللّٰهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَ لِلّٰهِ اْلحَمْدُ.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِى جَعَلَ عِيْدَ اْلأَضْحى عِبْرَةً لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَ الْمُرْسَلِيْنَ سَيِّدِنَا وَ مَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنُ. أَيُّهَا الْإِخْوَانُ إِتَّقُوا اللّٰهَ حقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ.اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ، وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ.
KAUM muslimin sidang jamaah Shalat Idul Adha 1447 H yang dirahmati Allah Subhanahu Waatala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu Waatala yang telah memberikan rahmat dan nikmat kepada kita pagi ini sehingga dapat hadir guna melaksanakan ibadah shalat Idul Adha. Semoga Allah Subhanahu Waatala memberi keistiqomahan kepada kita hinga akhir hayat. Amin ya rabbal ‘alamin.
Shalawat dan salam tak lupa kita aturkan kepada junjungan alam baginda Nabi besar Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam yang telah berjasa kepada umat ini dengan ucapan allahumma shalli ala sayyidina Muhammad waali Muhammad, assalamu’alaikan ya rasulullah assalamu’aika habiballah. Semoga kita semua mendapatkan syafaat darinya. Amin ya rabbal ‘alamin.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri khatib sendiri dan kepada seluruh jamaah, mari senantiasa kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu Waatala, semoga dengan nilai keimanan dan ketakwaan ini kita menjadi orang yang berbahagia ketika bertemu dengan-Nya di akhirat kelak.
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… walillahilhamdi
Kaum muslimin sidang jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Subhanahu Waatala. Peringatan Idul Adha merupakan hari besar umat Islam sedunia. Dalam perayaan hari istimewa ini, kaum muslimin dianjurkan berkurban seekor hewan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu Waatala atas nikmat-nikmat yang telah diberikan. Allah Subhanahu Waatala berfirman: Terhadap nikmat Tuhanmu, nyatakanlah (dengan bersyukur). (QS. Ad-Dhuha: 11).
Idul Adha juga disebut dengan hari nahar yang bermakna hari penyembelihan. Karena hari itu hewan-hewan akan disembelih dengan niat untuk mencari ridho-Nya yang di akhirat kelak akan diterima sebagai balasan kebaikan.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
اسْتَفْرِهُوا ضَحَايَاكُمْ، فَإِنَّهَا مَطَايَاكُمْ عَلَى الصِّرَاطِ
Perbaguslah hewan kurban kalian, karena dia akan menjadi tunggangan kalian melewati shirath. (HR. Baihaqi)
Banyak nilai-nilai mulia yang dapat diambil pelajaran dari ibadah ini. Misalnya dengan menyembelih hewan kurban seseorang meneladani sosok Nabi Ibrahim AS dan merajut ukhuwah islamiyah dan basyariyah. Karena terciptanya hubungan baik antar sesama, terlebih lagi ibadah ini menghidupkan jiwa sosial yang tinggi.
Jika ibadah shalat, puasa dan haji mengeratkan hubungan antara hamba dan robb-Nya, maka ibadah kurban memadukan kedua-duanya yaitu hablum minallāhi wa hablum minannāsi (menyambung hubungan antara manusia dan pencipta). Kesempurnaan iman akan wujud secara nyata apabila dua dimensi ini berjalan bersamaan. Maka di sinilah dahsyat dan agungnya ibadah kurban. Ia mampu mengabungkan dua sisi sekaligus.
Selain itu ibadah kurban juga memiliki nilai-nilai pendidikan yang luar biasa hebat. Orang-orang yang bersusah payah mengumpulkan harta benda selama bertahun-tahun kemudian harus diberikan kepada orang-orang yang barangkali tidak pernah dikenalnya. Hanya berbekal iman yang kuat dan janji-janji dari Allah Subhanahu Waatala, semua itu mampu dilalui dengan baik. Adapun nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ibadah ini ialah:
Keikhlasan
Tak ayal bahwasanya di antara nilai pendidikan yang bisa dipetik dari ibadah kurban ialah keikhlasan. Di mana seseorang dituntut untuk melepaskan kepemilikannya secara mutlak yang kemudian diberikan kepada orang tanpa mengingat-ingatnya kembali. Pada dasarnya hal itu sangat berat dilakukan, karena sesuatu yang telah diusahakan dengan susah payah harus direlakan begitu saja. Akan tetapi segala sesuatu yang berat dan sulit akan terasa mudah dan ringan bila dijalani dengan nilai takwa.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ٣٧
Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Hajj: 37)
Menurut Imam at-Thabari, ayat ini menerangkan bahwasanya Allah swt tidak menerima daging dan darah hewan kurban seseorang, akan tetapi yang diterima adalah ketakwaan. (At-Thabari, Jāmi’ul Bayān fi Takwilil Qur’ān, 18/641).
Sebuah ketakwaan tidak akan bisa tercapai tanpa niat yang ikhlas. Ketakwaan yang dimaksud ialah amal ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah swt semata. Semua bentuk-bentuk unsur duniawi harus diketepikan, sebab bila ia menyertai tiada arti di hadapan Allah swt. Ikhlas adalah kunci dalam segala amal, betapa banyak ama yang besar dinilai kecil di sisi Allah swt dan betapa banyak amal yang kecil dinilai besar di sisi-Nya.
Al-Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata,
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
Berapa banyak amalan kecil akan tetapi menjadi besar karena niat pelakunya. Dan berapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niat pelakunya. (Sayyid Husein bin al-Afāni, Tathrul anfusi min Hadītsi ikhlas, hlm, 73).
Dengan demikian, ikhlas dalam suatu ibadah sangat penting tak terkecuali ibadah kurban. Di samping pentingnya sebuah niat, ibadah kurban mengajarkan ikhlas tingkat tinggi dimana harta yang dikumpulkan seseorang harus diikhlaskan atau direlakan untuk orang lain. Bahkan betapa banyak orang-orang yang berkurban tidak mengambil sedikitpun daging-dagingnya. Tentu sikap seperti ini merupakan sikap yang hebat dan luar biasa. Maka di sinilah sebuah pelajaran dapat diambil hikmahnya.
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… walillahilhamdi
Kaum muslimin sidang jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Subhanahu Waatala.
Komunikatif
Komunikasi salah satu instrumen penting dalam kehidupan sosial baik skala kecil (regional) seperti komunikasi antara seorang anak dengan orang tuanya, suami dan istri maupun skala besar (internasional) seperti komunikasi antara organisasi, kelompok dan negara.
Komunikasi yang baik akan menciptakan kehidupan yang harmonis dan damai. Betapa sering terjadi kesalahpahaman, pertengkaran dan perkelahian akibat komunikasi yang buruk. Dan sebaliknya, keadaan yang karut marut dapat diselesaikan dengan bijaksana dan arif melalui sebuah komunikasi yang baik.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
۞ قَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ وَّمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِّنْ صَدَقَةٍ يَّتْبَعُهَآ اَذًى ۗ وَاللّٰهُ غَنِيٌّ حَلِيْمٌ ٢٦٣
Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah: 263).
Secara tidak langsung ibadah kurban mengajarkan pola komunikasi yang baik. Hal itu terekam dalam dialog antara Nabi Ibrahim as dan anak-Nya Nabi Ismail as untuk mencari jalan keluar dari mimpi yang dialami.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia (Ismail) menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar." (QS. As-Shafat: 102).
Ayat di atas menjelaskan secara gamblang betapa Nabi Ibrahim AS melibatkan anaknya dalam mengambil sebuah keputusan. Di mana ayah Nabi Ismail AS ini meminta pendapat terkait mimpi-mimpi yang dilihat dalam tidurnya yang berulang kali. Setelah isi mimpi itu diutarakan sang ayah, ternyata si anak menyambut dengan baik sembari berkata, “Jika engkau lalukan itu, insya Allah kita termasuk orang-orang yang sabar”.
Dialog yang singkat dan padat ini memberi pelajaran yang berharga bagi kita selaku orang tua, dimana selaiknya orang tua harus meminta izin terlebih dahulu dalam memutuskan sesuatu yang melibatkan anak agar hubungan kemistri antara anak dan orang tua selalu terjaga. Tampaknya memang sepele yaitu minta pendapat anak, namun hal itu dapat membangun hubungan kuat antar kedua belah pihak. Bila sebaliknya, bisa berakibat buruk.
Pada masa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam ada seorang bapak yang hendak menikahkan anak perempuannya tanpa sepengetahuan anak itu. Lantaa anak tersebut mengadu kepada Rasulullah saw atas keputusan ayahnya. Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menjawab:
وَالْبِكْرُ تُسْتَأْمَرُ وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا
Dan perempuan yang masih gadis (sebaiknya) dimintai izin, sedangkan izinnya adalah keterdiamannya. (HR. Muslim).
Kisah di atas memberi pesan bahwa antara ayah dan anak perempuannya terjalin komunikasi yang buruk. Dimana seorang ayah tidak memintai izinnya terlebih dahlul dalam memutuskan urusan anaknya.
Dewasa ini kasus serupa sering muncul di tengah-tengah masyarakat islam itu sendiri. Seorang anak tidak membicarakan baik-baik kepada orang tuanya terkait apa yang hendak dilakukan, dan selaku orang tua pun bersikap otoriter kepada anak-anaknya dalam mengambil keputusan. Apa yang dikhawatirkan kemudian terjadi, dimana anak dan orang tua putus komunikasi.
Jadi, melalui ibadah kurban ini kaum muslimin dapat mengambil pelajaran bahwasanya proses tegaknya syariat ibadah kurban berawal dari komunikasi dan interaksi yang baik antar kedua belah pihak antara Nabi Ibrahim as dan Ismail AS.
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… waillahilhamdi
Kaum muslimin sidang jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Subhanahu Waatala.
Peduli
Nilai lain yang terkandung dalam ibadah kurban ialah kepedulian. Yaitu seseorang muslim yang berkurban telah memikirkan nasib saudaranya seiman. Betapa banyak orang-orang islam di luar sana tidak bisa menikmati lezat daging akibat menderita kemiskinan.
Ada sebuah masyarakat muslim hidup dalam kemiskinan.
Jangankan untuk membeli daging, memenuhi kebutuhan hari-hari seperti membeli beras, minyak, cabe dan kebutuhan primer tidak mampu dipenuhi. Satu-satunya yang mereka harapkan agar bisa makan daging ialah daging kurban. Sikap kepedulian terhadap sesama terekam dalam sabda baginda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya). (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw mengumpamakan seorang muslim seperti satu tubuh, bila satu bagian saja yang sakit maka bagian-bagian lain ikut merasakannya. Begitulah indahnya ajaran islam dimana tidak membiarkan pemeluknya hidup dalam kelaparan. Dalam riwayat lain dinukil, bila seorang muslim masak maka dianjurkan untuk berbagi.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً، فَأَكْثِرْ مَاءَهَا، وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ»
Dari Abu Dzar berkata, Rasulullah saw bersabda: Jika kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya dan berikan sebagian pada para tetanggamu. HR Muslim.
Berdasarkan riwayat di atas, seorang muslim tidak dibenarkan makan sendiri. Ia harus melirik tentangga kiri dan kanannya. Bila mereka butuh bantuan maka tetangganya wajib membantu walau tidak seagama.
Ibnu Rajab al-Hambali menukil sebuah riwayat yang terdapat dalam musnad Imam at-Tirmizi dari Abdullah bin Amru bin Ash menyembelih seekor domba lalu berkata, “Apakah kalian menghadiahkan daging kambing ini kepada orang Yahudi”, sahabat menjawab, kami mendengar Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:” Jibril AS senantiasa berwasiat kepada tentangga sehingga aku menyakini tetangga mendapatkan warisan. (Ibnu Rajab al-Hambali, Jāmiul Ulum wal Hikam, 1/351).
Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar… walillahilhamdi
Kaum muslimin sidang jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah Subhanahu Waatala berfirman.
Patuh
Nilai pendidikan lainnya yang terkandung dalam ibadah kurban ialah tunduk atas perintah Allah Subhanahu Waatala. Dahulu ketika Allah Subhanahu Waatala perintahkan Qabil dan Habil berkurban, ternyata hanya Habil dan tunduk sementara Qabil ingkar. Sehingga dengan demikian, Allah Subhanahu Waatala tidak menerima kurbannya Qabil dan menerima kurban Habil.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ ٢٧
Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, "Sungguh, aku pasti membunuhmu!" Dia (Habil) berkata, "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa. (QS. al-Maidah:27).
Pesan yang disampaikan pada kisah di atas ialah setiap ibadah yang dibebankan kepada seseorang harus diterima dengan sepenuh hati dan tunduk tanpa banyak mempertanyakannya. Bila itu perintah datang dari Allah Subhanahu Waatala maka langsung dikerjakan dan jika itu larangan segera dijauhi agar selamat hidup dunia dan akhirat. ***
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيوَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَ مِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَ أَسْتَغْفِرُ اللّٰهُ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَ يَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.
اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ
اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ.
اللّٰهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَّأَصِيْلًا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ اَكْبَرْ اللّٰهُ اَكْبَرْ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.
الْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِشَرِيْعَةِ الْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَشْرَفِ الْاَنَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَرَبُّ الْعَالَمِيْنَ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا اِمَامَ الْمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى: اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَ عَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنِ السِّتَّةِ الْمُتَمِّمِيْنَ لِلْعَشَرَةِ الْكِرَامِ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَ التَّابِعِبْنَ وَ تَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ الْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا خَالِقَ الْمَخْلُوْقَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَ الطَّاعُوْنَ وَ الْاَمْرَاضَ وَ الْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا هٰذَا خَاصَّةً وَ عَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللّٰهِ، اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْاِحْسَانِ وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ