Kekuatan Yakin dalam Jalani Kehidupan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
LAFAL yakin (اليَقِيْنُ) merupakan sebuah kata yang diserap dari bahasa asing, Arab. Kata ini memiliki akar yaqona-yaiqinu (يَقَنَ – يَيْقِنُ) yang bermakna ilmu atau pengetahuan yang tidak mengandung keraguan.( Al-Mu’jam al-Wajīz, hlm 310). Menurut Imam al-Junaid berkata: Yakin adalah pengetahuan di dalam qalbu (hati) yang tidak pernah berubah-ubah (tetap) serta hilangnya keraguan terhadap perkara ghaib. (Al-Qushairiyah, Al-Risālah al-Qushairiyah, hlm 320-321). Dari defenisi ini dapat disimpulkan bahwasanya yakin ialah kepercayaan yang kuat dan pasti terhadap sesuatu tanpa disertai keraguan sedikitpun.
Memiliki sebuah keyakinan dalam menjalani kehidupan sangat penting. Seseorang kepala perusahaan misalnya, tidak mungkin berani mengambil sebuah keputusan yang berat dan beresiko tanpa memiliki keyakinan yang mantap dengan keputusannya. Karena ia paham, apabila salah mengambil suatu kebijakan akan berakibat fatal. Perusahaan bangkrut, hutang bertambah dan rekan bisnis menjauh. Dalam memilih pasangan hidup pun demikian. Seorang laki-laki atau perempuan yang hendak menjalin hubungan tidak akan berani mengambil keputusan nikah bila belum saling yakin.
Terlebih lagi dalam beragama. Dengan memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah SWT, seorang muslim dengan mudah dan ringan mengerjakan semua perintah-Nya. Para sahabat menginfakkan harta yanga dicintai dan mengorbankan nyawa berperang melawan orang-orang kafir demi tegaknya agama Islam, tidak sedikitpun ragu dengan apa yang diperintahkan, sebab segala sesuatu pasti akan dibalas oleh Allah SWT.
Kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail terdapat pelajaran penting tentang nilai sebuah keyakinan. Ketika Allah perintahkan menyembelih anak semata wayangnya, beliau melakukan perintah itu tanpa keraguan sedikit pun. Kalau bukan karena yakin dengan janji-janji Allah SWT, maka Nabi Ibrahim mungkin tidak sanggup melakukannya. Karena orang tua mana yang tega menyembelih anak yang dikasihi. Mengenai kisah tersebut, Allah mengabadikan di dalam firman-Nya. (QS: al-Shafaat: 102).
Kisah para pemuda gua (ashābul kafhi) juga mencontohkan bagaimana seharusnya seorang muslim memiliki keyakinan lalu mempertahankannya. Mereka rela meninggalkan kampung halaman, harta benda, kedudukan dan lain sebagainya demi mempertahankan keyakinan kepada Allah SWT.Mereka enggan meninggalkan keimanan yang sudah mantap dan kokoh itu. Tak mengapa semua hilang, yang terpenting tetap bisa menyembah Allah. (QS: al-Kahfi 9-11).
Banyak cara untuk meraih sebuah keyakinan yang baik. Memperhatikan dan merenungi ciptaan-Nya yang agung merupakan salah satu cara mendapatkan sebuah keyakinan. Setelah Nabi Ibrahim mengamati fenomena-fenomena alam seperti langit, bumi, awan, matahari, bulan, bintang, tumbuh-tumbuhan, binatang dan lain sebagai tumbuhlah keyakinannya di samping keyakinan yang sudah ada dalam dirinya.
Allah subhānahu wa tā’ala berfirman:
وَكَذَٰلِكَ نُرِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ مَلَكُوتَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلِيَكُونَ مِنَ ٱلۡمُوقِنِينَ ٧٥
Dan Demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar Dia Termasuk orang yang yakin. (QS: al-An’ām: 75).
Imam Ibnu Katsir dalam tafsīr al-Qur’ān al-‘āzhim menuturkan, tatkala Nabi Ibrahim melihat dan memperhatikan keagungan langit dan bumi muncul rasa penasaran bahwa alam semesta yang amat luar biasa ini tidak mungkin dan mustahil tanpa adanya pencipta dan tidak mungkin tercipta dengan sendirinya, akan tetapi pasti ada Rabb yang menciptakannya. ((Ibnu Katsīr, Tafsîr Ibni al-Katsîr, hlm 3/290).
Menurut syekh al-Sa’di dalam tafsirnya Taisīru al-Karīmi al-Rahmāni fī tafsīr al-Kalāmi al-Manāni dijelaskan bahwa banyak jalan untuk menumbuhkan benih-benih keyakinan kepada Allah di antaranya melihat gunung, laut, sungai, pepohonan dan lain sebagainya. (Al-Sa’di, Taisîru al-Karîmi al-Rahmânî fi Tafsîr al-Kalâmi, hlm 809).
Orang mukmin yang berdoa kepada Allah SWT mesti yakin bahwa Dia yang Maha mengabulkan segala permintaan. Namun jika seandainya permintaan itu belum diperkenankan di dunia ini, maka ia harus tetap yakin doa-doanya itu pasti akan diijabah di akhirat kelak. Minta agar diberi keyakinan yang kuat merupakan di antara perintah agama. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi mengajarkan umatnya memohon keyakinan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
سَلُوْا اللهَ اليَقِينَ وَالمُعَافَاةَ، فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ بَعْدَ اليَقِيْنِ خَيْرًا مِنَ المَعَافَاةِ.
Mohonlah kepada Allah keyakinan dan keselamatan. Sungguh, seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik daripada keselamatan setelah diberi keyakinan. (HR. Ahmad)
Keyakinan yang dimaksud dalam hadits ini adalah keteguhan hati. Artinya seorang muslim ketika bermunajat kepada Allah dituntut untuk minta keyakinan terlebih dahulu lalu keselamatan. Karena dengan keyakinan segalanya akan terasa mudah dan ringan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keyakinan merupakan kekuatan hati yang melahirkan keteguhan, keberanian, dan ketenangan dalam menjalani kehidupan. Dengan yakin, seseorang mampu mengambil keputusan, menghadapi ujian, serta menjalankan perintah Allah SWT tanpa keraguan. Kisah Nabi Ibrahim dan Ashabul Kahfi menunjukkan bahwa keyakinan yang kokoh mampu mengantarkan manusia kepada pengorbanan dan keteguhan iman. Keyakinan kepada Allah dapat ditumbuhkan melalui perenungan terhadap ciptaan-Nya, memperbanyak doa, serta memperkuat iman dalam hati.
Oleh sebab itu, seorang muslim hendaknya selalu memohon kepada Allah SWT agar diberikan keyakinan yang kuat, karena dengan keyakinan hidup akan terasa lebih mudah, tenang, dan penuh harapan.***