Alam Kubur Fase Awal menuju Kehidupan Akhirat
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
ALAM kubur (عَالَمُ القَبْرِ) merupakan perjalanan pertama manusia setelah berpisah dari kehidupan dunia. Bagi orang yang beriman dan beramal sholeh, alam kubur menjadi tempat yang sangat menyenangkan, membahagiakan dan menggembirakan. Disana mereka mendapat ganjaran atas semua perbuatan baik yang dilakukan selama hidup di dunia. Sementara orang-orang yang mengingkari dan berpaling dari kebenaran akan diberi balasan yang setimpal (al-jazâ’ min jinsil amal).
Dalam Islam, alam kubur juga dikenal dengan alam barzakh (علم البرزخ) yang secara bahasa bermakna pemisah atau batas antara kehidupan dunia yang sudah dilalui dan akhirat yang akan dituju. Setiap orang yang sudah meninggal berada di alam tersebut hingga datang hari berbangkit, sebagaimana Allah Subhanahu Waatala berfirman: Dan di hadapan mereka ada barzakh (alam pemisah) sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minūn: 100).
Ini artinya kematian bukan akhir segalanya seperti yang disangkakan sebagian kaum muslimin, justru ia menjadi awal kehidupan yang hakiki menuju kehidupan akhirat.
Rasululllah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ هَانِئٍ مَوْلَى عُثْمَانَ قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنَازِلِ الآخِرَةِ، فَمَنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَمَنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ
Dari Hani maula Ustman berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Alam kubur adalah awal perjalanan akhirat, barang siapa yang berhasil di alam kubur, maka setelahnya lebih mudah. Barang siapa yang tidak berhasil, maka setelahnya lebih berat. (HR. Abu Daud).
Ustman bin Affan ra kala mengingat alam kubur air matanya bercucuran hingga membasahi janggutnya, namun ketika mengingat surga dan neraka tidak membuatnya menanggis. (Zaid al-Madkhalî, Al-Afnânu an-Nadiyyah, 2/319).
Sikap Ustman di atas menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk menghadapi kehidupan tersebut, karena ia merupakan gerbang menuju kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat. Adapun penyebutan kubur sebagai fase kehidupan selanjutnya karena secara umum orang yang meninggal dikubur. Namun sejatinya seseorang yang sudah meninggal baik di kubur maupun tidak di kubur tetap berada di alam kubur atau alam barzakh sebagai sebuah penantian yang panjang.
Dalam penantian yang panjang itu, para penghuni barzakh mengharap pertolongan dari sanak keluarga mereka di dunia, terutama dari anaknya untuk meringankan perjalanan tersebut. Bila seseorang hanya bersandar pada amal pribadi tentu tidak sangat mencukupi, sebab betapa banyak dosa-dosa yang dilakukan baik sengaja maupun tidak sengaja. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam mengilustrasinya keadaan penghuni kubur seperti orang yang hanyut tenggelam.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا الْمَيِّتُ فِي الْقَبْرِ إِلَّا كَالْغَرِيقِ الْمُتَغَوِّثِ، يَنْتَظِرُ دَعْوَةً تَلْحَقُهُ مِنْ أَبٍ أَوْ أُمٍّ أَوْ أَخٍ أَوْ صَدِيقٍ، فَإِذَا لَحِقَتْهُ كَانَتْ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَإِنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيُدْخِلُ عَلَى أَهْلِ الْقُبُورِ مِنْ دُعَاءِ أَهْلِ الْأَرْضِ أَمْثَالَ الْجِبَالِ، وَإِنَّ هَدِيَّةَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ الِاسْتِغْفَارُ لَهُمْ
Dari Abdullah bin Abbas ra berkata, Rasulullah bersabda: Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menunggu doa dari ayah, ibu, saudara dan kawannya. Apabila doa itu sampai kepadanya, maka itu lebih ia sukai daripada dunia berikut isinya. Dan sesungguhnya Allah Shubhnahu Waatala menyampaikan doa penghuni dunia kepada ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar (ampunan) kepada Allah swt untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka. (HR. Baihaqi).
Riwayat di atas menggambarkan bahwa orang yang telah meninggal sangat membutuhkan manfaat dari amal orang-orang yang masih hidup, terutama doa, istighfar, dan sedekah yang ditujukan untuk mereka. Ibnu Hajar berkata, “Doa seorang ayah, ibu, saudara dan kawan sampai kepada mereka (yang meninggal) seperti gunung. Gunung yang dimaksud ialah rahmat-Nya yang besar. (Ali Qâri, Mirqâtu al-Mafâtîh Syarhu Misykâtu al-Mashâbîh, 4/1632).
Oleh karena itu, salah satu bentuk bakti dan kasih sayang kepada keluarga, kerabat dan sahabat yang telah wafat adalah dengan senantiasa mendoakan ampunan bagi mereka serta melakukan amal kebajikan atas nama mereka, karena hal tersebut dapat menjadi hadiah yang berharga dan bermanfaat bagi mereka di alam kubur.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَالَّذِيْنَ جَاۤءُوْ مِنْۢ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ࣖ ١٠
Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-hasyar: 10).
Ayat di atas mengajarkan dua nilai penting yaitu 1). Memohon ampunan untuk diri sendiri dan sesama mukmin, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
2). Menumbuhkan persaudaraan iman yang melampaui batas waktu dan generasi, sehingga umat Islam tetap terikat dalam ukhuwah. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa ciri orang beriman adalah hati yang bersih, lisan yang gemar mendoakan kebaikan bagi sesama, serta keinginan untuk menjaga persatuan dan kasih sayang di antara kaum muslimin.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa alam kubur atau alam barzakh merupakan fase pertama kehidupan yang akan dialami setiap manusia setelah meninggal dunia. Keadaan seseorang di alam kubur bergantung pada iman dan amalnya ketika hidup di dunia. Karena itu, setiap mukmin harus mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal sholeh dan menjauhi maksiat.
Selain itu, penghuni kubur sangat membutuhkan doa, istighfar, dan sedekah dari orang-orang yang masih hidup. Oleh sebab itu, mendoakan kaum muslimin yang telah wafat merupakan bentuk bakti, kasih sayang dan persaudaraan iman. Dengan demikian, seorang mukmin hendaknya senantiasa memperbaiki amalnya serta tidak melupakan doa bagi saudara-saudaranya yang telah mendahului menuju alam barzakh.***