Malam Pertama Manusia Di Alam Kubur
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
DALAM pandangan Islam, kematian bukan fase terakhir perjalanan manusia, melainkan gerbang pertama menuju alam yang lebih panjang dan abadi. Seseorang yang telah berpisah dari kehidupan dunia akan menghadapi sesuatu yang tidak pernah dialami sebelumnya. Kepadanya diperlihatkan setiap perbuatan yang pernah dilakukan baik sengaja mau tidak disengaja. Ketika itu manusia terbagi kepada dua golongan; bahagia dan sengsara.
Orang-orang yang memperoleh kebahagiaan (السُّعَدَاءُ) ialah mereka yang menjalani kehidupan sesuai perintah Allah Subhanahu Waatala dan petunjuk Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Iman dan takwa dijadikan sebagai fondasi hidup dan berbekal dengan amal shaleh yang cukup. Maka dengan demikian, golongan pertama ini akan mendapat kenikmatan yang tak pernah terbayangkan selama di dunia. Kebahagiaan yang dirasakan tidak sampai di situ, orang-orang yang telah meninggal lebih dahulu menyambut dengan sambutan meriah. Diriwayatkan dari Abdurrazzaq dan Ibnu Jarir dari Al-A‘masy melalui Abdullah Al-Asham, ia berkata:
Apabila seorang mukmin meninggal dunia, rohnya dibawa menuju roh-roh kaum mukminin. Mereka berkata: “Ini ruh saudara kita.” Karena ia baru saja keluar dari kesusahan dunia, mereka membiarkannya beristirahat sejenak. Kemudian mereka bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaan si fulan? Bagaimana keadaan si fulanah? Bagaimana keadaan si fulan?” Lalu ia mengabarkan keadaan mereka yang masih hidup. Hingga mereka bertanya tentang seseorang, maka ia menjawab: “Bukankah dia telah meninggal? Tidakkah ia datang kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tidak.” Maka mereka berkata: “Berarti ia dibawa menuju ibunya, yaitu al-Hâwiyah (neraka).”’(As-Sayûthi, Ad-Dûr al-Mantsûr fi tafsîr al-Ma’tsûr, hlm 565).
Berdasarkan riwayat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang baru meninggal disambut oleh yang lebih dahulu wafat, ketika itu mereka tak sabar ingin mengetahui keadaan keluarga dan handai taulan yang masih di dunia. Selain itu, sesama penghuni barzakh saling bertemu satu sama lain.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
Roh-roh itu adalah pasukan-pasukan yang dihimpun. Roh yang saling mengenal akan saling akrab, dan ruh yang saling tidak mengenal akan saling berselisih. (HR. Bukhari dan Muslim).
Roh orang-orang beriman saling bertemu satu dengan yang lain di alam barzakh, hal itu karena mereka hidup dalam kenikmatan dan kebahagiaan. (Ibnu Qayyim Al-Jauziah, Ar-Rûh, 23). Seseorang bertanya kepada Ibnul Qayyim, apakah roh orang-orang yang hidup dan yang telah meninggal saling bertemu, saling mengunjungi, dan saling mengingat (berbincang)?" Kemudian beliau menyebutkan banyak hadis dan atsar, lalu menyimpulkan: "Roh-roh kaum mukminin saling bertemu, saling berziarah, dan saling berbincang." (Muhammad Husein Al-Makhlûf, Al-Mathâlib Al-Qudsiyah fi Ahkâmirrûhi wa Atsâriyah Al-Kauniyah, hlm 138).
Berdasarkan keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwasanya orang-orang beriman tidak merasa kesepian dan jauh dari kesuyian. Di alam barzakh akan banyak sahabat yang menemani hingga hari berbangkit tiba, bahkan kala baru sampai langsung disambut meriah oleh orang-orang yang telah wafat. Keadaan ini akan terus dirasakan hingga hari kiamat.
Dari Bara’ bin Azib berkata, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
... فَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ. فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ.
Kemudian datang kepadanya seorang laki-laki yang sangat tampan wajahnya, indah pakaiannya, dan harum baunya. Ia berkata, 'Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Maka orang mukmin itu bertanya, 'Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.' Ia menjawab, 'Aku adalah amal salehmu.' (HR. Ahmad)
Sementara golongan kedua ialah orang-orang yang sengsara (الأَشْقِيَاءُ), di mana selama di dunia menyelisihi tuntunan Al-Qur’an dan hadis. Keadaan mereka sangat memprihatikan, setiap hari memohon kepada Allah Subhanahu Waatala agar diberi kesempatan kembali ke dunia untuk menebus segala kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya. Namun permintaan itu tidak pernah dikabulkan, justeru dengan tegas permintaan itu sesuatu yang mustahil terjadi. Maka dengan demikian, golongan ini hidup dalam penderitaan yang dahsyat hingga hari berbangkit.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Hingga apabila kematian datang kepada salah seorang dari mereka, dia berkata: 'Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan. (QS. Al-Mukminu 99-100).
Al-Hasan berkata: Tidak ada seorang pun dari makhluk Allah setelah datang kematian kepadanya melainkan berbicara dengan ucapan ini. Bahkan orang yang bisu sekalipun akan memintanya. Hal itu karena telah jelas baginya bahwa ia termasuk penghuni neraka sehingga ingin dikembalikan ke dunia untuk beramal shaleh. (Muhammad bin Abdullah Abî Zamanîn, Tafsîr Al-Qur’ân Al-‘Azîz libni Abî Zamanîn, 211).
Kalimat di atas mengisyaratkan bahwa ketika kematian telah datang dan tabir akhirat pun tersingkap, manusia menyadari dengan jelas hakikat amal yang telah dilakukannya. Orang yang lalai dan menyia-nyiakan kesempatan beramal shaleh akan dipenuhi penyesalan yang mendalam hingga memohon untuk dikembalikan ke dunia. Namun penyesalan itu tidak lagi bermanfaat, karena masa beramal telah berakhir.
Saat orang-orang kafir dan pelaku dosa yang masih menikmati dosanya akan mendapat sambutan buruk. Diriwyatkan dari Bara’ bin Azim, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ،كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ ارْجِعِي ذَمِيمَةً فَإِنَّهُ لَا تُفَتَّحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ
Siapa ini? "Mereka berkata: 'Tidak ada sambutan bagimu, wahai jiwa yang buruk, yang dahulu berada dalam jasad yang buruk. Kembalilah dalam keadaan tercela, karena pintu-pintu langit tidak akan dibukakan untukmu.' (HR. Ahmad dan Hakim).
Riwayat di atas mengisyaratkan bahwa roh orang-orang jahat dan kafir tidak mendapat sambutan meriah, justru penolakan dan pengusiran dirasakan. Akibatnya, pintu-pintu langit tidak dibukakan untuknya, sehingga ia tidak memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu Waatala. Jadi, dengan demikian keadaan orang-orang yang sengsara ini semakin menyakitkan hingga datang hari kiamat.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud malam pertama bukan keadaan gelap gulita seperti yang kita bayangkan, tetapi sebuah keadaan saat berada dalam kehidupan baru (alam barzakh). Pada saat itu manusia terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang berbahagia (السعداء) dan orang-orang yang sengsara (الأشقياء). Orang-orang beriman yang hidup dalam ketaatan akan memperoleh sambutan yang penuh kemuliaan, merasakan ketenangan, serta berkumpul dengan ruh-ruh kaum mukminin yang telah mendahului mereka. Sebaliknya, orang-orang kafir dan pelaku maksiat akan menghadapi penyesalan yang mendalam, sambutan yang buruk serta berbagai bentuk penderitaan sebagai balasan atas kelalaian mereka terhadap perintah Allah Subhanahu Waatala. ***