Tiga Perkara yang Menggugurkan Amal Ibadah
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SETIAP orang beriman dituntut untuk memperbanyak amal shaleh agar mendapat rahmat dan ridha Allah Subhanahu Waatala di dunia dan pertolongan-nya di akhirat kelak. Kemuliaan seorang hamba bergantung dengan amal shaleh yang dilakukan. Semakin banyak dan ikhlas maka semakin mulia dan mudah menjalani kehidupan akhirat. Maka oleh karena itu, sudah semestinya setiap orang memanfaatkan waktunya sebaik mungkin.
Namun terkadang ada sebab-sebab tertentu amal seseorang gugur di hadapan Allah Subhanahu Waatala seperti melakukan perbuatan syirik. Syirik bermakna menyekutukan Allah Subhanahu Waatala dengan yang lainnya. Misalnya, meminta selain kepada-nya, memakai tangkal dan jimat untuk melariskan dagangan, berobat dengan dukun, dan memberi sesajen. Apabila semua itu dilakukan maka amal akan sia-sia.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللّٰهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: Allah swt berfirman: Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu, barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku di dalamnya maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya. (HR. Muslim)
Siapa yang melakukan suatu amal untukku dan selainku, maka tidak aku terima. (As-Sayuthi wa Ghairuhu, Syarhu Sunan Ibni Majah, 1/310). Maksudnya, suatu amal yang diniatkan untuk Allah swt sekaligus untuk selainnya, maka amal itu tidak diterima. Karena dalam beribadah hanya ada satu niat, yaitu untuk Allah Subhanallah Waatala semata.
Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa apapun amal shaleh yang dilakukan hanya diniatkan untuk Allah Subhanallah Waatala dan akhirat semata. Tidak boleh dicampurkan dengan yang lain, karena suatu amal yang niatnya rusak seperti debu yang berterbangan.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا ٢٣
Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (QS. Al-Furqan [25]: 23).
Kebaikan di dunia akan Kami (Allah Subhanahu Waatala) jadikan di akhirat kelak seperti debu yang nempel di kuku binatang. (Ibnu Abbas, Tanwîr al-Miqbâs, 1/302). Ini berarti amal tersebut tidak berguna sebagaimana tidak bergunanya debu yang nempel di kuku binatang.
Kata al-habâu bermakna cahaya matahari yang keluar dari jendela atap. (as-Sayuthi, ad-Dhûr al-Mantsûr, 6/246). Ini bermakna, amal akan lenyap tanpa bekas seperti cahaya matahari yang keluar dari jendela atap rumah.
Berdasarkan keterangan di atas dapat dipahami bahwa apapun amal shaleh yang dilakukan hanya diniatkan untuk Allah Subhanallah Waatala dan akhirat semata. Tidak boleh dicampurkan dengan yang lain, karena suatu amal yang niatnya rusak seperti debu yang berterbangan. Jadi, syirik merupakan penyebab gugurnya amal-amal kebaikan seseorang di akhirat kelak. Maka oleh karena itu, hendaklah mewaspadai semua jenis perbuatan syirik. Ini yang pertama.
Amal kebaikan akan gugur karena sifat hasad (dengki). Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa mengatakan, “Hasad adalah sikap benci dan tidak senang terhadap apa yang dilihatnya berupa baiknya keadaan orang yang tidak disukainya”. Hasad semacam ini dapat menggugurkan amal shaleh.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar. HR. Abu Daud
Sifat hasad dapat menghilangkan kebaikan dan membinasakannya. (Al-Baidhawi, Tuhfatul Abrâr Syarhu Mashâbihi as-Sunnah, 3/265). Adapun makna “hasad dapat memakan kebaikan” ialah hasad tidak menyisakan setiap kebaikan seseorang. (Abdul Qadir Syaibatul Hamdi, Syarhu Bulûghil Marâm min Jam’il Adillati Ahkâm, 10/225).
Api memakan kayu bakar merupakan tamsil bahayanya sifat hasad. Setiap kayu yang dilalap api tidak menyisakan kecuali abu, bahkan terkadang tidak meninggalkan bekas. Jika sudah menjadi debu maka tidak lagi berguna. Begitulah hakikatnya sebuah amal yang diiringi dengan sifat dengki.
Oleh sebab itu, setiap insan mesti membuang jauh-jauh sifat tercela ini. Karena masing-masing orang sudah diberi kelebihan oleh Allah swt, jadi tidak perlu muncul iri dengki.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ٣٢
Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah Subhanahu Waatala kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. (QS. An-Nisa [32]: 4)
Ayat ini mengajarkan agar manusia tidak iri hati terhadap kelebihan yang Allah berikan kepada orang lain, karena setiap orang memiliki karunia, peran, dan kesempatan yang berbeda sesuai dengan hikmah-Nlnya. Allah Subhanahu Waatala menilai manusia berdasarkan usaha dan amal yang mereka lakukan, bukan semata-mata berdasarkan kelebihan yang dimiliki orang lain. Ini sebab kedua.
Selain perbuatan syirik dan iri hati atau hasad yang harus dihindari, menyebut-nyebut pemberian dan menyakiti hati penerima termasuk yang dapat menggugurkan amal shaleh.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ ٢٦٤
Wahai orang-orang yang beriman, jangan membatalkan (pahala sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima). (QS. Al-Baqarah [2]: 262).
Ayat ini mengajarkan bahwa sedekah yang dilakukan dengan ikhlas dapat kehilangan pahala apabila disertai sikap mengungkit-ungkit pemberian (al-mann) dan menyakiti perasaan penerima (al-adzā). Allah Subhanahu Waatala menghendaki agar setiap amal kebaikan dilakukan semata-mata untuk mencari ridha-nya, bukan untuk memperoleh pujian, penghormatan, atau balasan dari manusia. Makna menyakiti ialah janganlah seseorang melakukan perbuatan yang dibenci sehingga dapat menyakiti perasaan orang yang telah berbuat kepadanya (penerima).(At-Thabari, Jâmi’ul Bayân fi Takwîlil Qur’ân, 1/693).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa amal shaleh tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga oleh kemurnian niat dan terjaganya hati dari sifat-sifat tercela. Dalam Islam terdapat beberapa perbuatan yang dapat menggugurkan atau menghilangkan pahala amal, di antaranya:
1. Syirik, yaitu menyekutukan Allah Subhanahu Waatala dalam ibadah atau niat. Syirik merupakan dosa terbesar yang dapat menghapus seluruh amal karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan dengan ikhlas untuk-nya semata.
2. Hasad (dengki), yaitu tidak senang terhadap nikmat yang diberikan Allah Subhanahu Waatala kepada orang lain. Sifat ini dapat mengikis pahala kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar hingga habis.
3. Mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan orang lain, terutama setelah bersedekah atau berbuat baik. Perbuatan ini merusak keikhlasan amal, sehingga pahala yang semestinya diperoleh menjadi hilang.***