Tiga Perkara yang Wajib Dijaga Seorang Muslim
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu…
اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Kaum muslimin sidang jamaah Jum’at yang berbahagia…
Setiap ucapan yang keluar dari mulut mulia baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengandung pesan-pesan berharga. Siapa saja yang berpegang teguh dengannya akan memperoleh keberuntungan dunia dan akhirat. Sebab tidak satu pun apa yang disampaikan kecuali baik. Dari sekian banyak pesan yang diwariskan kepada umatnya, terdapat tiga perkara yang harus digigit dengan gigi geraham. Dari Sa'id Ath Tha'i Abu Al Bakhtari berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalam bersabda:
ثَلَاثَةٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ قَالَ: مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ، وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلاَّ زَادَهُ اللّٰهُ عِزًّا، وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلاَّ فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ
"Tiga hal aku bersumpah atasnya dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya!." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasalam bersabda: "Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara zalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah Subhanahu Waatala akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menjaganya!." (HR. Tirmizi)
Berdasarkan riwayat di atas dapat dipahami bahwasanya terdapat tiga perkara yang wajib dijaga seorang muslim. Maksud kalimat dijaga di sini ialah mengamalkan, melestarikan, melakukan secara istikamah atau tidak mengabaikannya. Adapun rinciannya sebagai berikut:
1. Istiqamah Sedekah
Perkara pertama yang harus dijaga seorang muslim adalah istikamah dalam bersedekah. Perbuatan ini disukai Allah Subhanahu Waatala, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, manusia dan bahkan hewan. Orang yang gemar melakukannya akan didoakan para malaikat, dan orang yang pelit pun demikian.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللّٰهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
"Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil) “.(HR. Bukhari)
Harta yang dibelanjakan di jalan Allah Subhanahu Waatala adalah harta yang sesungguhnya. Ia menjadi tabungan yang akan diterima di akhirat kelak. Syekh Mutawalli as-Sya’rawi rahimahullah pernah berkata: “Seseorang yang mendermakan hartanya di jalan Allah swt seperti menitipkannya di sebuah bank, ketika ia butuh maka bisa ia ambil kapan dan dimana saja”.
Harta yang diberikan karena Allah Subhanahu Waatala tidak akan membuat seseorang miskin. Justru sebaliknya, hidupnya semakin berkah.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللّٰهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّٰهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللّٰهُ
Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya. (HR. Muslim)
Menurut Ibnu Alan, maksud sedekah tidak mengurangi harta ialah harta yang disedekahkan mendatangkan keberkahan dan menolak keburukan. (Dalil Falihin, 5/54). Di antara keburukan yang ditolak sedekah ialah sakit. Sebuah riwayat yang bersumber dari Al-Hasan berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
«حَصِّنُوا أَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ، وَدَاوُوا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةَ، وَاسْتَقْبِلُوا أَمْوَاجَ الْبَلَاءِ بِالدُّعَاءِ وَالتَّضَرُّعِ»
Bentengilah hartamu dengan (mengeluarkan) zakat, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kamu dengan bersedekah dan hadapilah musibah dengan do’a dan berendah diri. (HR. Thabari dan Baihaqi di syua’bul Iman).
Ibnul Qayyim mengomentari riwayat di atas dengan komentar yang sangat bagus, dimana menurutnya sedekah yang dikeluarkan seseorang dapat menolak berbagai macam bala’ (penyakit).
فَإِنَّ لِلصَّدَقَةِ تَأْثْيرًا عَجِيْبًا فِي دَفْعِ أَنْوَاعِ البَلَاءِ وَلَوْ كَانَتْ مِنْ فَاجِرٍ أَوْ مِنْ ظَالِمٍ بَلْ مِنْ كَافِرٍ فَإِنَّ اللّٰهَ تَعَالى يَدْفَعُ بِهَا عَنْهُ أَنْوَاعًا مِنَ البَلَاءِ، وَهَذَا أَمْرٌ مَعْلُوْمٌ عِنْدَ النَّاسِ خَاصَتِهِمْ وَعَامَتِهِمْ وَأَهْلِ الأَرْضِ كُلِّهِمْ مَقْرُوْنٌ بِهِ لِأَنَّهُمْ جَرَّبُوْهُ
Sesungguhnya sedekah dapat menolak berbagai macam bala’ bahkan sekalipun itu ahli maksiat, zalim dan orang kafir. Allah swt mengangkat berbagai macam penyakit melalui sedekah yang mereka lakukan. Hal semacam ini perkara yang maklumi kalangan orang khusus (para ulama) ataupun orang orang awam, dan bahkan hal itu diakui oleh penduduk bumi. Sebab hal itu telah mereka jalani. (Jami’ Al-Fiqh, 3: 7).
Sedekah bukan saja memiliki manfaat bagi kehidupan dunia. Di alam kubur dan akhirat sedekah akan memberikan syafaat.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ.
Dari Uqbah bin Amir berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panasnya kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan amal sedekahnya. (HR. Thabrani).
Amalan sedekah wajid dilestarikan seorang muslim dalam kehidupannya. Banyak keajaiban-keajaiban yang didapat dari sedekah. Keutamaan yang diperoleh bukan saja di dunia melainkan sampai ke akhirat.
2.Bersabar di atas Kebenaran
Setiap orang di dunia ini pasti pernah dizalimi oleh orang lain baik secara verbal maupun fisik. Dan terkadang kezaliman itu dirasakan terus menerus dalam kurun waktu yang lama. Selaku manusia biasa tentu ada keinginan membalas setimpal atau bahkan lebih. Niat itu wajar muncul karena tidak seorang pun ingin hidup di bawah bayang-bayang kezaliman seseorang.
Agama Islam sebagia agama yang komprehensif memberi panduan tentang hal itu. Seseorang yang dizalimi diperbolehkan untuk membalas dengan balasan yang serupa. Namun jika ia memilih untuk memaafkan itu merupakan sikap yang paling tepat dan mulia. Dan jika membalasnya dengan kezaliman yang lebih maka Allah Subhanahu Waatala tidak menyukainya.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى اللّٰهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ﴾
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. As-Syura [42]: 40).
Menutu Syekh as-Sa’di berkata: Ayat di atas menjelaskan tiga tingkatan balasan sebuah kejahatan: 1) Serupa, 2) Memaafkan, dan 3) Membalas dengan lebih zalim. Adapun yang pertama: Membalas kejahatan dengan kejahatan yang serupa tidak lebih dan tidak kurang. Kedua: Memaafkan atas semua bentuk kejahatan. Ketiga: Membalas dengan kejahatan yang lebih besar. (Taisir Karimin Rahman fi Tafsir Karim al-Mannan, 1/760).
Setiap orang berpeluang melakukan tiga bentuk pembalasan tersebut. Namun jika seseorang memilih untuk memaafkan dan sabar atas apa yang dialami sembari mengadukan keluh kesahnya kepada Allah Subhanahu Waatala semata maka Allah Subhanahu Waatala akan memberikan kemuliaan kepadanya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَلاَ ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلِمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلاَّ زَادَهُ اللّٰهُ عِزًّا
Tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya. (HR. Tirmizi)
Orang semacam ini tidak ingin mengotori tangannya dengan perbuatan dosa. Baginya biarlah Allah Subhanahu Waatala yang membalas kezaliman tersebut.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللّٰهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ﴾
Dan sekiranya ia membalas dengan balasan yang serupa maka Allah swt tidak menghukumnya.(QS Ibrahim [14]: 42).
Seseorang yang berpeluang membalas kezaliman orang lain, namun ia lebih memilih sikap dingin tanpa membalas sedikit pun apalagi lebih dari yang dialami, maka Allah Subhanallah Waatala akan memberikan kemuliaan kepadanya.
3.Tidak Meminta-minta
Meminta kepada manusia bukan sesuatu yang tercela. Sebagai makhluk sosial, satu dengan yang lain saling membutuhkan. Acap kali dalam kehidupan ini seseorang membutuhkan bantuan orang lain. Akan tetapi jika meminta sesuatu yang menyebab diri hina dan mengabaikan sang pemiliki alam semesta tentu hal ini terlarang.
وَلاَ فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلاَّ فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ
Tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan. (HR. Tirmizi)
Hadits ini tidak sedang berbicara tentang orang-orang yang membutuhkan makan dan minum seperti pengemis, akan tetapi menjelaskan seputar sikap orang yang mampu atau memiliki kecukupan harta namun masih meminta-minta kepada manusia. Hari ini betapa sering terjadi orang-orang kaya atau berkecukupan memakan hak orang-orang miskin. Beras, gas, BBM, sembako dan bantuan rumah untuk fakir miskin masih ingin memintanya. Orang-orang kaya bermental miskin seperti ini disumpahin Allah Subhanahu Waatala menjadi fakir miskin.
Atau riwayat di atas juga bisa bermakna seseorang yang memiliki kemampuan untuk bekerja, namun karena malas kemudian ia memilih menjadi peminta-minta. Ketika jalan itu yang ia tempuh maka Allah
Subhanallah Waatala akan bukakan untuk pintu kefakiran. Sebab pada dasarnya ia mampu untuk membawa diri ke arah yang lebih mulia.
Dari Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى
Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. HR. Bukhari
Berpijak dari hadits di atas bahwasanya memberi lebih mulia daripada meminta. Oleh karenanya hendaklah seseorang menjauhkan diri menjadi peminta-minta, apalagi memiliki anggota tubuh dan sehat dan lengkap. ***
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم