Dusta Bukan Sifat Seorang Mukmin

Ahad, 07 Juni 2026 - 09:08:43 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

      DALAM bahasa arab dusta disebut al-kazibu (الكَذِبُ). Kata ini kebalikan dari jujur as-shidqu (الصِّدْقُ). Sementara dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) dusta adalah sesuatu yang tidak benar yang berkaitan dengan perkataan atau pernyataan. Sedangkan menurut istilah dusta merupakan suatu ucapan atau perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan, atau suatu informasi yang bertolak belakang dari fakta yang ada. Biasanya dusta selalu dikaitkan dengan sebuah informasi (ikhbâr) tentang sesuatu. Dusta termasuk perbuatan hati, yang kemudian dijewantahkan oleh lisan. Orang arab berkata:

إِنَّ الْكَلَامَ لَفِي الْفُؤَادِ وَإِنَّمَا
جُعِلَ اللِّسَانُ عَلَى الْفُؤَادِ دَلِيلًا

Sesungguhnya perkataan itu berasal dari hati, dan lidah hanyalah dijadikan sebagai penunjuk (atau penerjemah) apa yang ada di dalam hati.

Dusta di antara sifat yang sangat dibenci oleh Allah, Rasul dan orang-orang beriman. Sebab dalam setiap kedustaan tersimpan pengkhiatan yang besar, merusak kepercayaan, menodai kehormatan dan menghancurkan hubungan antarsesama. Betapa banyak seseorang yang sebelumnya berteman akrab menjadi musuh karena dusta. Selain itu, orang yang terbiasa berdusta akan dicap selamanya sebagai pendusta.  

Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا."
Kedustaan menuntun kepada kefajiran, dan kefajiran menuntun kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Allah  Subhanahu Waatala sebagai seorang pendusta (kadhdhāb)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasar riwayat di atas dapat dipahami bahwasanya dusta bukan sekadar sifat tercela, melaikan sebuah perbuatan yang dapat menuntun kepada neraka. Hal itu karena dusta menjadi pintu kemaksiatan, seseorang yang terbiasa berdusta akan semakin mudah melakukan pengkhiatan, kesaksian palsu, menipu dan menebar fitnah serta bermuka dua.

Lebih dari itu, dusta dapat mematikan hati dan memadamkan cahaya iman. Maka tak mengherankan seorang pendusta tidak memiliki rasa iba dan kasihan kepada orang lain. Ketika hati telah dikuasai oleh dusta, maka ukuran kebenaran tidak lagi didasarkan pada apa yang diridhai Allah Subhanahu Waatala, melainkan pada apa yang menguntungkan dirinya. Ia rela mengubah fakta, menyembunyikan kebenaran, bahkan bersumpah palsu demi menjaga kedudukan, harta, atau kehormatannya di hadapan manusia. Dusta adalah di antara tanda-tanda orang munafik.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثَةٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ "

Dari Abu Hurairah berkata, bahwasanya Rasulullah bersabda: Tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika berbica berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanah berkhianat. (HR. Bukhari dan Muslim)

    Ibnu Bathāl berkata: Apabila satu dari tiga sifat tersebut melekat pada diri seseorang maka sesungguhnya ia telah tergolong kepada orang-orang munafik. (Ibnu Bathāl, Syarhu as-Shahîh al-Bukhârî, hlm 1/93). Seorang mukmin mungkin saja memiliki sifat kikir, bakhil, kedekut dan penakut, tapi mustahil bagi mereka menjadi seorang pendusta.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

Telah menceritakan kepadaku dari Shafwan bin Sulaim berkata; “Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah seorang mukmin bisa menjadi penakut?” Beliau menjawab: ‘Ya.” Kemudian ditanya lagi; “Apakah seorang mukmin bisa menjadi bakhil?” Beliau menjawab: “Ya.” Lalu ditanyakan lagi; “Apakah seorang mukmin bisa menjadi pembohong?” Beliau menjawab: “Tidak.” (HR. Malik)
Dalam hadits lain disebutkan, seorang mukmin juga tidak mungkin menjadi pengkhianat dan pendusta. Sebab kedua sifat tercela itu merupakan sifat orang-orang munafik dan orang-orang kafir.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُطْبَعُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْخِلَالِ كُلِّهَا إِلَّا الْخِيَانَةَ وَالْكَذِبَ.

Dari Abi Umamah berkata Rasulullah bersabda: "Seorang mukmin dapat memiliki berbagai macam tabiat (kelemahan atau sifat), tetapi tidak dengan sifat khianat dan dusta." HR. Ahmad

Hadis ini menegaskan bahwa seorang mukmin bisa saja memiliki sifat buruk seperti malas, berburuk sangka dan lalai, namun tidak khianat dan dusta. Sebab dua sifat tersebut hanya ada pada orang-orang kafir.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dusta adalah sifat tercela yang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu Waatala dan Rasul-Nya karena menjadi pintu berbagai kemaksiatan serta menuntun pelakunya kepada kefajiran dan neraka. Kedustaan merusak kepercayaan, menghancurkan hubungan antarsesama, dan memadamkan cahaya iman dalam hati. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bahkan menjadikan dusta sebagai salah satu tanda utama kemunafikan. Karena itu, meskipun seorang mukmin mungkin memiliki kelemahan lain seperti takut, bakhil, atau lalai, ia tidak pantas menjadikan dusta dan khianat sebagai tabiat yang melekat pada dirinya.***