Pesan Imam Syafi’i dalam Menuntut Ilmu

Senin, 08 Juni 2026 - 08:45:19 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg


   DALAM  khazanah keilmuan, nama imam Syafi’i dikenal secara luas. Karya-karyanya dipelajari dan dikaji secara mendalam sampai hari ini. Kepiawaian dalam meramu disiplin ilmu seperti buku Ar-Risalah dan mengambil istinbath hukum tidak diragukan, maka tak heran bila pujian ansharussunah (penyelamat sunnah) disematkan kepadanya. Namun di balik itu, ulama kelahiran Gaza pada tahun 150 Hijriyah ini juga dikenal dalam ilmu sastra seperti ad-diwân. Buku ini terdiri dari bait-bait sair indah yang berpesan kepada para penuntut ilmu. Di antara pesan tersebut ialah:

مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
تَجَرَّعَ ذُلَّ الْجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ

وَمَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيمُ وَقْتَ شَبَابِهِ
فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ

"Barang siapa tidak merasakan pahitnya belajar walau sesaat,maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya."

"Dan barang siapa kehilangan kesempatan belajar pada masa mudanya,
maka bertakbirlah empat kali atas kematiannya."

Pada bait pertama ini, makna pahit yang dimaksud ialah seorang pelajar harus bersabar menghadapi beratnya perjuangan dalam menuntut ilmu. Kepahitan tersebut dapat dirasakan kala sulitnya memahami pelajaran, jauhnya jarak tempuh, keterbatasan sarana, meninggalkan kesenagan duniawi dan besarnya biasa yang harus dikeluarkan. Di sisi lain, letihnya badan dan lelahnya pikiran harus dilalui dengan penuh kesabaran. Tidak ada kata menyerah, selagi layar terkembang pantang surut ke belakang.  Yahya bin Yasir berkata: Al-Ilmu lâ yanâlu bi râhatil jasadi (ilmu tidak akan diperoleh dengan badan yang selalu ingin bersantai). (Ibnu Imâm Al-Kâmiliah, Yasîrul Wushûli ilâ minhâjil Ushûli, 262). Kalimat ini sebuah isyarat bahwa menuntut ilmu bukan sesuatu yang ringan, butuh kesungguh dan tekad yang kuat.

Maka kata sa’atan sebuah isyarat bahwa pahit yang dirasakan seorang pelajar tidak bersifat permanen. Mungkin saja masa belajar yang dihabiskan kisaran sepuluh hingga dua puluh tahun. Dengan waktu yang singkat tersebut dibalas dengan sesuatu yang besar di sisi Allah Shubhnahu Waatala berapa deratanya ditinggikan.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujâdalah: 11)

Jadi, waktu yang singkat dalam menuntut ilmu tersebut diganti Allah Subhanahu Waatala dengan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.

Pada bait kedua, disebutkan bila seseorang enggan merasakan beratnya menimba ilmu niscaya akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidup. Hina kebodohan yang dimaksud ialah hilangnya petunjuk dalam menjalani kehidupan, tersesat dari jalan kebenaran dan hilangnya kesempatan dalam mengembangkan diri. Orang yang jahil tidak akan dihargai oleh lingkungan, kelompok dan orang-orang yang di sekitarnya. Kedudukan mereka dengan yang berilmu berada di level yang berbeda, bahkan Allah Subhanahu Waatala membedakan keadaan mereka.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

"Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu?" (QS. Az-Zumar: 9).

Jika orang berilmu harga yang harus dibayar dengan memperoleh kemuliaan, petunjuk, dan keberhasilan di dunia maupun di akhirat, maka kehinaan orang jahil dibayar dengan tersesat dari kebenaran dan kegagalan sepanjang hayat.

Adapun bait ketiga secara tegas disebutkan bahwa orang yang menyia-nyiakan waktu muda dalam menimba ilmu sudah selayaknya ditakbirkan sebanyak empat kali. Pesan yang ingin disampaikan oleh pemilik kitab Al-Umm ini sangat jelas bahwa orang yang tidak mau belajar sudah dianggap mati, tidak berguna, keberadaannya di tengah masyarakat tidak diperhitungkan. Memang tampaknya sindiran dalam bait tersebut begitu keras agar generasi muda tidak berleha-leha, sebab kesempatan hanya datang sekali. Orang arab berkata:

وَلَنْ تَرْجِعَ الْأَيَّامُ الَّتِي مَضَتْ
إِلَيْكَ وَلَا يَوْمٌ مِنَ الْعُمْرِ يُرْجَعُ

"Dan hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali kepadamu,
dan tidak ada satu hari pun dari umur yang dapat dikembalikan."

Syair "Hari-hari yang telah berlalu tidak akan kembali kepadamu" mengajarkan bahwa waktu adalah aset paling berharga dalam kehidupan manusia. Setiap hari yang berlalu merupakan bagian dari umur yang tidak mungkin dikembalikan. Karena itu, Islam mengajarkan agar waktu digunakan untuk menuntut ilmu, beramal shaleh, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Waatala. Penyesalan terbesar bukanlah kehilangan harta atau kedudukan, melainkan kehilangan waktu yang telah berlalu tanpa nilai di sisi Allah Subhanahu Waatala. Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk menambah ilmu, amal, dan ketakwaan sebelum datang saat ketika ia berharap dapat kembali, tetapi tidak lagi diberi kesempatan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan mulia yang tidak dapat ditempuh tanpa kesabaran, pengorbanan, dan kesungguhan. Kepahitan yang dirasakan selama proses belajar, seperti kelelahan, keterbatasan sarana, dan beratnya memahami pelajaran, hanyalah kesulitan sementara yang akan berbuah kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu Waatala. 

Sebaliknya, orang yang enggan merasakan pahitnya belajar akan menanggung kehinaan kebodohan sepanjang hidupnya, berupa hilangnya petunjuk, kesempatan berkembang, serta rendahnya kedudukan di hadapan manusia dan Allah Subhanahu Waatala. Selain itu, jangan menyia-nyiakan waktu muda dengan bersantai sebab kesempatan tidak akan pernah datang kali kedua. ***