Tiga Keutamaan Shalat Berjamaah dalam Kehidupan Seorang Muslim
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Kaum muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang berbahagia…
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِبِرِّ الْوَالِدَيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى المبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلعَالميْنَ وَعَلَى آلِهِ الطَّاهِرِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الغُرِّ الميَامِيْنَ إِلَى يَوْمِ البَعْثِ وَالدِّيْنَ، أَشْهَدُأَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ. أَمَّا بَعْدُ! فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ﴾. ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا﴾.
SHALAT merupakan sarana untuk menjalin hubungan dengan Allah swt. Dalam ibadah shalat terjadi dialog yang sangat baik antara seorang hamba dengan Tuhannya. Setiap ayat-ayat dalam surat Al-Fatihah yang dilafalkan, secara langsung dan cepat dijawab oleh Allah Subhanahu Waatala. Seorang muslim yang istiqomah menegakkannya secara berjamaah akan memberi dampak yang luar biasa dalam kehidupannya berupada terhindar dari perbuatan keji dan munkar.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
Tegakkanlah shalat,! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut [29]: 45).
Ibnu Abbas berkata, terhindar dari perbuatan keji bermakna terpelihara dari kemaksiatan. (Ibnu Abbas, Tanwîr al-Miqbâs, 1/336). Selain itu, shalat ibadah shalat berjamaah memiliki keajaiban yaitu:
Kaum muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang berbahagia…
1. Terhindar dari Gangguan Setan
Pada dasarnya setiap amal ibadah yang dilakukan seorang muslim dapat mencegah dari gangguan setan, karena sejatinya amal adalah perisai. Semakin banyak amal yang dilakukan, maka semakin kuat dan kokoh perisai yang melindungi. Namun ketika seseorang dalam keadaan sendiri akan jauh lebih mudah diganggu dan disesatkan setan daripada saat berjamaah. Hal itu tergambar dalam sabda baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ
Sungguh, tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali pihak ketiganya adalah setan. Hendaklah kalian selalu berjama'ah. Dan janganlah kalian berpecah belah, karena setan selalu bersama dengan orang yang sendirian, sedangkan terhadap dua orang, ia lebih jauh. (HR. Tirmizi)
Berdasarkan hadits di atas dapat dipahami bahwa seorang muslim wajib menjaga persatuan (al-jamaah), karena dengannya tercipta hubungan yang baik dan tercipta solidaritas umat yang kuat. Di samping itu, orang yang senantiasa berjamaah terhindar dari bisikan-bisikan setan, perangkap-perangkap setan, atau dalam memutuskan suatu perkara lebih dekat pada kebenaran. Bila hal itu dikaitkan dengan ibadah shalat, maka orang yang berjamaah jauh kelalaian.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلَاةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ، فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ
Tidaklah tiga orang berada di suatu kampung atau perkampungan badui, tidak didirikan shalat berjamaah pada mereka, maka mereka dikuasai setan. Hendaklah engkau melaksanakan shalat berjamaah, sesungguhnya srigala hanya memakan kambing yang memisahkan diri dari gerombolannya. (HR. Abu Daud)
Alur logika pada riwayat di atas sangat menarik. Orang yang enggan shalat berjamaah diumpamakan seekor kambing yang memisahkan diri rombongan, dimana hal tersebut akan memudahkan serigala memangsanya. Ini bermakna, apabila seekor kambing berjalan bersama kawanan kambing lainnya tentu akan menyulitkan srigala untuk menerkam.
Jadi, shalat berjamaah menjaga seseorang ganggun setan, seperti lupa, kurang khusyuk, dan banyak hal-hal yang dipikirkan. Bahkan terkadang saat shalat sendiri selalu ingin menyelesaikannya secepat mungkin.
Kaum muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang berbahagia…
2.Terjalin Silaturahmi yang Erat
Tak diragukan lagi, orang yang senantiasa shalat lima waktu di masjid secara berjamaah memperpanjang tali silaturahminya. Setiap kali ke masjid pasti bertemu dengan banyak orang yang berbeda-beda. Terkadang seseorang menemukan jodohnya setelah sekian lama bersilaturahmi, mendapatkan pekerjaan dengan banyak mengenal orang, dan terbukanya pintu rezeki kala berinteraksi dengan banyak orang. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan orang yang mengurung diri di rumah, bahkan tak jarang dijumpai di tengah masyakarat tidak mengenal tetangganya walau sudah tinggal beberapa tahun. Oleh karenanya, shalat berjamaah salah satu cara menjalin silaturahmi agar dibukakan pintu rezeki yang melimpah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw berabda: Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim. (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi, silaturahmi memperbanyak rezeki dan memperpanjang (memberi berkah) pada umur. Salah satu kiat agar silaturahmi hidup tegakkan shalat lima waktu di masjid-masjid.
Kaum muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang berbahagia…
3. Gugurnya Dosa
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, orang-orang yang shalat berjamaah di masjid pasti bertemu dengan banyak orang. Sudah menjadi kebiasaan setiap kali berpapasan saling mengucapkan salam sembari mengulurkan tangan. Amalan bersalaman saat bertemu sesama muslim termasuk perkara yang disunnahkan. Di samping mengeratkan hubungan antar sesama, ia juga dapat menggugurkan dosa-dosa kecil.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ، إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا»
Dari Bara’ bin Azib berkata, Rasulullah saw bersabda: Tidaklah dua muslim bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmizi)
Imam an-Nawawi mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, berjabat tangan hukumnya sunnah. (Musa Syahin, Fathul Mun’im Syarhu Shahih Muslim, 8/478).
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: «إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ فَتَصَافَحَا وَحَمِدَا اللّٰهَ وَاسْتَغْفَرَاهُ غُفِرَ لَهُمَا»
Dari Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Jika dua orang muslim bertemu, lalu mereka bersalaman, memuji Allah azza wa jalla, dan meminta ampunan kepada Allah, maka diampuni untuk mereka berdua.” (HR. Abu Daud).
Dapat disimpulkan bahwasanya orang yang bersalaman lalu memuji Allah Subhanahu Waatala dan memintakan ampun satu sama lain, maka dosa-dosanya akan diampuni. Dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil seperti salah ucap, berburuk sangka, mendengar perkataan kotor dan lain sebagainya.
Dalam shalat berjamaah ada satu hal yang tidak ada pada shalat sendirian. Yaitu mengucapkan amin setelah imam membaca surat al-Fatihah. Apabila ucapan amin makmum bersamaan dengan ucapan amin malaikat dosanya diampuni.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عنْ أبي هُرَيْرَةَ رَضِي اللّٰهُ عَنهُ أَن رسُولَ اللّٰهِ صلى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسلم قَالَ: إذَا قَالَ الإمامُ غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ ولاَ الضَّالِّينَ فقُولُوا آمِينَ فمنْ وافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ غُفِرَ لهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. .
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Jika imam shalat mengucapkan 'ghairul maghdhuu bi 'alaihim walad-dhallin', maka ucapkanlah, 'Aamiin'. Siapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan aminnya malaikat, maka dosa-dosanya di masa lalu mendapat ampunan. (HR. Bukhari).
Abul Walid al-Baji berkata, riwayat ini khusus bagi makmum dan juga menunjukkan keumuman bagi orang yang mengucapkan amin, karena apabila ucapan amin malaikat bersamaan dengan ucapan amin makmum maka dosa-dosanya lalu akan diampuni. Keadaan semacam diharapkan bagi setiap muslim. (Abul Walid al-Baji, al-Muntaqa Syarhu Muwatta’ Malik, 2/67).
Dari penjelasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa shalat berjamaah bukan hanya sarana beribadah kepada Allah Subhanahu Waatala, tetapi juga memiliki berbagai keutamaan dan fungsi yang berdampak besar bagi kehidupan seorang muslim. Melalui shalat berjamaah, seseorang lebih terjaga dari gangguan dan tipu daya setan, semakin kuat ikatan silaturahminya dengan sesama muslim, serta memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil melalui berbagai amalan yang menyertainya. Oleh karena itu, shalat berjamaah merupakan ibadah yang tidak hanya memperkuat hubungan dengan Allah Subhanahu Waatala, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang harmonis dan penuh keberkahan.***
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.