Pelajaran Tawakkal dari Kisah Nabi Ibrahim AS dan Sayyidah Hajar

Sabtu, 13 Juni 2026 - 08:55:34 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

      SOSOK Nabi Ibrahim AS dan istrinya Hajar merupakan teladan dalam kesabaran dan ketaataan terhadap perintah Allah Subhanahu Waatala.Meskipun sudah lama menjalani pernikahan tanpa dikarunai anak, mereka tidak pernah berputus asa dan kehilangan harapan dalam beribadah kepada Tuhannya. Setiap saat Ibrahim AS dan Hajar senantiasa menengadahkan tangan ke langit, memanjatkan doa dengan penuh kerendahan hati agar dianugerahi keturunan yang shaleh dan menjadi penerus risalah tauhid sepeninggalnya. Apa yang dilakukan tidak pernah membuat dua pasang suami istri ini kecewa, di usia yang tidak muda lagi Allah Subhanahu Waatala kabarkan akan kelahiran seorang yang akan kelak menjadi seorang nabi.

Sontak kabar tersebut membuat mereka terkejut mengingat Hajar yang diklaim mandul dan Ibrahim AS sudah tua renta. Di satu sisi ada asa yang sudah ditunggu lama lain berupa kelahiran seorang anak, di sisi lain hal itu mustahil terwujud. Namun begitulah indahnya rencana Allah Subhanahu Waatala banyak hal-hal yang terjadi di luar kemampuan akal manusia tetapi terwujud tanpa harus ada sebab. Oleh karena itu, manusia hanya bisa berharap dan berusahan, ketetapan tetap pada Sang Maha Kuasa.

Adapun ketaatan Ibrahim AS dan Hajar tercermin dari sikap mereka yang segera menerima perintah Allah Subhanahu Waatala walau dalam pandangan manusia sangat berat untuk dilakukan. Ibrahim AS diminta untuk meninggalkan istrinya dan Ismail kecil di sebuah lembah yang tidak berpenghuni dan jauh dari kehidupan manusia demi risalah tauhid. Sesaat sebelum Ibrahim AS beranjak pergi, Hajar memberanikan diri untuk menanyakan keputusan suaminya tersebut.

“Wahai suamiku Ibrahim, apakah engkau akan meninggalkan kami di tempat yang tidak ada manusia dan tidak ada sesuatupun di sini?”. Tanya Hajar tegas.

Namun Ibrahim as tidak menoleh sedikitipun, lantas Hajar Kembali bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau akan meninggalkan kami berdua di tempat yang tidak ada seorang pun manusia dan tanda-tanda kehidupan di sini!?”. Tanyanya sedikit keras.

Pertanyaan yang sama itu diulang berkali-kali, namun belum mendapat jawaban dari Ibrahim as. Lantas kemudian Hajar memahami sikap dingin Ibrahim yang tidak memberi respon, lalu memberi jawaban dari pertanyaannya sembari bertanya. “Apakah Allah swt yang memerintahkanmu melakukannya?”, Segera Ibrahim as menyahut, “Iya”. Mendengar jawaban tersebut, akhirnya Hajar memberi semangat kepada dirinya dan Ismail kecil dengan berkata: “ Sesungguhnya Allah  Subhanahu Waatala tidak akan menyia-nyiakan kami”. (HR. Bukhari)

Dialog antara Hajar dan Ibrahim AS di atas merupakan bentuk ketataan dan ketawakkalan tingkat tinggi. Dua pasang suami ini tidak pernah mengeluh dan mempertanyakan apa yang menjadi keputusan Allah Subhanahu Waatala. Dalam diri mereka sudah tertanam sebuah keyakinan bahwa siapa saja yang berjuang di jalan Allah Subhanallah Waatala pasti akan dimudahkan dan dimuliakan. Pasrah dan menerima kehendak-Nya adalah jalan terbaik yang harus diambil.

Setelah Nabi Ibrahim AS semakin menjauh dan hilang dari pandangan Hajar, ia pun mulai berlari antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari bantuan. Apa yang dilakukan oleh ibu Ismail ini bagai fatamorgana, karena ia berada di tengah gurun tandus yang tidak seorang pun manusia dan tanda-tanda kehidupan.  

Namun sulit dan beratnya tantangan yang dihadapi tidak membuatnya putus asa. Ia terus berlari antara dua bukit tersebut sebanyak tujuh kali. Manusia boleh berusaha, namun hasil tetap Allah Subhanahu Waatala yang menentukan. Secara ajaib Ismail as menghentakkan kakinya ke tanah lalu memancarkan mata air yang dikenal hari ini dengan Zamzam. Akhirnya anak dan ibu ini menyaksikan sendiri janji Tuhannya setelah berusaha dengan maksimal dan bertakawakkal sepenuhnya.

Kisah Sayyidah Hajar mengajarkan bahwa tawakkal bukanlah sikap pasrah tanpa usaha, melainkan keyakinan penuh kepada Allah Swt yang dibuktikan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh. Ketika ditinggalkan di lembah tandus bersama Ismail as, Hajar tidak tenggelam dalam keputusasaan. Ia tetap percaya kepada janji Allah Subhanahu Waatala sekaligus berusaha mencari pertolongan dengan berlari antara Bukit Shafa dan Marwah. Dari perjuangan itulah Allah menghadirkan pertolongan-Nya melalui mata air Zamzam yang terus mengalir hingga hari ini.

Oleh karena itu, tawakkal sejati adalah perpaduan antara keimanan, ketaatan, kesabaran, dan usaha yang maksimal. Sayyidah Hajar memberikan teladan bahwa seorang mukmin harus tetap bergerak dan berikhtiar dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan, sembari meyakini bahwa Allah Subhanahu Waatala tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang berpegang teguh kepada-Nya. Kisah ini menjadi pelajaran berharga bahwa di balik setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar dan tawakkal, selalu ada pertolongan dan hikmah yang telah Allah Subhanahu Waatala persiapkan.***