Menyiapkan Sahabat Terbaik untuk Alam Kubur
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc
MANUSIA merupakan makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan teman dalam menjalani kehidupan. Kehadiran seorang teman mempu memberi warna, dukungan dan makna dalam setiap fase kehidupan manusia yang dilalui. Dalam Islam, sebuah pertemanan tidak dibatasi ruang dan waktu, melainkan langgeng hingga ke akhirat kelak. Oleh karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap pentingnya memilih teman yang baik, karena teman memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap cara berpikir, bersikap dan bertindak seseorang.
Ketika seseorang menghadapi kematian, keadaan berubah drastis segala yang dimiliki satu per satu mulai menjauh. Janji setia yang terucap di atas pelaminan kini tinggal kenangan, anak dan keluarga yang selalu dibela tiada kata dan sapa, dan sahabat seperjuangan yang selalu dibanggakan hilang tanpa bekas. Keadaan yang diaraskan terasa sepi, sunyi dan asing, sebab ia telah berada di alam baru yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, yaitu alam kubur.
Pada saat itu, seseorang baru menyadari bahwa apa yang dahulu diusahakan ternyata tidak satupun memberi pertolongan. Pasangan hidupnya kini memulai hidup baru, keluarga, sahabat dan handai taulan yang selalu dibanggakan hanya tinggal kenangan yang tak tersisa. Kenyataan yang dihadapi jauh berbeda dari keadaan sebelumnya. Maka pada fase ini hanya ada amal kebaikan yang selalu mendampingi. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan bahwa kala segalanya hilang, maka akan hadir satu sosok yang tak pernah dikenal menghampiri, wajahnya indah, pakaiannya bagus dan aromanya wangi.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
فَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِ كُنْتَ تُوعَدُ. فَيَقُولُ لَهُ: وَجْهُكَ الْوَجْهُ الَّذِي يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَمَنْ أَنْتَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ.
Lalu datang kepadanya seorang yang tampan wajahnya, indah pakaiannya, dan harum baunya. Ia berkata, 'Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dahulu dijanjikan kepadamu.' Maka orang itu berkata, 'Wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan. Siapakah engkau?' Ia menjawab, 'Aku adalah amal shalehmu.'(HR. Ahmad)
Ketika seluruh teman, keluarga, dan harta benda telah meninggalkannya, maka amal shaleh hadir sebagai penolong, penghibur, dan pembawa kabar gembira dengan wajah tampan, berpakaian indah dan aroma wangi. Dengan demikian, teman terbaik di alam kubur bukanlah mereka yang hanya membersamai kita dalam urusan dunia, tetapi amal-amal kebaikan yang lahir dari keimanan dan ketakwaan kepada Allah. (Ibnu Qayyim Al-Jauziah, Hâdil Arwâhi il bilâdil Afrâhi, 54).
Kalimat di atas menjadi pelajaran berharga bagi kita bahwa teman terbaik setelah kematian bukanlah orang yang paling dekat dengan kita di dunia, melainkan amal shaleh yang paling banyak kita persembahkan kepada Allah Subhanahu Waatala.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
"Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Kemudian dua perkara kembali dan satu perkara tetap bersamanya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ahli syair berkata:
فَلَا يَصْحَبُ الإِنْسَانُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ وَفِي قَبْرِهِ غَيْرُ الَّذِي كَانَ
يَعْمَلُ
Tidak ada yang menemani manusia setelah ia meninggal dan berada di dalam kuburnya kecuali amal yang pernah dilakukannya semasa hidup. (Muhammad Habibullah As-Singkithi, Zâdal muslim fîma ittafaqol bukhâri wal muslim, 5/310)
Kalimat ini sering digunakan oleh para ulama ketika menjelaskan bahwa amal saleh adalah sahabat sejati manusia di alam kubur, sejalan dengan hadis di atas. Dalam hadis lain, setelah seseorang meninggal bacaan Al-Qur’an
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ، فَيَقُولُ: لَهُ هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ: أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ
Sesungguhnya Al Qur'an akan menemui pembacanya pada hari kiamat ketika kubur terbelah seperti seorang laki-laki pucat karena takut. Ia berkata kepada pembacanya; Apakah engkau mengenalku? Ia menjawab; Aku tidak mengenalmu. Ia berkata; Aku adalah temanmu, Al Qur'an, yang menghilangkan haus pada siang hari yang panas dan membuatmu begadang di malam hari. (HR. Darimi)
Al-Qur'an datang sebagai bentuk penghormatan dan balasan atas hubungan yang terjalin antara seorang mukmin dengan kitab Allah semasa hidupnya. Orang yang dahulu rela menahan haus saat berpuasa, menghidupkan malam dengan tilawah dan qiyam, serta mengamalkan kandungan Al-Qur'an akan memperoleh pertolongan dan pembelaan darinya.
Imam Ibnu Katsir berkata: "Seseorang didatangi di kuburnya dari arah kedua kakinya, lalu kedua kakinya berkata: 'Kalian tidak memiliki jalan untuk menyiksaku, karena dia dahulu membaca Surah Al-Mulk.' Kemudian didatangi dari arah dadanya dan dari arah kepalanya, lalu masing-masing berkata: 'Kalian tidak memiliki jalan untuk menyiksaku, karena dia dahulu membaca Surah Al-Mulk.' (Ibnu Katsîr, Tafsîr Al-Qurân al-Azhîm, 8/175).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pasangan, anak, keluarga dan sahabat serta harta tidak akan selalu membersamai. Ketika kematian datang, semuanya akan berpisah dan tidak lagi dapat memberikan pertolongan. Yang tetap setia menemani seseorang di alam kubur hanyalah amal shaleh yang telah ia kerjakan semasa hidupnya. Amal tersebut hadir sebagai sahabat, penghibur, dan pembela di hadapan Allah Subhanahu Waatala.
Di antara amal yang paling mulia adalah membaca, mengamalkan, dan menjaga hubungan dengan Al-Qur'an, karena ia akan menjadi penolong bagi pembacanya. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya mempersiapkan teman terbaik setelah kematian dengan memperbanyak amal shaleh, memperkuat ketakwaan, dan menjadikan Al-Qur'an sebagai sahabat dalam kehidupan sehari-hari.***