Penggawa Melayu Riau Gelar Doa Bersama dan Makan Berhidang, Satukan Ribuan Warga di Depan Masjid Agung An-Nur

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:25:51 WIB

Ribuan masyarakat memadati kawasan depan Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, Selasa (16/6/2026)

PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)--Ribuan masyarakat memadati kawasan depan Masjid Agung An-Nur, Pekanbaru, Selasa (16/6/2026) malam dalam kegiatan Doa Selamat Menyongsong Bangkitnya Nusantara dan tradisi Makan Berhidang yang digelar Penggawa Melayu Riau (PMR).

Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan 1 Muharram 1448 Hijriah itu berlangsung dalam suasana religius sekaligus kental dengan nuansa budaya Melayu. Deretan hidangan yang tersusun memanjang menjadi pusat perhatian masyarakat yang datang dari berbagai wilayah untuk mengikuti rangkaian acara.

Ketua Umum DPP Penggawa Melayu Riau, Afrizal menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang refleksi bersama di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi bangsa.

Menurutnya, doa bersama dilakukan sebagai bentuk ikhtiar batin agar Indonesia mampu melewati berbagai persoalan dan bergerak menuju kondisi yang lebih baik.

“Momentum tahun baru Islam ini kami jadikan sebagai ajakan untuk memperkuat harapan, menjaga persatuan, dan memohon kebaikan bagi bangsa,” papar Afrizal.


Afrizal juga menekankan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap jasa para pendahulu, mulai dari pejuang kemerdekaan, alim ulama, hingga tokoh bangsa yang telah berkontribusi membangun negeri.

Ia menilai pelestarian adat dan budaya merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap warisan tersebut. Karena itu, tradisi makan berhidang dipilih sebagai simbol kebersamaan dan identitas masyarakat Melayu yang tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Panitia sebelumnya menyiapkan sekitar 7.000 porsi makanan dengan tambahan cadangan. Tingginya antusiasme masyarakat membuat kawasan acara dipenuhi peserta hingga sebagian tetap mengikuti kegiatan sambil berdiri.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa bersama yang dipimpin perwakilan Kementerian Agama melalui KUA Kecamatan Lima Puluh. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dinilai memiliki kontribusi terhadap pembangunan masyarakat.

Suasana semakin khidmat saat sesi tausiah bertema renungan kebangkitan diri dan kebangkitan Nusantara disampaikan kepada masyarakat yang hadir.

Puncak kegiatan berlangsung ketika ribuan peserta duduk bersama menikmati hidangan dalam tradisi makan berhidang yang diiringi pertunjukan Tari Zapin dari Sanggar Tari Laksamana.

Salah seorang pengunjung, Sinyo, mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan dengan skala sebesar itu. Menurutnya, suasana yang tercipta terasa berbeda karena masyarakat dari berbagai latar belakang bisa duduk sejajar tanpa sekat.

“Jarang lihat suasana seperti ini. Orang datang bukan cuma untuk makan, tapi juga ikut berdoa dan saling menyapa. Rasanya hangat, seperti kembali diingatkan kalau kebersamaan itu masih ada dan budaya kita masih hidup,” ujar Sinyo.

Mengusung tema “Renungan Kebangkitan Diri dan Kebangkitan Nusantara melalui Tradisi Makan Berhidang sebagai Wujud Pelestarian Adat Melayu dan Penguatan Persatuan Bangsa”, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertemuan antara nilai religius, budaya, dan semangat kebangsaan.(RK)