Mengisi bulan Muharram dengan Amal dan Ketaatan

Rabu, 17 Juni 2026 - 07:34:11 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

    

      SALAH satu nikmat terbesar yang Allah Subhanahu Waatala karuniakan kepada umat manusia ialah waktu. Setiap detik yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, orang arab berkata: lan tarji’al ayyâm allati madhot (hari-hari yang telah berlalu tidak akan pernah kembali). Di sisi lain, umur terus bergerak menuju garis akhir. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai setiap detik Allah  Subhanahu Waatala berikan. Di antara momentum berharga yang mengingatkan kita tentang pentingnya waktu adalah kehadiran bulan Muharram, bulan pertama dalam susunan kalender Hijriah.

Secara bahasa, bulan Muharram bermakna mulia atau suci, karena siapa yang melakukan amalan-amalan pada bulan tersebut mendapat kemuliaan dari Allah Subhanahu Waatala.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi; di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan-bulan) itu" (QS. At-Taubah: 36)

Qotadah berakta: Sesungguhnya kezaliman (dosa) pada bulan-bulan haram lebih besar kesalahan dan dosanya dibandingkan kezaliman pada bulan-bulan selainnya. Meskipun kezaliman pada setiap waktu tetap merupakan dosa besar, namun Allah mengagungkan apa yang Dia kehendaki.  (Ibnu Katsîr, Tafsîr Al-Qur’ân Al-Azhîm, 7/198).

Imam Al-Munawi berkata: Kalimat janganlan kamu menzalimi dirimu dalam bulan-bulan itu karena dosa pada bulan-bulan tersebut lebih berat dan lebih besar dibandingkan pada waktu lainnya. (Muhammad Nashîb Ar-Rifâ’i, Taisîrul Al-‘Aliyyil Qadhîr likhtishâr li ibnil katsîr, 2/336).

Berdasarkan keterangan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram memiliki kedudukan yang istimewa di sisi Allah Subhanahu Waatala Pada bulan ini, setiap bentuk kezaliman dan kemaksiatan yang dilakukan seseorang memiliki dosa yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan lainnya. Oleh sebab mengapa seorang muslim mesti lebih berhati-hati dan menajga diri agar terhindar dari perbautan yang dilarang Allah Subhanahu Waatala. Sebaliknya, bulan yang mulia ini menjadi momen untuk memperbanyak amal shaleh seperti taubat, zikir, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan sebagai bentuk pengagungan terhadap syiar-syiar Allah swt, dan juga berpuasa.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ»

Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah salat wajib adalah shalat malam. (HR. Muslim)

Hadis di atas menjadi tolak ukur untuk memperbanyak amala di bulan Muhamrram, apakah puasa ataupun shalat. jika seseorang berpuasa pada awal Muharram (termasuk 1 Muharram) dengan niat memperbanyak puasa sunnah di bulan Muharram, maka itu termasuk amalan yang dianjurkan berdasarkan dalil ini. karena puasa yang paling utama setelah  Ramadan adalah bulan Muharram. (Ahmad Abdurrahman Al-Banna, Al-Fathu Ar-Rabbânî li tartîbi musnad li imâmil Ahmad as-Syaibânî, 174).

Ironisnya, sebagian besar kaum muslimin melewatkan momen istimewa ini begitu saja. Pergantian tahun dianggap hal bisa yang selalu terjadi sekali dalam dua belas bulan, bahkan justeru tidak sedikit merasa rugi. Cara berpikir seperti ini semestinya harus diluruskan, sebab hal itu bukan saja membuat seseorang lalai dengan kenikmatan dunia, melainkan menjadi sebuah penyesalan di masa mendatang. Oleh karena itu, berhubung masih di awal bulan, mari kita tingkatkan iman dan amal selagi berada di bulan Muharram.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Subhanahu Waatala. Pada bulan ini, dosa dan kemaksiatan memiliki konsekuensi yang lebih besar, sehingga umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan tercela. Sebaliknya, Muharram menjadi kesempatan yang sangat berharga untuk memperbanyak amal shaleh seperti taubat, zikir, sedekah, shalat malam, dan puasa sunnah. Oleh karena itu, pergantian tahun Hijriah hendaknya dijadikan momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum umur berakhir.***