Puasa Muharram dan Keutamaannya
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
BULAN Muharram merupakan salah satu di antara empat bulan yang dimuliakan Allan Subhanahu Waatala, Dzulkaedah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab (QS. At-Taubah [9]: 36). Dari sisi bahasa, Muharram dari kata ha-ra-ma yang bermakna mengharamkan, mensucikan dan memuliakan, yaitu pada bulan-bulan seseorang ditekankan untuk menjauhi perbuatan zalim atau dilarang melakukan peperangan.
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab sangat menghormati bulan-bulan tersebut, sehingga para musafir, jamaah haji dan kafilah dagang aman untuk melakukan safar jauh. Setelah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam diangkat menjadi Nabi dan tiba di Kota Madinah Al-Munawwarah, kebiasaan baik ini tetap dijunjung tinggi. Pada suatu hari, Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam melihat orang-orang Yahudi Madinah Bani Qunaiqa’, Quraizhah dan dan Nadhir berpuasa pada hari ke sepuluh bulan Muharram.
Lantas baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam menanyakan perihal puasa yang mereka lakukan. Orang-orang Yahudi memberi tahu bahwa amalan itu dilakukan untuk menunjukkan rasa atas keselamatan Nabi Musa as dari kejaran Fir’aun. Kemudian, dengan tegas Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, anâ ahaqqu bi mûsâ minkum fa shâmahu wa amara bi shiyâmihi [Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, maka Rasulullah saw pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa]. (HR. Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan riwayat di atas, para ulama mengambil istinbath hukum bahwa puasa pada hari kesepuluh bulan Muharram dianjurkan.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ هُوَ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ
Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata: "Dahulu hari Asyura' adalah hari di mana orang-orang Quraisy berpuasa pada masa jahiliyah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga ikut berpuasa pada hari itu pada masa jahiliyah. Setelah tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berpuasa pada hari itu dan memerintahkan pada yang lain untuk ikut berpuasa. Ketika diwajibkan puasa Ramadhan dan inilah yang wajib, tidak ada lagi yang berpuasa pada hari itu. Barangsiapa yang mau maka dia boleh berpuasa dan barangsiapa yang mau dia boleh meninggalkannya." (HR. Malik)
Puasa pada bulan Muharram memiliki keutamaan di antaranya menghapus dosa setahun yang lalu.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Dari Abu Qotadah ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku berharap kepada Allah bahwa puasa pada hari 'Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu. " (HR. Ibnu Majah)
Menurut para ulama, dosa yang dihapus ialah dosa-dosa kecil, adapun dosa besar tidak dapat dihapus dengan puasa, namun jika tidak memiliki dosa kecil diharapkan bisa menghapus dosa besar. (An-Nawawi, Al-Minhâj Syarah Shahîh Muslim, 8/51).
Selain puasa Asyura, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menganjurjkan puasa di hari kesembilan (tâsû’â) dan pada hari kesebelas.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Berpuasalah pada hari Asyura, dan selisihilah orang-orang Yahudi dalam hal itu; berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya." (Musnad Ahmad.
Hadis ini berbicara tentang anjuran menyelisihi (mukhâlafah) Ahli Kitab dalam pelaksanaan puasa Asyura. Namun, karena Islam memiliki identitas tersendiri, Nabi saw tidak ingin umat Islam menyerupai Yahudi dalam tata cara ibadah. Oleh sebab itu, beliau berniat menambahkan puasa pada hari kesembilan:"Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan." (HR. Sahih Muslim)
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa puasa bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura (10 Muharram), merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Puasa ini memiliki dasar yang kuat dari hadis-hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dan termasuk amalan yang dapat menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang lalu. Untuk membedakan diri dari tradisi Yahudi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga menganjurkan berpuasa pada hari kesembilan (Tâsû'â) atau hari kesebelas Muharram bersama puasa Asyura.
Dengan demikian, puasa Muharram tidak hanya bernilai ibadah dan penghapus dosa, tetapi juga menjadi wujud ketaatan kepada sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam serta penghormatan terhadap salah satu bulan yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Waatala. ***