Persiapkan Bekal Pulang untuk Berjumpa dengan Allah Subhanallah Waatala

Sabtu, 27 Juni 2026 - 08:48:13 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

    SETIAP kali orang yang meninggal dunia, kaum muslimin dianjurkan mengucapkan kalimat istirja’, innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûna (sesungguhnya kita milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya). Sepintas, kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa seluruh makhluk pasti akan berpulang kepada Allah Subhanahu Waatala. Namun, kalimat istirja’ ini mengandung makna yang lebih luas, ia bukan hanya sekadar ucapan belasungkawa yang keluar dari mulut, melainkan sebuah khabar bahwa kehidupan dunia hanya tempat singgah sementara.

Bila ditinjau dari sisi kaidah bahasa, kata innâ adalah huruf taukîd (penegasan) yang berfungsi menguatkan kalimat sesudahnya, atau menujukkan sesuatu yang sangat penting. Sedangkan frasa lillâhi (milik Allah Subhanahu Waatala) bermakna sebuah pengakuan luar biasa yang lahir dari kesadaran penuh bahwa segala yang ada pada manusia milik Allah Subhanahu Waatala, mulai dari fisik yang kuat, harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, prestasi yang mentereng bahkan ruh yang menghidupkan jasad. Oleh karena itu, kehidupan dunia pasti akan berakhir.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-An'am [6]: 32)

Adapun frasa ilahi (kepada-Nya), yaitu menunjukkan arah seluruh tujuan manusia, yakni menghadap Allah Subhanahu Waatala. Sementara kalimat terakhir râji’ûna (semua kembali) adalah sebuah kepastian bahwa manusia akan pulang lalu bertemu dengan Allah Subhanallah Waatala. Di sini inti kalimat, yaitu pulang. Tak sedikit yang berpikir bahwa setelah seseorang meninggal dunia akan pulang kepada Allah Subhanahu Waatala dengan tenang, damai dan hidup penuh kenikmatan. Al-Qur'an dan sunnah mengajarkan bahwa kepulangan memang pasti, tetapi keadaan ketika pulang tidaklah sama bagi setiap orang.

Pulang bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Diibaratkan seseorang yang sudah merantau puluhan tahun yang tidak pernah pulang ke kampung halamannya, niscaya akan merasa kesulitan mencari jalan, sebab boleh jadi ia tidak lagi mengingat arah atau tidak mengenali petunjuk jalan karena sudah banyak perubahan. Namun, kesulitan itu tentu masih dapat diatasi dengan bertanya, atau mencari informasi.

Keadaan itu tentu jauh berbeda saat seseorang mencari jalan pulang, sebab tidak ada penunjuk jalan dan tempat bertanya serta akses informasi sudah terputus, satu-satu yang bisa menolong adalah amal shaleh. Singkatnya, setiap orang mencari jalannya sendiri. Maka bila tidak membuat jalan-jalan itu semasa hidup, dapat dipastikan akan tersesat dari jalan kebenaran.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

Orang yang cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. (HR.  Tirmizi)

Sesungguhnya jalan itu dapat dititi dengan membiasakan shalat masjid lima waktu sehari semalam, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat harta, menunaikan ibadah haji dan umrah. Sejatinya amalan-amalan ini sebagai pendamping ruh saat akan kembali kepada Allah Subhanahu Waatala. Oleh karena itu, jika seseorang ingin ruhnya mengenali jalan pulang hendaklah mengikuti petunjuk agar tidak tersesat.

Allah Subhanahu Waatala juga berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Taha: 123)
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak membiarkan manusia berjalan tanpa arah. Sebelum manusia kembali kepada-Nya, Allah terlebih dahulu mengutus para nabi, menurunkan kitab-kitab suci, dan memberikan akal agar manusia mengetahui jalan yang benar. Dengan demikian, jalan pulang kepada Allah Subhanahu Waatala bukanlah jalan yang baru dicari setelah kematian, melainkan jalan yang telah diperlihatkan selama kehidupan di dunia.

Orang-orang kafir selalu berangan-angan hidup bahagia dunia akhirat, namun harapan itu hanya sebatas ucapan lisan belaka. Apa yang dilakukan selalu bertolak belakang dari kenyataan. Maka bagaimana mungkin jalan pulang didapatkan dengan benar!? Malaikat memberikan rute yang salah, namun mereka tidak menyadari dan terus berjalan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kalimat innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn bukan sekadar ungkapan belasungkawa, melainkan pengakuan bahwa seluruh kehidupan berasal dari Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Namun, kepulangan itu bukan sekadar perpindahan dari dunia ke akhirat, melainkan perjalanan yang harus dipersiapkan sejak di dunia dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu . Amal shaleh, ketaatan, dan istiqamah menjalankan syariat merupakan bekal terbaik untuk menghadapi perjumpaan dengan Allah Subhanallah Waatala.

Sebaliknya, kehidupan yang dipenuhi kelalaian dan kecintaan berlebihan kepada dunia dapat menjauhkan manusia dari jalan hidayah. Karena itu, makna "kembali kepada Allah Subhanahu Waatala" hendaknya menjadi pengingat agar setiap muslim senantiasa memperbaiki iman, memperbanyak amal saleh, dan meniti jalan yang telah ditunjukkan Allah Subhanahu Waatala melalui para nabi dan kitab-kitab-Nya, sehingga kembali kepada-Nya dalam keadaan yang diridai.***