Sikap Menghadapi Kematian Mendadak
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
KEMATIAN merupakan sesuatu yang pasti dialami oleh setiap manusia. Ketika waktu itu tiba, maka tidak seorang pun mampu yang menunda ataupun mempercepatnya walau sesaat. Cara seseorang menghadapi kematiannya berbeda-beda, ada yang meninggal setelah mengalami sakit dalam kurun waktu yang lama, dan tidak sedikit pula meninggal secara tiba-tiba. Dua keadaan tersebut tidak bisa dipesan, manusia hanya pasrah mengikuti garis takdir Allah Subhanahu Waatala.
Meninggal baik diawali dengan sakit ataupun datang secara tiba-tiba adalah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada, sabar dan ridha, karena setiap ketetapan-Nya pasti baik dan mengandung hikmah. Namun kematian jenis pertama terkadang lebih mudah diterima dibanding kematian kedua, sebab mungkin saja ahli keluarga memiliki waktu banyak untuk merawat, menjaga, menjenguk sebelum meninggal.
Keadaan ini tentu tidak sama dengan orang yang meninggal secara tiba-tiba. Ahli keluarga yang ditinggal tidak memiliki kesempatan berbuat lebih baik banyak, karena kepergiannya yang tidak disangka. Di samping itu, rasa kaget yang luar biasa dapat menguncang jiwa. Tak jarang pihak keluarga berada dalam tekanan batin dan bahkan tak sedikit mengalami stress berat.
Bila dilihat dari kacamata Islam, sejatinya kematian mendadak itu hanya ada pada ilmu manusia yang terbatas. Sementara dalam pengetahuan Allah Subhanahu Waatala semua telah ditentukan. Ketika seseorang berada di alam rahim ibu masing-masing, Allah Subhanahu Waatala telah memberitahu ajal manusia kala menjalani kehidupan di dunia.
Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud ra berkata, Rasulullah ﷺ bersadab:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula.
Kemudian Allah Subhanahu Waatala mengutus seorang malaikat, lalu malaikat itu meniupkan ruh kepadanya, dan diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia...." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kajal (الأجل) pada riwayat di atas bermakna batas, yaitu setiap manusia telah diberi batas waktu untuk menjalani kehidupan di dunia. (Muhammad Yusuf Al-Kirmânî, Syarhu Al-Kirmânî ‘ala shahîh al-Bukhârî, 2/513). Secara pasti hitungan batas tidak pernah diberitahukan kepada manusia, namun Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa batas waktu bagi umatnya antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan jika ada yang melebihi usia itu hanya segelintir orang.
Ini artinya, bila kematian secara tiba-tiba dikaitkan dengan ajal yang sudah ditulis, maka sesungguhnya tidak ada istilah mendadak, sebab segala sesuatu telah ditetapkan sejak di alam rahim. Manusia di dunia ini hanya mengabiskan jatah ajal yang diberi kepada tiap-tiap orang. Allah Subhanahu Waatala secara tegas menyatakan bahwa ada orang-orang diberi umur panjang dan tidak sedikit yang diwafatkan sebelum itu.
Allah Subhanahu Waatala berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا ۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُّسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, lalu Dia melahirkan kamu sebagai anak, kemudian (membiarkan kamu hidup) agar kamu sampai kepada usia dewasa, kemudian menjadi tua. Di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu, agar kamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan agar kamu mengerti." (QS. Ghafir: 67)
Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan hidup manusia tidak pernah sama. Allah Subhanahu Waatala menetapkan sebagian manusia mencapai usia tua, sementara sebagian lainnya diwafatkan sebelum itu. Perbedaan panjang dan pendeknya umur bukanlah suatu kebetulan, melainkan bagian dari ketetapan (ajal) yang telah Allah tentukan dengan penuh hikmah.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kematian mendadak hanyalah istilah menurut keterbatasan pengetahuan manusia, sedangkan di sisi Allah Subhanahu Waatala setiap kematian telah terjadi sesuai ajal yang telah ditetapkan sejak seseorang masih berada dalam kandungan. Karena itu, seorang muslim hendaknya menyikapi setiap kematian dengan sabar, ridha, dan tawakal serta menjadikannya sebagai pengingat untuk senantiasa memperbaiki iman dan memperbanyak amal shaleh, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya akan tiba.***