Hakikat Umur dalam Islam

Senin, 06 Juli 2026 - 11:00:49 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

    MANUSIA  tidak dituntut mencari tahu berapa ‘jatah’ umur yang diberi Allah Subhânahu Wata’âlâ. Dalam menjalani kehidupan yang terpenting bukan kuantitas, melainkan kualitas. Orang terbaik bukan yang panjang umurnya, boleh jadi umur panjang justeru tidak menjadikannya semakin taat dan patuh terhadap perintah-Nya. Kriteria orang terbaik menurut nabi ialah bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. (HR. Thabrani).

Sejatinya setiap diri harus menyadari tujuan hidupnya ialah beribadah. Jika hidup yang dikaruniai tidak lama, namun diisi dengan hal-hal yang bermanfaat jauh lebih baik daripada hidup seribu tahun tanpa ibadah. Imam an-Nawawi rahimahullah tidak lama menikmati hidup di dunia, beliau meninggal pada usia 46 tahun, namun meski demikian ia seolah hidup sepanjang masa. Oleh sebab itu yang dicari dari umur adalah berkahnya. 
Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad berkata:

وَخَيْرُ الْعُمُرِ: بَرَكَتُهُ، وَالتَّوْفيْقُ فِيْهِ لِلْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ، وَالْخَيْرَاتِ الْخَاصَّةِ وَالْعَامَّةِ  

Sebaik-baik umur ialah yang diberkati Allah subhanahu wata’ala, yang diberi-Nya taufiq untuk mengerjakan amalan saleh dan kebajikan-kebajikan lain baik yang khusus maupun yang umum. (Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Sabilul Iddikâr wal I’tibâr bim Yamurru bil Insân wa Yanqadli Lahu minal A’mâr, hal, 47).

Kalimat di atas mengandung pesan yang sangat dalam tentang cara Islam memandang nilai kehidupan. Intinya, kemuliaan umur tidak diukur dari lamanya seseorang hidup, tetapi dari keberkahan yang Allah berikan selama hidupnya. Ibn Athaillah al-Iskandari pernah berkata:

رُبَّ عُمُرٍ اتَّسَعَتْ آمَادُهُ وَقَلَّتْ أَمْدَادُهُ، وَرُبَّ عُمُرٍ قَلَّتْ آمَادُهُ وَكَثُرَتْ أَمْدَادُهُ.

"Betapa banyak umur yang panjang masanya tetapi sedikit manfaatnya, dan betapa banyak umur yang singkat masanya tetapi sangat besar manfaat dan keberkahannya."(Ahmad Razûq, Al-Futûhâtu ar-Rahmâniatu fi halli al-fâzil hikami al-‘Athâ’iyah , 411).

Makna kalimat di atas ialah hakikat kemuliaan umur bukan terletak pada lamanya hidup, tetapi pada keberkahan, amal shaleh, dan manfaat yang ditinggalkan. Pada umumnya seseorang mulai mengisi hari-harinya untuk persiapan hari esok pada usia empat puluh tahunan. Imam Malik berkata: Kami tahu orang-orang yang memasuki umur 40 tahun menyibukkan diri dengan amal dan tidak melihat pada urusan dunia. (Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad, 39).

Ketika seseorang memasuki umur 40 tahun, cara berpikir dan bertindaknya mulai berubah. Di mana setiap sisi-sisi kehidupannya ditata dengan rapi, berpikir lebih bijak dan jernih serta memutuskan segala sesuatu sangat teliti dan bahkan intropeksi diri terus dilakukan. Usia ini disebut dengan usia yang matang (kuhūlah). Al-Quran memberi isyarat keras kepada orang-orang yang telah memasuki fase usia tersebut untuk mengisi hari-hari dengan beribadah.

Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:

حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Apabila telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, “Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Al-Aqāf [46]: 15).

Imam As-Sayuthi berkata: Ayat ini turun kepada Abu Bakar As-Shiddiq sewaktu usianya mencapai empat puluh tahun, sesudah dua tahun Nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul. Lalu ia beriman kepada Nabi saw, lalu beriman pula kedua orang tuanya, disusul kemudian dengan anaknya yang bernama Abdurrahman dan cucunya Atiq. (As-Sayûthi, Tafsîr Jalâlain, 1/668).

Al-Hajjaj bin Abdullah al-Hukmi salah seorang pemimpin Bani Umayyah Damaskus berkata: Aku dahulu meninggalkan maksiat dan perbuatan dosa selama 40 tahun karena merasa malu kepada manusia, lalu kemudian aku pun meninggalkannya karena malu kepada Allah Subhanahu Waatala. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Quran al-Azhim, 7/281. (Taufiq Ali Zabadi, Silsilatu al-Muhaffizati li fi’li al-Khairati, 18).

Ungkapan ini menjelaskan bahwa Al-Hajjaj meninggalkan maksiat dan perbuatan dosa karena ingin menutupi aib di hadapan manusia selama 40 tahun, karena ia merasa apa yang dilakukan itu kurang tepat atau salah sebab berbuat bukan karena Allah Subhânahu Wata’âlâ, lalu kemudian ia pun bertaubat kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ dan meninggalkan dosa dan kemaksiatan karena Allah Subhânahu Wata’âlâ.

Dari penjelasan diatas, maka diambil kesimpulan bahwa rahasia umur bukan terletak pada panjangnya usia, melainkan pada keberkahannya. Islam mengajarkan bahwa yang paling utama adalah mengisi kehidupan dengan ibadah, amal saleh, dan manfaat bagi sesama. Usia 40 tahun menjadi momentum kematangan iman dan kedewasaan spiritual untuk memperbanyak syukur, introspeksi, dan taubat. Semakin bertambah usia, semakin besar pula kesempatan mendekat kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ dan memperbaiki kualitas amal. Karena itu, yang perlu diupayakan bukan mengetahui berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana setiap waktu yang Allah Subhânahu Wata’âlâ anugerahkan menjadi bekal terbaik menuju akhirat.***