Membius Penonton, Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana Rumah Budaya Kacip Tembaga jadi Sorotan di Batam

Selasa, 07 Juli 2026 - 14:02:24 WIB

Penampilan Rumah Budaya Kacip Tembaga di Kenduri Seni Melayu Kota Batam

BATAM--KIBLATRIAU.COM)--Gemuruh tepuk tangan bergema panjang di arena Kenduri Seni Melayu (KSM) Kota Batam Tahun 2026 ketika Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning mempersembahkan pertunjukan Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut I hingga IV pada malam ke empat perhelatan budaya tersebut di Dataran Engku Putri, Batam Centre, Kota Batam, Ahad (5/7/2026) malam.

Selama puluhan menit, panggung megah KSM Batam berubah menjadi ruang yang membawa penonton menelusuri jejak sejarah, kepahlawanan, serta marwah Melayu melalui perpaduan syair klasik, musik, teater, tata cahaya, dan artistik panggung yang memikat.

Pertunjukan yang digarap selama dua bulan itu disutradarai oleh seniman dan budayawan multitalenta Riau, Datuk Zalfandri Zainal, M.Pd, yang akrab disapa Mat Rock Sejangat. Ia juga tampil sebagai pembaca syair dengan karakter vokal khas Melayu lama yang kuat, berwibawa, dan penuh penghayatan sehingga setiap bait syair terasa hidup di hadapan penonton.

Kekuatan musikal dipimpin oleh Ridho Fatwandi, S.Pd, bersama Ibenk Arrekan, Agus, dan rekan-rekan musisi yang menghadirkan harmoni musik Melayu dengan sentuhan dramatik, menjadikan setiap adegan memiliki emosi yang mendalam.

Sementara itu, tokoh Datuk Laksamana Raja Dilaut diperankan secara estafet oleh empat aktor, yakni Wawan Irnawan sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut I, Erwin Syah Putra sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut II, Alfero sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut III, serta Supriandy atau yang akrab disapa Dedek Minah sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut IV.

Pergantian generasi tokoh dalam alur pertunjukan menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan, keberanian, dan perjuangan para Datuk Laksamana dalam menjaga marwah negeri Melayu di pesisir Selat Malaka.

Salah satu daya pikat utama pertunjukan itu hadir melalui teatrikal seni pencak silat Melayu yang menghidupkan sosok empat Datuk Laksamana Raja Dilaut dari generasi pertama hingga keempat. Dengan penghayatan yang kuat, Wawan Irnawan tampil sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut I, menghadirkan sosok pemimpin yang arif dan gagah. Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan Erwin Syah Putra sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut II dengan gerak silat yang tegas, penuh wibawa, dan memancarkan jiwa kepemimpinan seorang laksamana.

Selanjutnya, Alfero memerankan Datuk Laksamana Raja Dilaut III dengan gerakan yang lincah namun berwibawa, sebelum ditutup Supriandy atau Dedek Minah sebagai Datuk Laksamana Raja Dilaut IV yang tampil penuh energi, ketegasan, dan kharisma, seolah menjadi penutup perjalanan sejarah para laksamana yang menjaga marwah negeri Melayu.

Setiap pergantian tokoh diiringi dengan pembacaan Syair yang berkarisma oleh Zalfandri Zainal yang juga sutradara pertunjukan malam itu.

Keempat tokoh tersebut tidak sekadar berakting, tetapi juga menyuguhkan bunga silat Melayu yang anggun, penuh makna, dan sarat filosofi. Setiap langkah, kibasan tangan, putaran tubuh, hingga hentakan kaki berpadu harmonis dengan alunan musik dan lantunan syair, menghadirkan pertunjukan yang memikat mata sekaligus menyentuh rasa. Gerak silat yang ditampilkan Wawan Irnawan, Erwin Syah Putra, Alfero, dan Dedek Minah memancarkan keberanian, kehormatan, kelembutan, serta kewibawaan yang menjadi jati diri pendekar Melayu.

Keindahan koreografi tersebut merupakan buah tangan Tuan Guru Syaiful Bahri bin Rahman dari Dompas, Sungai Pakning, yang dipercaya sebagai penata silat. Dengan sentuhan pengalaman dan pemahamannya terhadap seni bela diri tradisional Melayu, ia berhasil merangkai setiap bunga silat menjadi bagian yang menyatu dengan alur musikalisasi dan teatrikal. Hasilnya, setiap gerakan bukan hanya menjadi tontonan yang indah dan berkelas, tetapi juga menjadi tuntunan yang merepresentasikan nilai-nilai kepahlawanan, adab, serta marwah budaya Melayu yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Penampilan yang dikemas secara berkelas tersebut sukses menuai decak kagum dari para tamu undangan, seniman, budayawan, hingga masyarakat yang memadati arena pertunjukan.


Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Samson Rambah Pasir, mengapresiasi kualitas garapan Rumah Budaya Kacip Tembaga.

"Pertunjukan Kacip Tembaga sangat berkelas, menunjukkan bahwa syair Melayu bukan sekadar warisan sastra, tetapi dapat dihidupkan kembali menjadi pertunjukan panggung yang modern tanpa kehilangan ruh budayanya. Garapannya matang, artistiknya kuat, dan mampu menyentuh emosi penonton,'" ujar Samson.

Apresiasi serupa juga disampaikan Ketua Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Kota Dumai, Datuk Timo Kipda, SH.

"Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning telah memperlihatkan bagaimana warisan budaya Melayu dapat dipentaskan dengan kualitas tinggi. Ini bukan hanya hiburan, tetapi juga pendidikan budaya yang patut diapresiasi dan terus dikembangkan agar dikenal lebih luas oleh generasi muda." Kata Datuk Timo Kipda.

Keberhasilan malam itu bukanlah hasil yang lahir secara instan. Selama dua bulan penuh, para pemain, pemusik, penata artistik, hingga seluruh kru berlatih hampir setiap hari demi menyatukan gerak, rasa, irama, dan penghayatan terhadap naskah Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut.

Lelah, pengorbanan waktu, bahkan tenaga yang tercurah akhirnya terbayar lunas ketika tepuk tangan panjang dan apresiasi penonton mengiringi berakhirnya pertunjukan.

Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning sendiri merupakan wadah pelestarian, pengembangan, dan pembinaan seni budaya Melayu Riau Pesisir yang konsisten melahirkan karya-karya kreatif berbasis tradisi. Selain aktif dalam pementasan seni, lembaga ini juga berperan sebagai penyelenggara berbagai kegiatan kebudayaan, pembinaan generasi muda, pelestarian permainan rakyat, sastra Melayu, hingga menjadi representasi Kabupaten Bengkalis dalam berbagai festival budaya tingkat daerah maupun nasional.

Organisasi ini dipimpin oleh Ketua Datuk Erwin Syah Putra, S.Psi, didampingi Sekretaris Datuk Supriandy, S.Pd, Bendahara Datuk Wawan Irnawan, SE, Timbalan I Datuk Alfero, dan Timbalan II Andhika.

Adapun jajaran Dewan Pendiri adalah Datuk Zalfandri Zainal, sedangkan Dewan Penasehat terdiri atas Datuk Ridho Fatwandi, Datuk Ibenk Arrekan, dan Datuk Ephan Arrahman.

Bagi Rumah Budaya Kacip Tembaga, panggung Kenduri Seni Melayu Batam 2026 bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia menjadi panggung pembuktian bahwa warisan sastra Melayu mampu bertransformasi menjadi karya seni pertunjukan yang megah, menyentuh, sekaligus relevan dengan zaman.

Ketika lampu panggung perlahan padam dan bait terakhir syair selesai dilantunkan, yang tersisa bukan hanya tepuk tangan. Tetapi juga rasa bangga bahwa denyut kebudayaan Melayu masih hidup, terus diwariskan, dan akan selalu menemukan jalannya menuju masa depan melalui tangan-tangan para pegiat budaya yang bekerja dengan hati. (Er)