Miris!! Oknum Pimpinan Ponpes Diduga Cabuli Santri hingga Melahirkan

Rabu, 08 Juli 2026 - 21:44:23 WIB

Pihak kepolisian melakukan pertemuan untuk membahas terkait peristiwa dugaan pencabulan

TELUKKUANTAN--(KIBLATRIAU.COM)--Sungguh sangat miris. Film Walid dari Malaysia yang menceritakan kelakuan bejat oknum pimpinan pondok pesantren yang suka mencabuli santrinya, diduga ada juga di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Diduga ada seorang oknum pimpinan Pondok Pesantren di daerah Kecamatan Singingi Hilir, telah melakukan pencabulan terhadap beberapa santri wanitanya. Parahnya diduga sampai ada yang melahirkan.

Informasi yang diperoleh, Selasa (07/07/2026) malam, sekelompok pemuda mendatangi sebuah rumah warga yang diduga sebagai korban pelecehan seksual seorang oknum kyai pengasuh pondok pesantren berinisial I yang mengelola salah satu Ponpes di salah satu desa di Kecamatan Singingi Hilir.

Kedatangan para pemuda dipicu kabar yang menyebut sedikitnya lima santriwati diduga menjadi korban pencabulan.Satu korban bahkan disebut telah melahirkan beberapa hari lalu.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kemarahan para pemuda muncul karena dugaan pelecehan seksual tersebut selama ini dinilai hanya menjadi pembicaraan tertutup di tengah masyarakat.

Warga maupun keluarga korban disebut memilih diam karena merasa takut dan segan terhadap  yang dikenal sebagai seorang kyai sekaligus tokoh agama.

"Kami panggil tadi malam di rumah salah satu korban. Korbannya yang ini sudah menikah. Malam itu ia mengaku ada lima korban," ujar warga yang minta namanya dirahasiakan, Rabu (8/7/2026).

Sejumlah sumber juga menyebut, salah seorang korban diduga telah mengalami pelecehan seksual sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP).

Namun, dugaan tersebut tidak pernah dilaporkan kepada aparat sehingga hanya berkembang menjadi desas-desus di lingkungan sekitar.

Kasus itu mulai mencuat ketika seorang santriwati berumur sekitar 23 tahun, melahirkan di kamar pondok pesantren tersebut.

Santri wanita itu pun dibawa ke sebuah klinik untuk mendapatkan penanganan medis karena plasenta masih tertinggal di rahim.

Peristiwa itu disebut menjadi titik awal terbukanya dugaan pelecehan seksual yang sebelumnya tertutup rapat.

Awalnya Santri wanita itu dikabarkan enggan mengungkap siapa ayah dari bayi yang baru ia lahirkan.

Namun setelah mendapat desakan, ia akhirnya mengaku bahwa pelaku yang diduga melakukan perundungan adalah oknum pimpinan ponpes itu.

"Kabar santri melahirkan anak oknum pimpinan ponpes itu membuat kami geram dan ingin mengusut masalah ini agar tidak ada korban lainnya," ujar sumber itu.

Pengakuan tersebut juga memunculkan fakta bahwa pencabulan itu terjadi dalam waktu beberapa tahun.

Meski demikian, berdasarkan informasi yang diperoleh, persoalan tersebut kemudian diselesaikan secara kekeluargaan.

Penyelesaian damai itu membuat dugaan kasus tidak berlanjut ke proses hukum dan tetap tertutup dari publik.

Keluarga korban diduga memilih langkah tersebut karena merasa segan dan takut terhadap pengaruh oknum pimpinan ponpes sebagai tokoh agama di lingkungan mereka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian. Saat ini, media ini juga masih berupaya memperoleh konfirmasi dari oknum pimpinan Ponpes itu mengenai tuduhan yang beredar. Namun nomor kontaknya tidak aktif.

Kabarnya oknum pimpinan Ponpes itu akhirnya diamankan di Polres Kuansing.

Kapolsek Singingi Hilir, Iptu Alfredo ketika dihubungi  belum bisa berkomentar, karena masih malangsungkan kegiatan di salah satu desa.

"Belum bisa komentar. Masih acara di Desa, " singkatnya Iptu Alfredo.

Polisi: Kita Tunggu Laporan Korban

Pihak Polres Kuansing melalui Polsek Singingi Hilir, menyebut tetap akan melakukan proses hukum, jika ada laporan dari pihak korban terkait dugaan kasus pencabulan yang diduga dilakukan oleh pimpinan disalah satu Pondok Pesantren, di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Singingi Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing).

Kapolsek Singingi Hilir, Iptu Alfredo kepada media ini, Rabu (08/07/2026) siang menyebut, dengan tidak adanya laporan polisi dari korban, aparat kepolisian menyatakan tidak dapat memproses perkara tersebut lebih lanjut karena sifatnya merupakan delik aduan.

Meski demikian, Polsek Singingi Hilir telah berkoordinasi dengan Polres Kuansing serta instansi terkait guna mengantisipasi perkembangan kasus tersebut. Terkait kabar adanya empat santriwati lain yang menjadi korban terduga pelaku, Iptu Alferdo mengaku akan menyelidikinya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang merasa pernah menjadi korban dengan dugaan peristiwa serupa yang berkaitan dengan terduga pelaku agar tidak ragu melapor ke pihak kepolisian.

"Kami membuka ruang bagi siapa pun yang merasa menjadi korban untuk datang membuat laporan agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.

Menurut Kapolsek, pihak kepolisian juga telah menggelar pertemuan dengan pemerintah desa. Dalam pertemuan itu, pemerintah desa menyerahkan penanganan persoalan sepenuhnya kepada aparat kepolisian.

Masih menurut Iptu Alfredo, pihak Santri yang diduga menjadi korban pelaku hingga melahirkan tersebut, ternyata memilih berdamai dengan pelaku. Dan sudah ada surat perjanjian yang telah di tandatangani oleh terduga pelaku, korban dan keluarga yang bersangkutan.

Salah satu isi perjanjian berbunyi, penyampaian tuntutan setelah di lakukan penyelesaian secara kekeluargaan. Pertanggung jawaban dari pada anak biologis tidak mematok bulanan dan hanya meminta di tanggung jawabi.

Diketahui sebelumnya, Diduga ada seorang oknum pimpinan Pondok Pesantren di daerah Desa Sumber Jaya, Kecamatan Singingi Hilir, telah melakukan pencabulan terhadap beberapa santri wanitanya. Parahnya diduga sampai ada yang melahirkan.

Informasi yang diperoleh Selasa (07/07/2026) malam, Sekelompok pemuda mendatangi sebuah rumah warga yang diduga sebagai korban pelecehan seksual seorang oknum kyai pengasuh pondok pesantren berinisial I yang mengelola salah satu Ponpes di salah satu desa di Kecamatan Singingi Hilir.

Kedatangan para pemuda dipicu kabar yang menyebut sedikitnya lima santriwati diduga menjadi korban pencabulan.

Satu korban bahkan disebut telah melahirkan beberapa hari lalu.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, kemarahan para pemuda muncul karena dugaan pelecehan seksual tersebut selama ini dinilai hanya menjadi pembicaraan tertutup di tengah masyarakat.

Warga maupun keluarga korban disebut memilih diam karena merasa takut dan segan terhadap pelaku yang dikenal sebagai seorang kyai sekaligus tokoh agama.*** (Tim)