Macam-macam Sujud dan Hikmahnya
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
SECARA bahasa sujud (السُّجُوْدُ) bermakna tunduk, merendahkan diri dan meletakkan dahi di atas tanah (bumi). Segala sesuatu orang yang merendahkan diri disebut sujud, seperti kalimat sajadal ba’îru idzâ khofado ro’sahu li yurkaba (unta menundukkan kepada agar bisa dinaiki). Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam, bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan alat bersuci). Sementara masjid adalah tempat sujud anggota-anggota badan. (Ahmad Thom’ah Al-Jamîli, Âyâtussujûdi fil Qur’ânil Karîm, 15).
Dalam Islam, sujud merupakan bentuk penghambaan tertinggi manusia kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ. Anggota tubuh yang paling berharga (bagian kepala) sejajar dengan kaki. Ketika seseorang sedang sujud, harga diri dan kerhormatannya tiada bernilai. Sifat sombong, angkuh dan jumaya lebur seperti buih yang dimpas gelombang. Manusia benar-benar dalam keadaan hina dina dan tidak bernilai. Maka dalam keadaan demikian, seseorang dianjurkan untuk banyak berdoa.
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ إِلَى رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ.
Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda: "Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud. Maka, perbanyaklah berdoa ketika bersujud." (HR. Muslim)
Al-Munâwi dalam Faidhul Qadhîr berkata, ada dua keadaan seorang yang terhitung beribadah, yaitu dalam keadaan sujud, dan di luar sujud. Adapun saat sujud ia berada pada posisi yang paling dekat dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ. Oleh sebab itu, seseorang dianjurkan untuk memperbanyak doa. (Al-Munâwi, Faidhul Qadîr Syarhu Al-Jâmi’ As-Shaghîr, 2/68).
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwasanya ibadah sujud memiliki kedudukan yang istimewa di antara bentuk ibadah-ibadah yang lain. Dalam Islam, sujud dibagi kepada empat macam yaitu: Sujud dalam shalat, sujud sahwi, sujud syukur dan sujud tilawah. (Ridhâlhaq, Ad-Durratul Furdah Syahru Qashîdatil burdah, 2/9).
1.Sujud Shalat
Sujud shalat ialah sebuah gerakan sujud yang dilakukan dalam shalat wajib maupun sunnah. Sujud ini bagian dari rukun yang tidak boleh diabaikan, apabila disegaja ditinggalkan maka shalatnya tidak sah.
Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ
"Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu" (QS. Al-Hajj [22]: 77)
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ جَالِسًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.
Kemudian sujudlah hingga engkau tenang (thuma'ninah) dalam sujud. Lalu angkatlah kepalamu hingga engkau duduk dengan tegak. Kemudian sujudlah kembali hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah demikian pada seluruh salatmu. (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalil di atas ini menjadi dalil bahwa thuma'ninah (tenang sejenak) dalam ruku’ dan sujud merupakan bagian yang wajib dalam shalat, karena Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam memerintahkannya kepada orang yang belum benar shalatnya. (Abu Mâlik Sâlim, Shahîh Fiqhussunah wal Adillatuhu wa taudîhul madzâhibil Arba’ah, 322)
2.Sujud Sahwi
Secara bahasa sahwu (السَّهْوُ) bermakna lupa atau ragu ketika mengerjakan shalat. Menurut hukum fikih, seseorang yang tidak mengingat secara pasti rakaat, atau ada rukun yang tertinggal untuk melakukan sujud di akhir shalat.
Dari Abdullah bin Buhainah:
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُولَيَيْنِ وَلَمْ يَجْلِسْ، فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ
Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam pernah shalat Zuhur bersama mereka. Beliau berdiri setelah dua rakaat tanpa duduk tasyahhud awal. Setelah menyempurnakan shalatnya, beliau melakukan dua kali sujud kemudian salam. (HR. Bukhari dan Muslim)
Secara hukum fikih, sujud sahwi ialah sunnah berdasarkan teks hadis Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam. (An-Nawawi, Al-Majmû’ Syarhul Muhazzab, 5/157)
3.Sujud Tilawah
Secara bahasa tilawah (التِّلَاوَةُ) bermakna membaca atau bacaan. Sujud ini bisa dilakukan di dalam dan luar shalat. Misalnya ketika seseorang sedang membaca ayat sajadah dalam shalat, maka saat itu juga dianjurkan sujud sebagai bentuk penghormataan terhadap perintah Allah Subhânahu Wata’âlâ.
Allah Subhânahu Wata’âlâ berfirman:
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Sesungguhnya yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya mereka segera bersujud dan bertasbih memuji Tuhannya, serta mereka tidak menyombongkan diri. (QS. As-Sajdah [32]: 15)
Dari Abdullah bin Umar, beliau berkata:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقْرَأُ عَلَيْنَا الْقُرْآنَ، فَإِذَا مَرَّ بِالسَّجْدَةِ كَبَّرَ وَسَجَدَ، وَسَجَدْنَا مَعَهُ.
"Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam membacakan Al-Qur'an kepada kami. Apabila beliau melewati ayat sajadah, beliau bertakbir lalu bersujud, dan kami pun bersujud bersama beliau." (HR. Bukhari dan Muslim).
An-Nawawi berkata: Ulama sepakat bahwa hukum sujud tilawah tidak wajib, melainkan sunnah, yaitu bagi pembaca dan yang mendengar. Abu Darda’ pernah shalat bersama Nabi dan sujud tilawah sebanyak sebelas kali, termasuk surat an-Najm. (Tuhfatul Ahwazi bi Syarhi Jâmi’ at-Tarmizi, 3/156).
4.Sujud Syukur
Sujud syukur (الشكر) memiliki persamaan dan perbedaan dari tiga jenis sujud sebelumnya. Adapun persamaan ialah sebagai bentuk ibadah dan penghambaan kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ. Adapun perbedaannya terletak pada sebab yang disyariatkan, yaitu sujud syukur dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah ketika seseorang memperoleh nikmat, karunia, atau kabar yang menggembirakan, maupun ketika terhindar dari musibah atau bahaya. Adapun secara hukum kedudukannya sama dengan sujud tilawah. (Muhammad Shobhî Hallâq, Al-Lubâbu fil fiqhisunnah wal kitab, 196).
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ
Dari Abu Bakrah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Apabila terdapat perkara-perkara yang menyenangkan atau beliau diberi kabar gembira maka beliau bersujud untuk bersyukur kepada Allah. (HR. Abu Daud)
Bila dilihat lebih jauh, ke empat jenis sujud di atas memiliki hikmah yang luar biasa. Sujud dalam shalat meneguhkan hubungan seorang hamba dengan Allah Subhânahu Wata’âlâ melalui ibadah wajib, sujud tilawah mencerminkan penghormatan terhadap firman-Nya, sujud sujud sahwi menunjukkan bahwa syariat Islam memberikan kemudahan dan jalan untuk menyempurnakan ibadah ketika terjadi kekeliruan. Sedangkan syukur menjadi wujud pengakuan atas nikmat dan karunia Allah Subhânahu Wata’âlâ. Semua itu akan melahirkan sikap tawadhu', syukur, ketaatan dan kedekatan kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ.***