Menolong Orang yang Sudah Meninggal

Kamis, 16 Juli 2026 - 10:31:10 WIB

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc Mag

SALAH satu pertanyaan yang kerap muncul dalam benak setiap muslim adalah tentang keadaan orang-orang yang sudah meninggal. Apakah mereka hidup dalam keadaan bahagia atau sengsara? Apakah amal ibadah selama hidup cukup menemani perjalanan yang panjang tersebut atau tidak? Seandainya tidak cukup, lantas apa yang bisa dilakukan oleh ahli keluarga dan sahabatnya di dunia?.

Pada dasarnya pertanyaan semacam itu bukan sesuatu yang tercela atau dilarang. Islam agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia sejak lahir hingga ke akhirat. Oleh karena itu, Islam tidak hanya memberi tuntunan yang bersifat lahiriah (nyata) saja, melaikan juga sesuatu yang bersifat ghaibiyah (gaib) yang akan dihadapi setelah kematian.

Al-Qur’an dan hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam secara umum mengklasifikasi keadaan manusia di alam kubur menjadi dua: Memperoleh kenikmatan atau ditimpa azab. Barangkali jika seseorang berada dalam kenikmatan tidak menjadi beban pikiran ahli keluarga di dunia, sebab balasan amal shaleh telah diterima. Namun tidak dengan sebaliknya, seseorang yang hidup sengsara akibat dosa menjadi buah pikiran bagaimana agar bisa memberi pertolongan.  

Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

ما الْمَيّتُ في القَبْرِ إلاّ كالْغَرِيْق الْمُتَغَوِّثِ يَنتَظِرُ دَعْوَةً تَلحَقُه مِن أبٍ أوْ أُمٍّ أوْ أخٍ أوْ صَدِيقٍ فإذا لَحِقَتْه كانَتْ أحَبَّ إليه مِن الدُّنيا ومَا فيها وإنَّ اللهَ عزّ وجلّ لَيُدخِلُ على أهْلِ القُبُورِ مِن دُعاءِ أهْلِ الأَرْضِ أمْثَالَ الجِبالِ وإنَّ هَديَّةَ الأَحْيَاءِ إلى الأَمْوَاتِ الاِسْتِغفارُ لهم    

Seorang mayat dalam kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang meminta pertolongan. Dia menanti-nanti doa ayah, ibu, anak, dan kawan. Apabila doa itu sampai kepadanya, itu lebih ia sukai daripada dunia berikut segala isinya. Dan sesungguhnya Allah menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung. Adapun hadiah orang-orang yang hidup kepada orang-orang mati ialah memohon istighfar kepada Allah untuk mereka dan bersedekah atas nama mereka. (HR Ad-Dailami).

Orang yang telah meninggal sangat membutuhkan doa dan amal kebajikan dari orang-orang yang masih hidup. Oleh karena itu, hadiah terbaik yang dapat diberikan kepada mayit adalah mendoakannya, memohonkan ampun (istighfar) untuknya, dan bersedekah atas namanya, karena amalan-amalan tersebut bermanfaat dan pahalanya sampai kepadanya.

Amru bin Jarîr berkata: Apabila seorang hamba berdoa untuk saudaranya sudah meninggal maka malaikat berseru: “Wahai penghuni kubur yang tak dikenali, ini hadiah dari saudaramu untuk sebanyak tujuh puluh (kabaikan)”. (Al-Baihaqi, Al-Jâmi’ li Syu’abil Imân, 11/473). Ibnu Taimiyah membenarkan bahwa memerdekakan budak, berdoa dan beristighfar untuk mayit tidak diperselisihkan di kalangan para imam. (Ibnu Taimiyah, Majmû’ Fatâwâ, 24/175).

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwasanya berbuat baik dengan cara menghadiahkan atas nama orang yang sudah meninggal dapat memberi manfaat (pertolongan) kepada mereka. Amal baik yang memberi manfaat tidak sebatas sedekah dan istighfar, bacaan Al-Qur'an dan a amal-amal kebajikan lainnya tidak terdapat perselisihan di kalangan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian pula pahala doa, istighfar (memohonkan ampun), dan shalat jenazah juga sampai kepada mayit berdasarkan dalil-dalil yang telah ditetapkan. (Sayyid Husein Al-Affâni, Sakbul ‘Abarâti lil mauti wal Qabri was Sakarâti, 556). Dengan demikian, dapat kita qiyaskan (analogikan) bahwa segala kebaikan yang diniatkan untuk orang yang sudah meninggal dapat memberi pertolonga kepada mereka.

Menjalin hubungan (silaturrahmi) dengan kerabat dan kawan orang tua kita yang masih hidup termasuk perbuatan baik yang dapat menolong mereka. Hadis Abdullah bin Umar radhiyallahu 'Anhuma Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ

Sesungguhnya termasuk bentuk bakti yang paling sempurna ialah seseorang menyambung hubungan dengan orang-orang yang dicintai (sahabat-sahabat) ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia. (HR. Muslim)

Hadis ini selain menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua tidak berakhir dengan kematian mereka, menyambung silaturahmi dengan sahabat dan orang-orang yang mereka cintai merupakan salah satu bentuk birrul walidain (berbuat baik) yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Waatala.

Kesimpulannya, Islam menganjurkan umatnya untuk terus berbuat baik kepada orang yang telah meninggal melalui doa, istighfar, sedekah, dan berbagai amal kebajikan yang diniatkan untuk mereka. Amalan-amalan tersebut bermanfaat sebagai bentuk pertolongan bagi mayit berdasarkan dalil-dalil syariat dan penjelasan para ulama. Oleh karena itu, hubungan kasih sayang antara orang yang hidup dan yang telah meninggal tetap dapat terjalin melalui doa dan amal saleh yang dihadiahkan kepada mereka.***