Adab-adab di Masjid yang Sering Terabaikan
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ:اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ
الْمُهْتَدِيْنَ ١٨
KAUM Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Dimuliakan Allah Subhanahu Waatala.
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan rasa syukur kehadirat Allah Subhânahu Wata’âla dengan mengucapkan alhmadulillah dan bershalawat dengan lafalallahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, assalamu’alaika ya Rasulullah, mudah-mudahan dengan banyak bershalawat kepada beliau kelak di akhirat kita akan mendapat syafaatnya.
Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri khatib sendiri, dan seluruh jamaah, mari senantiasa kita menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Waatala sampai ajal menjemput. Sebagaimana firman-Nya: “Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (QS. Ali Imran [3]: 102).
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…
Keberadaan masjid di tengah kaum muslimin selain sebagai sarana ibadah, ia merupakan simbol wujud Allah Subhânahu Wata’âla di muka bumi. Seseorang yang merasa berat menghadapi beban hidup, jiwa yang dipenuhi kegersangan spiritual dan jauh dari petunjuk akan mendapatkan kedamaian, ketenangan dan hidayah kala melangkahkan kaki ke masjid. Memasuki masjid tidak sama dengan berkunjung ke tempat lain, ada adab yang harus dijaga, yaitu menjaga kesucian pakaian dan badan.
Allah Subhânahu Wata’âla berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
"Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid." (QS. Al-A’raf: 7:31).
Secara zhahir ayat di atas merupakan perintah memilih pakaian terindah saat ke masjid, sebab Allah Subhanahu Waatala indah dan menyukai keindahan. Selain pakaian, seseorang harus memastikan anggota badanya bersih.
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ: «مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ - يَعْنِي الثُّومَ - فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا»
Dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya Rasulullah Ahallahu ‘Alaihi Wassalam ketika di perang Khaibar, beliau bersabda: Barang siapa yang memakan dari pohon ini yaitu bawang putih, maka janganlah mendekati masjid kami. (HR. Muttafaq Alaihi).
Sebenarnya larangan itu bukan tertuju kepada suatu kasus seperti bawang putih, akan tetapi sesuatu yang dapat mendatangkan aroma tidak sedap harus dijauhkan baik selama berada di masjid maupun seperti pakaian yang sudah berkeringat, bernajis, berdebu, tercemar asap motor, dan aroma-aroma tak sedap lainnya. Makna di balik itu, kala seseorang ke masjid hendaknya berpakaian rapi dan wangi.
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…
Selain itu, adab di masjid ialah mendahulukan kaki kakan saat masuk dan kaki kiri ketika keluar sembari membaca doa.
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَقُولُ: «بِسْمِ اللّٰهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ ، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ» ، وَإِذَا خَرَجَ قَالَ: «بِسْمِ اللّٰهِ، وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللّٰهِ، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»
Dari Fatimah bin Rasulillah berkata, apabila Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam masuk masjid membaca doa, dengan menyebut nama Allah dan keselamatan kepada Rasulullah, Ya Allah ampunilah dosaku dan bukakan untukku pintu rahmatmu. Dan apabila keluar beliau membaca, dengan menyebut nama Allah serta keselamatan bagi Rasulullah, Ya Allah ampuni dosa-dosaku dan bukan untukku pintu-pintu karuniamu. (HR. Ibnu Majah).
Berangkat dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa memuliakan rumah Allah Subhânahu Wata’âla ialah dengan menjaga adab saat masuk dan keluar. Terkadang betapa sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seseorang yang masuk dan keluar masjid tidak mengikuti sunah Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam, tidak membaca doa dan memperhatikan kaki mana yang harus didahulukan.
Kaum Muslimin Sidang Jama’ah Shalat Jum’at yang Berbahagia…
Ketika seseorang datang ke sebuah istana raja yang megah, tentu ia akan memberi berbagai macam penghormatan sebelum masuk. Mungkin saja penghormatan itu meletakkan tangan di dada, memberi hormat, melambaikan tangan, membungkukkan badan dan bahkan mungkin bersimpuh sujud. Hal itu dilakukan untuk memuliakan pemilik istana.
Memuliakan baitullah juga sama halnya. Sebelum duduk, hendaklah seseorang mengerjakan shalat sunah dua rakaat sebagai tanda penghormatan. Shalat itu disebut dengan shalat tahiyatul masjid. Saat Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam khutbah, beliau menegur seseorang yang langsung duduk sesaat berada di masjid.
Rasulullah Shallahu ‘Alahi Wasallam bersabda:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللّٰهِ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ وَالنَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ « أَصَلَّيْتَ يَا فُلاَنُ » . قَالَ لاَ . قَالَ « قُمْ فَارْكَعْ »
Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia berkata, ada seseorang yang datang dan saat itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at. Nabi bertanya padanya (di tengah-tengah khutbah), “Apakah engkau sudah shalat wahai fulan?” “Belum”, jawabnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan, “Berdirilah, shalatlah.” (HR. Bukhari).
Imam as-Syafi’i dan Ahmad berpijak dengan dalil ini bahwa sunah shalat dua rakaat merupakan penghormatan untuk masjid. (Muhammad al-Kaurani, al-Katsarul Jari ila Riyâdhi Ahâdtsi al-Bukhâri, 3/48).
Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa memuliakan masjid merupakan bagian dari memuliakan syiar Allah Subhanahu Waatala. Hal itu diwujudkan dengan menjaga adab ketika memasukinya, seperti datang dalam keadaan suci, berpakaian rapi dan bersih, menjaga kebersihan tubuh dan aroma, mendahulukan kaki kanan, membaca doa masuk dan keluar masjid, melaksanakan shalat tahiyatul masjid, serta menghindari segala sesuatu yang dapat mengganggu kekhusyukan jamaah lainnya. ***
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم