Pemilik Peternakan Ayam Potong Janji Perbaiki Pengelolaan Kandang
Ketua RW, masyarakat, dan pemilik usaha, kecamatan melakukan monitoring serta klarifikasi langsung di lokasi guna mencari solusi atas persoalan yang telah lama dikeluhkan warga.
PEKANBARU--(KIBLATRIAU.COM)-- Keluhan warga Jalan Jati Jajar I, Kelurahan Sialangrampai, Kecamatan Kulim terkait serangan lalat yang diduga berasal dari aktivitas peternakan ayam potong mendapat tindak lanjut dari Pemerintah Kecamatan Kulim, Senin (27/7/2026).
Bersama pihak kelurahan, Ketua RW, masyarakat, dan pemilik usaha, kecamatan melakukan monitoring serta klarifikasi langsung di lokasi guna mencari solusi atas persoalan yang telah lama dikeluhkan warga.
Dari hasil monitoring lapangan, peternakan ayam yang menjadi perhatian masyarakat diketahui berada di Jalan Lintas Timur KM 16,5 RT 04 RW 06, Kelurahan Sialangrampai, Kecamatan Kulim. Usaha tersebut dimiliki oleh Nasir yang juga berdomisili di sekitar lokasi peternakan.
Dalam proses klarifikasi, pemilik usaha mengakui bahwa populasi lalat cenderung meningkat pada masa panen maupun setelah panen. Kondisi itu, menurutnya, dipicu oleh aktivitas penangkapan dan pengangkutan ayam, pembersihan kandang serta penyemprotan yang dilakukan setelah kandang dikosongkan.
"Sebagai pemilik kandang kami menerima laporan dari masyarakat, dan kami akan mengupayakan yang terbaik agar lalat tidak mengganggu warga," ujar Nasir.
Nasir mengatakan, berbagai upaya pengendalian telah dilakukan, mulai dari penggunaan obat pengendali lalat hingga pembersihan kandang secara rutin untuk menekan perkembangan populasi lalat.
"Obat lalat dan pengelolaan limbah kami upayakan semaksimal mungkin untuk menekan populasi lalat, terutama saat proses pembersihan kandang," sebut Nasir.
Nasir menjelaskan, saat ini kapasitas kandang yang dikelolanya sekitar 3.500 ekor ayam. Menurutnya, kebersihan kandang menjadi perhatian utama karena rumahnya juga berada di dekat lokasi peternakan.
"Kalau kebersihan kami usahakan sebaik mungkin karena rumah saya juga di sebelah kandang. Jadi kami juga berkepentingan menjaga lingkungan tetap bersih," urai Nasir.
Sementara itu, Kasi Ketenteraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Kulim, Riko, mengatakan bahwa monitoring dilakukan sebagai tindak lanjut atas laporan masyarakat mengenai gangguan lalat yang dirasakan warga.
"Hari ini kami turun bersama pihak kelurahan, Ketua RW, masyarakat, dan pelaku usaha untuk menyikapi laporan tersebut. Dari penjelasan pemilik usaha, memang sudah ada upaya pengendalian menggunakan obat lalat. Namun, kami meminta agar langkah itu lebih dimaksimalkan sehingga dampaknya terhadap masyarakat bisa jauh berkurang," terang Riko.
Menurut Riko, berdasarkan hasil klarifikasi, kemunculan lalat memang meningkat saat proses panen dan pembersihan kandang berlangsung. Meski demikian, pelaku usaha diminta meningkatkan langkah-langkah pencegahan agar populasi lalat tidak menyebar ke permukiman.
"Berdasarkan informasi yang kami peroleh, lalat meningkat ketika proses panen dan pencucian kandang. Hal itu memang tidak bisa dipungkiri. Karena itu kami menekankan agar penyemprotan dan pengendalian dilakukan lebih maksimal sehingga lalat tidak berkembang semakin banyak," ujarnya.
Berdasarkan laporan hasil monitoring, masyarakat pada prinsipnya menerima penjelasan yang disampaikan oleh pemilik usaha. Namun, warga tetap berharap pengendalian bau dan lalat dilakukan lebih optimal sehingga dampak yang dirasakan masyarakat dapat berkurang secara signifikan.
Selain meminta peningkatan pengendalian dampak lingkungan, Pemerintah Kecamatan Kulim juga mengimbau pelaku usaha untuk terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pengurus RT, RW, Kelurahan Sialangrampai, serta pihak kecamatan.
" Langkah tersebut dinilai penting agar setiap persoalan yang muncul dapat segera ditangani melalui dialog dan koordinasi, sehingga tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh masyarakat," tutur Riko.***