Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah Kemajuan Sains dan Teknologi
Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Oleh: Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
Di TENGAH pesatnya perkembangan sains dan teknologi, akses informasi semakin mudah diperoleh. Dalam hitungan detik, seseorang bisa membaca jurnal berskala internasional, mengikuti perkuliahan dari berbagai belahan dunia dan menambah wawasan melalui platform media sosial. Anak-anak yang tumbuh di era ini cenderung lebih cerdas dalam memahami pelajaran yang notabene sulit. Di sisi lain tugas para pengajar semakin ringan, mereka tidak harus menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan untuk menyusun bahan ajar, cukup memiliki media seperti laptop, smartphone dan sejenisnya semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat.
Kemajuan sains dan teknologi membawa angin segar bagi dunia pendidikan, karena sebagian besar generasi muda cerdas secara kognitif. Namun tanpa disadari ada sesuatu yang missing (hilang) dari diri mereka, yaitu kepekaan terhadap orang lain. Hal itu tercermin dari sikap yang dingin dan perilaku acuh saat berpapasan dengan guru atau orang yang lebih dewasa. Kecerdasaan yang dimiliki tidak mampu melahirkan adab dan etika yang baik. Maka di sini perlu ditekankan adab jauh lebih penting dari kecerdasan.
Para ulama berkata:
تَأَدَّبْ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ، فَإِنَّكَ لَنْ تَنَالَ مِنَ الْعِلْمِ طَرَفًا إِذَا لَمْ تَنَلْ مِنَ الْأَدَبِ أَطْرَافَهُ
Beradablah sebelum engkau menuntut ilmu. Sebab, engkau tidak akan memperoleh bagian dari ilmu apabila engkau belum memperoleh bagian dari adab. (Fâtimah Sâmî, Taaddab qobla an Ta’allam, hlm 25).
Ungkapan di atas sebagai teguran keras atas orang-orang yang hanya mementingkan ilmu tanpa memperhatikan adab. Karena seseorang yang sudah tersentuh nilai-nilai kebaikan jauh lebih baik dari sekedar memiliki pengetahuan luas. Hari ini negara kita tidak kekurangan orang cerdas, kampus-kampus melahirkan ratusan professor dan ribuan doktor tiap tahunnya, prestasi dan penghargaan diraih dengan mudah. Namun kehidupan sosial dan hubungan antarsesama justeru bertolak belakang. Bahkan semakin cerdas seseorang sikap tidak peduli kian terasa. Maka oleh karena itu, tujuan sebuah pendidikan di samping mencerdaskan juga peduli terhadap sesama.
Salah satu tujuan utama di balik pengutusan Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menciptakan manusia yang berakhlak baik, pandai menghargai dan menghormati. Sikap itu dapat ditunjukkan melalui tidak tebang pilih dalam bermuamalah. Orang arab jahiliyah enggan duduk dengan kaum proletar atau kalangan budak, sebab di mereka dianggap kasta kedua. Itu sebab, misi utamanya adalah menanamkan paham egaliterisme dalam segala hal melalui instrumen akhlak mulia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (HR. Ahmad).
Mengapa harus akhlak? Mengapa tidak memperbaiki sistem ekonomi dan sistem pertahanan negara?. Karena semua itu tidak ada artinya bila tidak beradab. Orang-orang yang tidak beriman mampu menjadi ahli ekonomi, hebat dalam merancang pertahanan negara dan cakap dalam berdiplomasi, namun jauh dari sikap tenggang rasa justeru menimbulkan perpepacah yang jauh lebih besar dari peperangan. Oleh sebab itu, para ulama terdahulu mempelajari abad dalam kurun waktu yang Panjang.
Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:
تَعَلَّمْنَا الْأَدَبَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَتَعَلَّمْنَا الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً
"Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, kemudian kami mempelajari ilmu selama dua puluh tahun. (Muhammad Uwaid Abdul Fattah, Dustûrul Hadhârah, 130)
Makna tiga puluh tahun memperlajari adab merupakan metofor untuk orang yang ingin menuntut ilmu, jangan hanya mementingkan pengetahaun. salah satu bentuk adab dalam kehidupan nyata ada tenggang rasa atau menghargai orang lain.
Selain itu, karakter yang lahir insan adabi (yang beradab) ialah dermawan. Dermawan dalam artian yang luas bukan sekadar senang memberi, akan tetapi ramah, santun dan menyukai sesuatu yang baik. Sifat ini di antara budi pekerti yang disukai Allah subhânahu wata’âla.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «إِنَّ اللّٰهَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلَاقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
Dari Sahi bin Sa'ad As-Sa'idi, bahwa dia pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah Maha Dermawan dan menyukai kedermawanan, menyukai akhlak yang mulia, dan membenci akhlak buruk. (HR. Hakim)
Hadis ini tidak sekadar memerintahkan manusia untuk berakhlak baik, tetapi menjelaskan bahwa akhlak mulia adalah sesuatu yang dicintai Allah. Seorang mukmin hendaknya menjadikan kecintaan Allah sebagai standar dalam membentuk kepribadiannya. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi manusia yang memiliki sifat kedermawanan yang dicintai oleh Allah Subhanahu Waatala.
Aplikasi sifat kedermawanan tercermin dalam tindakan mendahulukan orang lain. Dewasa ini banyak orang cerdas kognitif tapi enggan memberi kesempatan kepada orang lain. Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dikenal hingga hari ini suka memberi kesempatan orang lain walau sejatinya mereka butuh.
Allah subhânahu wata’âla berfirman:
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۗ ٩
Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. (QS. Al-Hasyar [59] 9),
Dari Abu Hurairah radhiyallâhu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, : "Aku benar-benar ditimpa kesulitan (kelaparan)." Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirim utusan kepada istri-istri beliau, namun mereka menjawab, "Kami tidak memiliki apa pun selain air."
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Siapa yang akan menjamu orang ini?"
Seorang laki-laki dari kalangan Anshar berkata, "Saya." Kemudian ia membawa tamu itu ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, "Muliakanlah tamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam." Istrinya menjawab, "Demi Allah, kita tidak memiliki apa-apa selain makanan untuk anak-anak." Suaminya berkata, "Alihkan perhatian mereka. Jika mereka meminta makan malam, tidurkanlah mereka. Bila tamu masuk, padamkan lampu, lalu buatlah seolah-olah kita juga sedang makan." Maka mereka pun melaksanakan hal itu. Tamu tersebut makan hingga kenyang, sedangkan keduanya bermalam dalam keadaan lapar.
Ke esokan paginya laki-laki itu datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda: "Sungguh Allah tertawa (atau kagum) terhadap perbuatan kalian berdua malam tadi."(Nâshir bin Ali Hasan Syekh, Aqîdatu Ahlisunnati fis shahâbatil kirâm, hlm 145).
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam menempatkan adab di atas ilmu, karena tujuan utamanya bukan hanya melahirkan manusia yang cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan memiliki sifat dermawan. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan sejati diukur bukan hanya dari prestasi akademik, melainkan dari lahirnya insan yang menghormati orang lain, gemar berbagi, mendahulukan kepentingan sesama serta menjadikan akhlak sebagai landasan dalam setiap aspek kehidupan.***